![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Apa kamu kurang nyaman? Mau pindah aja ke restoran lain?" Tanya Alber menyadari Uta yang agak tidak nyaman.
"Eh ... gak usah!! Ini aku mau makan." Ucap Uta langsung menyambar sendok untuk mencicipi kuah ramen yang lezat itu. Uta tak ingin berpindah restoran, sebab makanan yang terhidang jatuhnya akan mubazir. Di tempat lain pun kemungkinan besar orang-orang akan bereaksi seperti itu. Jadi percuma saja pindah restoran. Selama masih berjalan bersama Alber, reaksi khususnya kaum hawa rasa-rasanya pasti akan seperti itu.
Seusai menyeruput kuah, Uta langsung tertuju pada makanan. Rasa ramen yang benar-benar enak, membuatnya lupa dengan situasi yang sempat membuatnya tak nyaman tadi. Diletakkannya sendok kemudian meraih sumpit untuk memakan mie dan topping ramen yaitu daging dan kawan-kawan. Uta mulai enjoy dengan makanan dan sudah tak perduli dengan orang-orang yang terus saja melihat mereka sambil berbisik-bisik.
Pelayan datang mengantarkan makanan sekali lagi ke meja mereka. Mulai dari karage, tempura, gyoza dan tak lupa tamago. Uta sampai terdiam melihat meja mereka. Bagaimana tidak, seluruh menu yang di pesanan porsinya bukan kaleng kaleng. Semua terhidang dalam porsi jumbo.
Gadis itu mulai pusing, bagaimana mereka akan menghabiskan makanan itu? Tapi saat dia melihat Alber, laki-laki itu malah tampak santai-santai saja. Ramen porsi jumbo di hadapannya sudah 3/4 mangkok habis. Gyoza yang ukurannya lumayan besar pun ia comot dalam satu gigitan. Ketenangan segera menyergap perasaan Uta. Tampaknya mubazir kemungkinan besar tak terjadi.
Uta kembali meraih sumpitnya dan mengambil sepotong tempura yang menarik perhatiannya. Dari semua side dish yang dihidangkan, tempura yang paling tampak menggiurkan di matanya.
"Uwaw ..." Gumamnya karena rasa tempura udang itu benar-benar crispy dan enak. Tempura sendiri adalah sejenis gorengan khas Jepang berbalut adonan yang terbuat dari campuran tepung terigu, air dingin, dan telur yang diaduk menjadi satu. Sedangkan bahan dasar tempura sangat beragam, misalnya sayuran, cumi-cumi, ikan-ikan kecil maupun udang seperti yang Uta makan.
Melihat itu, Alber sengaja menggeser wadah berisi tempura yang berada di dekatnya ke arah Uta. Mereka menikmati makan sore menjelang malam mereka dengan nikmat. Keduanya akhirnya berhasil menghabiskan makanan yang sudah dipesan.
"Yok balik." Ucap Alber bersiap mau berdiri dari kursinya.
"Sebentar." Cegah Uta pada Alber agar tak bangkit dulu.
"Kenapa?" Otomatis bertanya pada Uta.
"Kita keluar mallnya jangan bareng-bareng. Kamu jalan duluan, entar kemudian aku nyusul keluar juga." Ucapnya.
__ADS_1
"Kenapa gitu?" Tanya Alber yang tampak keberatan dengan permintaan Uta barusan.
"Mood Aku udah baik habis makan enak. Aku gak mau moodnya jadi turun lagi, gara-gara melihat orang-orang bisik-bisik karena lihat aku jalan di samping kamu. Intinya ini juga demi keamanan masa depan kamu." Ucap Uta terus terang kepada Alber.
"Aman gimana maksudnya? Apa hubungannya orang bisik bisik dengan kita? No aku gak mau." Jawab Alber benar-benar tidak mau melakukan apa yang Uta minta.
"Alber please lah. Pleeeaassseeeeeee ... Ya please please please." Mohon Uta benar-benar berharap Alber mengiyakan permintaannya. Alber diam menatap Uta dan masih belum menjawab.
"Alber .." Ucap Uta sekali lagi dengan nada penuh harap.
"Okey okey, tapi aku gak mau pakai 5 menitan segala. Cukup aku jalan duluan terus kamu jalan berapa meter di belakang aku." Ucap Alber dengan suara tidak bisa ditawar lagi. Uta yang mengerti akan hal itu, hanya bisa mengangguk. Gadis itu memilih tak lagi berinisiatif menawar ucapan Alber.
Alber kemudian jalan keluar dari restoran duluan dan Uta mengikutinya sekitar 3 meter di belakang Alber. Seperti yang Uta harapkan, tidak ada lagi orang yang melihatnya dengan tatapan aneh atau berbisik-bisik seperti tadi.
