Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
174. Surprise


__ADS_3

Author POV


Dua hari yang lalu Uta menghadiri wisuda kelulusan Tama. Mamah Celine dan Reta juga turut hadir dan duduk di kursi undangan bersama Uta. Bagi Reta, Tama sudah seperti adik sendiri.


Uta bangga pada adik semata wayangnya itu. Tama menjadi siswa lulusan terbaik di SMA nya. Oleh karena itulah, ia menjadi mahasiswa undangan di ZEUN Jakarta (ZEROIND University 😁).


Alber mengirimkan hadiah untuk kelulusan Tama. Sebuah laptop terkenal, dengan merek buah yang digigit menjadi bekal untuk kuliah Tama dari Alber. Tak hanya Tama, Alber juga mengirim bunga untuk Uta dan Mamah Celine di hari wisuda itu, membuat Uta tersipu malu di goda Reta habis-habisan.


Mereka lalu foto bersama sebagai kenang-kenangan. Tama yang dulu sangat sedih harus pindah, kini bersyukur karena memiliki pengalaman dan teman yang lebih banyak lagi. Dirinya tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan cerdas. Uta ikut bersyukur untuk adik tersayangnya itu.


..._____________ Z _____________...


Sudah 4 hari Uta LDR-an dengan Alber. Mereka yang biasanya intense berkomunikasi lewat chat dan video call, seminggu ini agak berbeda. Seminggu ini, Alber mendadak jarang sekali membalas chatnya. Alber yang biasanya selalu menelponnya, semenjak LDR jadi sulit dihubungi. Terakhir komunikasi mereka hanya soal hadiah Tama.


Setelah itu Alber bagai menghilang, membuat Uta merasa galau. Tapi dirinya tetap berusaha positif thinking, barangkali Alber sangat sibuk sehingga tak bisa menghubunginya.


Gadis itu berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain. Hari ini rencananya dia akan mempersiapkan surprise untuk ulang tahun Reta besok.


Dirinya sudah memesan kue ulang tahun dan puluhan cupcake untuk acara besok. Tak lupa Uta memesan bunga favorit Reta sahabatnya itu.


Beberapa pegawai usahanya juga membantu mendekor salah satu ruangan di kantor, untuk memberikan Reta surprise esok. Selama ini Reta memang sudah dikenal baik oleh para pegawainya, sebab Reta belakangan ini membantu usaha Uta lebih berkembang.


Mamah Celine juga sibuk didapur. Beliau memasak makanan dalam jumlah besar untuk besok. Untuk urusan yang satu ini, Mamah Celine tidak berbohong. Beliau memang meniatkan untuk syukuran Tama sekaligus ulang tahun Reta. Namun Mamah Celine hanya mengatakan bagian tasyakuran Tama saja, makanya Reta tak curiga.


Setelah persiapan dirasa matang, Uta tinggal menunggu hari esok untuk menjalankan aksinya. Tak sabar melihat ekspresi terkejut Reta besok, pikir Uta.


Keesokan harinya, Kia memberi tahu Uta bahwa ada sedikit kendala. Pihak kue mengabarkan ada keterlambatan atas kue dan cupcake yang Uta pesan. Sekitar 5 jam lagi baru siap diantar. Bunga juga begitu, bunga khusus yang Uta pesan stoknya tak cukup. Baru dicarikan stoknya hari ini dan kemungkinan besar akan telat.


Uta panik, ia khawatir surprise untuk Reta gagal. Ia harus mencari alasan agar Reta tak pergi ke kantor.


"Ta, Mamah jadi kan bikin syukuran kecil-kecilan buat Tama." Tiba-tiba Reta menghampiri Uta di kamarnya.

__ADS_1


"Ja .. jadi Re, kenapa?" Jawabnya gugup. Gadis yang baru saja ditelpon Kia sontak terkejut Reta datang. Ia takut Reta mendengar percakapannya dengan Kia.


"Kok gue kepengen seenggak-enggaknya lebih rapi gitu. Kesalon yok Ta. Skalian spa kita. Badan biar relex nih." Ajak Reta tumben begini.


"Ngapain pake ke sa ..." Uta yang hendak menolak kesalon, mendadak berubah pikiran. Ini ajakan yang bagus untuk menahan Reta tak ke kantor hingga waktu kue siap.


"Ayok! Ayok Re. Gue juga mikirnya gitu tadi. Untung lo ajak. Yok." Ajak Uta dengan senyum lebar. Satu masalahnya terselesaikan.


..._____________ Z _____________...


Uta menahan kesabarannya mengikuti treetment yang sebenarnya ia tak terlalu suka. Mulai dari pijat dan spa, perawatan rambut, manicure, padicure hingga make up dan hairdo simple.


