Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
169. Jangan Pernah Begitu Lagi


__ADS_3

Author POV


"Maaf... Maaf karena waktu itu aku membohongimu." Ucap Uta menatap Alber dengan segala sesal.


"Aku balikan dengan Kak Felix itu ... itu semua bohong. Aku bahkan gak pernah berkomunikasi dengannya setelah Kak Felix wisuda. Aku juga gak pernah terpikir balikan dengan Kak Felix." Ucapnya mengakui kebohongan yang ia buat dulu.


"Itu cuma alasanku biar kamu menjauh. Aku membohongimu 6 tahun lalu. Maaf ..." Ucapnya menyesal.


"Kenapa?" Satu kata dari Alber namun efeknya begitu dahsyat bagi Uta.


"Aku ... Aku gak ingin kamu berkelahi karena membela aku. Aku gak rela kamu berubah menjadi monster. Alber yang aku tau, adalah laki-laki yang baik. Aku akan merasa bersalah kalau sampai hal itu berubah." Ucap Uta jujur akan niatnya kala itu.


"Jadi aku berbohong waktu itu. Maaf ... kamu boleh marahin aku. Aku gak akan protes." Ujarnya membujuk Alber usai berkata jujur. Alber mengangkat satu tangannya. Uta yang takut Alber hendak memukulnya karena terlampau marah saat tau dibohongi bertahun-tahun, refleks menutup mata.


Namun dugaan itu sirna saat Alber melakukan hal lain.


"Good girl." Ucap Alber sembari membelai lembut pucuk kepala Uta, membuat gadis itu membuka matanya.


"Aku gak mungkin mukul kamu. Kamu lecet aja gak boleh, apalagi aku pukul. Mana rela aku." Ucap Alber masih membelai surai indah Uta.


"Ka ... kamu gak marah?" Tanya Uta masih khawatir. Alber menggeleng enteng.


"Lebih tepatnya, aku udah tau." Jawab Alber kemudian.


"Ma ... maksudnya apa?" Uta tentu bingung dengan maksud Alber. Alisnya hampir menyatu karena bingung dan Alber menikmati itu.


Flashback starts


Alber POV


1 tahun yang lalu........

__ADS_1


Hari itu aku harus mewakili Farabaks Group dalam salah satu acara perkumpulan pengusaha di Singapura. Babam mengirimku agar aku bisa menambah pengalaman dan melebarkan koneksi.


Ada beberapa pengusaha sukses dari Indonesia juga di acara itu. Namun diantara para pengusaha itu, ada satu orang yang membuatku tertegun. Felix ada disana. Sama sepertiku, ia berdiri disana mewakili Dwinson Corp.


Melihatnya membuatku otomatis teringat Uta. Laki-laki yang memenangkan hati gadis yang kusuka disini saat ini. Satu-satunya pria yang bisa membuatnya bahagia berdiri dihadapanku sekarang.


"Anda juga hadir tuan Alber?" Felix menghampiriku disela-sela tamu yang datang. Ia sengaja menyapaku dengan bahasa formal agar tak menarik perhatian yang lain.


"Ya." Jawabku singkat. Aku malas berbicara dengannya.


"Bagaimana kabar Uta?" Tiba-tiba saja ia berucap seperti itu.


DEG ...........


Kenapa laki-laki ini menanyakan kabar Uta? Bukankah mereka kembali berpasangan? *Alber


"Apa maksud anda bertanya kabar Uta?" Tanyaku berusaha setenang mungkin. Aku tidak ingin ia tau keterkejutan saat ini. Selain itu, aku tak ingin Uta malu, jika Felix sampai tau kebohongannya ini.


"Jangan salah paham tuan. Saya hanya sekedar bertanya kabar saja, tak ada maksud lain. Sudah lama saya tak bertemu Uta. Terakhir saat wisuda angkatan saya." Jawabnya dengan senyum seolah kembali ke masa itu.


Apa maksudnya? Bukankah mereka kembali jadian, tak jauh setelah wisuda Felix? Mungkinkah...? Mungkinkah Uta membohongi ku? Tapi untuk apa? Untuk apa dia sampai berbohong berbalikan dengan Felix? *Alber


"Lama juga kalian tak berkomunikasi. Sekitar lima tahun terhitung sejak wisuda anda." Ucapku berusaha memancing informasi lebih dalam.


"Ya, begitulah. Saya pasti akan sangat senang jika kesempatan itu ada. Sayangnya, Uta menutup segala akses komunikasi itu." Jawabnya dengan nada sesal. Dan aku tak suka itu.


Tak lama sekertaris Felix mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.


"Sepertinya saya ada urusan lain. Saya pamit undur diri tuan Alber." Ucap Felix padaku.


"Ya tuan Felix." Jawabku padanya. Ia lalu langsung pergi terburu-buru meninggalkan gedung acara.

__ADS_1


Tapi aku tak perduli dengan kepergiannya itu. Yang menjadi fokusku adalah fakta yang baru kutahu setelah 5 tahun lamanya. Fakta bahwa Uta tak kembali berpacaran dengan Felix.


Timbul secercah harapan. Aku bertekad akan mencari keberadaan Uta sekali lagi.


Gadis dasi, aku akan mendapatkanmu. Hingga saat itu tiba, kau tak akan bisa lari lagi. Aku pastikan itu. *Alber


Flashback ends


Author POV


"Aaaaaaaaaa aku maluuuuu......." Ucap Uta menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"He ... he ... he ..." Alber terkekeh melihat tingkah gadis gemas itu. Diraihnya kembali tangan Uta, membuat mata Uta menatap matanya.


"Aku tau maksud kamu baik. Tapi aku mohon, jangan pernah begitu lagi. Jangan pernah mengatakan suka pada laki-laki lain lagi." Ucap Alber menatap dalam-dalam Uta. Di genggamnya lebih erat jemari lentik itu.


"Janji?" Pinta Alber.


"Ya, aku janji." Jawab Uta menganggukkan kepala.


"Pacar aku, good girl." Ucap Alber membelai lembut surai hitam gadisnya. Uta yang merasa di perlakukan bagai anak kecil, sengaja memasang wajah kesal.


"Aku bukan anak kecil..." Protes Uta.


"Aku bukan Putri." Ucap mereka bersamaan. Alber seperti bisa membaca lanjutan ucapan Uta.


"Wkwkwkwkwkw..." Mereka terdiam sesaat lalu kemudian tertawa bersama.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2