Malah sebaliknya, Uta semakin melihat jelas, bagaimana memikatnya Alber bagi kaum hawa. Sebab sedari tadi hampir setiap kaum hawa yang berjalan tak jauh dari Alber, mencuri-curi pandang bahkan mengagumi terang terangan Alber yang sedang berjalan.
Aku yang jadi temannya aja pusing, gimana cewek yang jadi jodohnya nanti. Siap-siap pusing tujuh keliling.*Uta
Alber yang sedang berjalan melihat salah satu toko ice cream yang terkenal lezat. Ia spontan berhenti dan berbalik badan, kemudian menanyakan kepada Uta yang berjalan tak jauh tepat di belakangnya.
"Ta .. Kamu mau ice cream?" Tanyanya.
"Husshtt!!" Ucap Uta mendadak berhenti berjalan sembari meletakkan telunjuknya di depan bibir, sebagai sinyal agar Alber diam. Alber yang bingung mengangkat naik bahunya sedikit, agar Uta mengerti ia sedang bingung. Melihat itu Uta pun berjalan mendekat ke arah Alber.
"Alber aku gak mau ice cream, udah kenyang banget. Jalankan sesuai rencana kita tadi aja, oke!! Go ... go ...!!" Guman Uta berbisik kepada Alber. Mau tak mau Alber pun menurut. Dirinya berjalan duluan meninggalkan Uta beberapa meter di belakangnya.
__ADS_1
"Huh ... Aman." Ucap Uta begitu masuk dan duduk di kursi depan samping kemudi. Iya mengucapkan hal tersebut dengan perasaan lega. Tak lupa secercah senyum menghiasi wajah chubby nya.
"Kenapa mesti begitu sih?" Protes Alber sembari mulai mengemudikan si hitam meninggalkan parkiran Mall.
"Ini demi keamanan masa depan aku." Jawab Uta spontan atas pertanyaan Alber.
"Loh bukannya tadi kamu bilang, yang menghawatirkan itu masa depan aku?" Ucap Alber mengingatkan kembali ucapan Uta sebelumnya.
"Itu betul. Masa depanmu bisa menghawatirkan, orang seganteng kamu mestinya jalan sama cewek cantik dan keren. Dengan jalan sama aku, tentu aja masa depan kamu bisa mengkhawatirkan. Tapi masa depan aku lebih mengkhawatirkan." Ujarnya menjelaskan opini pribadinya, kenapa ia meminta Alber seperti tadi.
"Loh kok bisa gitu?" Ucap Alber tak terima dengan opini pribadi Uta tersebut.
"Ya bisalah!! Orang-orang entar mikir aku cewek gak baik, misalnya aku jual diri. Atau lebih parahnya lagi, bisa aja mereka mikir kamu aku pelet. Intinya gak baik deh. Kan bisa bahaya masa depan aku." Ucap Uta jujur tentang apa yang ia pikirkan.
"Kamu tuh mikirnya aneh-aneh aja tau gak? Nggak mungkinlah orang mikir gitu." Ucap Alber tambah tak terima, ia bahkan sampai menoleh menatap Uta, mengalihkan pandangannya dari lalu lintas jalanan.
"Orang yang Tuhan anugerah wajah ganteng dan cantik mungkin menganggap ini cuma omong kosong. Wajar, orang-orang seperti itu sudah terlahir dengan standar super tinggi. Mereka gak akan merasakan omongan seperti itu. Apapun kekurangan mereka dianggap bukan celah. Sebaliknya, orang dengan wajah dan fisik yang biasa saja, mau punya skill tingkat dewa juga tetap dianggap selalu kurang. Seolah-olah useless." Gadis itu tidak memperdulikan protes dari Alber, ia mencurahkan pikirannya kembali.
"Analoginya tuh seperti misalnya, kalau ada cowok ganteng atau cewek cantik punya pasangan yang biasa-biasa aja secara wajah dan fisik. Orang-orang di sekitarnya pasti mikir, cewek cantik atau cowok ganteng itu punya hati yang luar biasa tulus, makanya mau menerima pasangannya yang biasa-biasa aja. Sebaliknya, pasangan yang wajah dan fisiknya biasa-biasa aja itu pasti di nyinyiri, kok bisa ya dia dapatin pacar yang cantik atau yang ganteng itu. Fix dia pasti jual diri, kalau gak pasti main dukun. Dibilang cewek murahan lah, dibilang cewek kegatelan lah, gak tahu diri lah, gak ngaca lah. Pokoknya parah deh!! Kisah yang indah itu hanya ada di dongeng dongeng. Sementara realitanya jauh berbeda, kalaupun ada, itu satu banding sejuta orang. Segitu gak adilnya dunia." Tambah Uta lagi. Perdebatan ringan tentang hal ini terus berlanjut sampai dengan si hitam berhenti tepat di depan rumah Uta.
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
❤
ZEROIND