"Re ngapain gue pake di make up-in segala sih? Terus ngapain pake di hairdo begini? Emang kita mau kondangan? Kan kita-kita aja Re yang hadirin syukuran Tama. Kenapa mesti seribet ini sih?" Protes Uta merasa ini sudah dilevel berlebihan.


"Sekali-kali Ta. Tapi ya kalau lo udah bosen, kita pulang aja sekarang." Ucap Reta langsung ingin bangkit dari tempat duduk.


"Eh .. jangan-jangan!! Gue aslinya tuh seneng. Kapan lagi kita perawatan total gini kan bestie. Entar-entar aja pulangnya." Uta buru-buru menahan tangan Reta. Belum waktunya mereka pulang. Kia belum memberi kabar kondisi aman.


"Sibuk kali Re. Alber emang sering kali ada urusan perusahaan yang dia mesti tangani langsung." Uta berusaha menutupi hatinya yang galau.


"Iya juga sih, Farabaks Group kan perusahaan raksasa. Kadang gue mikir, gila juga tuh si Alber, masih muda udah menahkodai perusahaan segede itu."


"Makanya dia sibuk banget." Ujar Uta berlagak tenang, padahal hatinya juga bertanya-tanya. Kenapa Alber berubah drastis seminggu ini?


"Tapi ya Ta, masa iya sih Alber sesibuk itu sampe gak bisa nelpon sama sekali. Udah gak nganter lo kesini, gak ngehubungin pula. Atau jangan-jangan ..." Ucap Reta menggantung


"Jangan-jangan apa Re?" Tanya Uta mulai goyah.


"Jangan-jangan si Alber ada yang lain, alias selingkuh?" Ucap Reta mulai menduga-duga.


"Ya ampun Re, jangan aneh-aneh ah, gak baik berprasangka yang enggak-enggak kalau gak ada bukti." Jawab Uta berusaha berpikir logis. Meski gundah, tapi ia tetap tak suka menuduh kekasihnya itu tanpa bukti.

__ADS_1


"Ya habis dia cuek begitu. Laki-laki kalo udah ada yang baru mah, bakal masa bodo sama yang lama." Ucap Reta dengan nada yakin.


"Lo bikin gue jadi takut aja Re." Uta mulai deg-degan, apalagi ia mudah sekali merasa insecure.


"Bukan nakut-nakutin Ta, cuma jaga-jaga aja. Si Alber kan gantengnya gak ketolongan. Harta gak usah ditanya. Apa gak cewek-cewek pada klepek-klepek sama tuh orang." Ucap Reta mengutarakan fakta, membuat Uta semakin galau.


"Tapi mudah-mudahan, jangan sampe sih." Jawab Reta menenangkan Uta.


Selesai perawatan, Uta dan Reta kemudian pulang. Kia juga sudah mengabarkan kue dan bunga sudah tiba dirumah. Uta sudah tak sabar pulang. Ia sudah sedari tadi tak betah dengan rangkaian perawatan ini. Terlebih hatinya kian nelangsa mengingat Alber.


Mereka pulang dengan wajah sudah di make up glowing dan rambut ditata rapi seperti layaknya kakak-kakak pramugari. Entah berapa kali Uta hendak menghapusnya karena tak pede dilihat anak-anak nanti, tapi Reta selalu menahannya. Reta bilang Uta harus rapi di syukuran Tama. Biar nanti saat foto bareng cantik maksimal. Mau tak mau Uta menurut agar Reta tak curiga.


Mereka pun belok ke jalan menuju rumah Uta. Namun ada hal yang membuat kedua gadis itu kaget.


"Re kok rumah banyak orang?" Uta tampak kaget begitu banyak orang mengerumuni rumahnya. Belum lagi mobil berjejer di pinggir jalan. Ia jadi khawatir terjadi sesuatu pada Mamah Celine dan Tama.


"Iya ya Ta? Kok rame ya? Kia gak ada ngasih info gitu? Teman-temannya Tama mungkin ya?" Tanya Reta juga ikut bertanya-tanya.


"Tapi ya Re, kalaupun teman Tama, gak mungkin banyak mobil gitu Re." Ucap Uta yang membuat Reta mengangguk.


"Buruan deh kita turun Ta, gue jadi khawatir." Ucap Reta jadi ikut panik. Mereka berdua buru-buru turun dari mobil dan berjalan kearah rumah.


"Uta." Panggil seseorang membuat langkah Uta terhenti.


"Ka... Kak Syiba?"


"Ikut Kak Syiba sekarang." Syiba lalu menarik tangan Uta.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...

__ADS_1


❤ ZEROIND


__ADS_2