![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Selamat tuan Alber, nyonya Uta dipastikan memang benar-benar hamil. Dapat anda lihat dilayar nyonya, ada kantong sebesar biji kacang. Itulah bakal janin yang sedang bertumbuh di rahim anda." Ucap dokter Cindy seusai melihat hasil layar USG.
"Sayang ..." Dengan mata berkaca-kaca, Alber menoleh menatap Uta. Sementara Uta yang ia tatap, sudah banjir air mata. Air mata bahagia. Alber mengecup tangan yang sedari tadi ia genggam erat. Diusapnya air mata di pipi Uta, walau air matanya sendiri membasahi rahang tegasnya. Annem yang juga ingin ikut melihat USG calon cucunya, mengusap lembut rambut indah menantunya yang dibiarkan tergerai.
Ya, dokter spesialis kandungan yang bekerja di salah satu rumah sakit elite Jakarta ini, ditunjuk Alber untuk menangani Uta, istrinya.
Usai 2 hari yang lalu Uta hanya dilakukan pemeriksaan sederhana menggunakan testpack, siang ini Uta akhirnya di USG yang mana langsung diantar oleh Alber, Annem dan Babam. Mereka ingin hasil yang lebih pasti, yakni langsung dari ahlinya.
"Bagaimana kondisi cucu saya saya dokter? Apa dia sehat?" Tanya Annem disela keharuan diruangan itu. Dokter Cindy tersenyum baru kemudian menjawab pertanyaan Annem.
"Sangat sehat nyonya. Pertumbuhan calon cucu anda baik dan sangat-sangat sehat." Jawab beliau.
"Alhamdulillah." Ucap semua yang ada diruangan.
"Kedepannya nyonya Uta harus lebih memperhatikan makanan ya. Karena masih tergolong trimester 1, mungkin nyonya Uta masih akan mengalami mual muntah kalau makan, terlebih makanan itu punya aroma yang kuat. Nyonya bisa mengakalinya dengan makan sedikit tapi sering, mengkonsumsi cemilan sehat dan perbanyak makan buah dan sayur."
"Apa ada pantangan makanan yang harus saya hindari dokter?" Tanya Uta memastikan.
"Tidak ada pantangan makanan bagi ibu hamil, asalkan makanan yang dimakan dipastikan dimasak matang. Makan makanan pedas, atau makan buah seperti nanas, tidak ada masalah, selama dalam jumlah yang wajar."
"Baik dok." Uta mengangguk lega. Dirinya jujur sedikit sulit makan tanpa sambal. Ia bisa mengurangi pedas, tapi jika tak boleh sama sekali, mungkin akan sangat sulit bagi dirinya. Untung saja hal tersebut sudah dokter Cindy jawab.
"Yang penting nyonya harus istirahat dengan cukup, dan tidak boleh kelelahan. Dan paling utama, hindari stress. Untuk yang satu ini peran suami sangat penting. Tuan Alber harus menjadi suami siaga untuk menjaga bumil cantik yang satu ini." Kali ini dokter senior itu menegaskan perkataannya pada Alber selaku suami.
"Nanti saya akan resepkan vitamin dan penambah darah yang wajib diminum selama hamil. Bulan depan jadwal periksa ulang kembali, tapi nyonya bisa menghubungi saya lewat AppWhats jika sewaktu-waktu ada keluhan." Ucap dokter Cindy menutup perbincangan hari ini.
"Baik, terima kasih banyak dokter Cindy. Sampai jumpa bulan depan." Jawab Uta menyalami dokter kandungannya. disusul kemudian Alber, Annem dan Babam
..._____________ Z _____________...
"Sayang kapan kita kabarin Mamah?" Tanya Uta pada suaminya yang sedari tadi tak bosan melihat hasil cetak USG tadi. Alber yang berbaring di paha Uta, tersenyum dengan mata berkaca-kaca, melihat Alber junior yang masih sebesar biji kacang. Melihat itu hati Uta menghangat. Di usapnya mata Alber yang sedikit basah karena terharu.
"Sayang, kamu kenapa nangis begini? Aku jadi pengen ikutan nangis kalo gini." Ucap Uta mulai berkaca-kaca dan Alber jadi panik karena Uta mau menangis.
"Jangan-jangan. Aku tuh gak nangis. Aku cuman terharu, ada bayi kita disini. Dia disini sayang." Ucap Alber mencium perut istrinya, membuat Uta tersipu malu.
"Apa kamu bahagia dia ada disana?" Tanya Uta membelai rambut Alber yang masih asik, mencium perutnyanya yang belum membuncit.
"Hey, pertanyaan apa itu. Of course aku bahagia. Sangking bahagianya, aku gak sadar kalau mataku udah basah." Jawab Alber dengan sorot mata teramat yakin.
"Good boy." Ucap Uta menggelitiki dagu Alber yang punya brewok seksi, seperti sedang mengerjai anak kecil. Uta sengaja menggoda Alber begitu, meski dalam hatinya saat ini berbunga-bunga.
__ADS_1
"Hey, hey!! Aku bukan anak kecil ya. Aku bukan Putri." Protes Alber membuat Uta tertawa.
"He ... he ... he ..." Mereka tertawa bersama. Jokes lama sedari mereka di Z1 dulu.
"Gimana? Jadi telepon Mamah? Ayok sekarang aja sayang." Ajak Alber.
"Tapi kok akunya jadi deg-degan ya? Takut nangis nanti." Khawatir Uta.
"Gak usah deg-degan sayang, Mamah pasti seneng kita lihatin foto ini." Ucap Alber dengan mengangkat foto USG Alber junior, lengkap dengan senyum bangga, membuat Uta jadi ikut tersenyum.
"Let's go kita telepon sekarang." Alber mengambil handphone dan menekan tombol video call pada nomor Mamah Celine.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Assalamualaikum Mah." Ucap Alber, menyapa deluan mertua cantiknya.
"Waalaikumsalam sayang. Baru Mamah mau telepon tadi, eh Alber nelpon duluan." Jawab Mamah Celine, membuat air mata Uta langsung meluncur deras saat mendengar suara hangat kesayangannya.
Alber menggenggam tangan Uta, yang pasti terharu disaat-saat begini. Alber mengerti, Uta pasti sedih karena Mamah Celine jauh di Padang Panjang saat Uta tahu dirinya sedang hamil sekarang. Pasti rasanya ada yang kurang, karena tak bisa menyampaikan kabar bahagia ini secara langsung.
"Uta mana Ber? Tadi pagi Uta nelpon Mamah tanya resep telur serundeng. Duh Mamah kelupaan bilang mesti dipakein ketumbar dikit. Takutnya rasanya kurang nampol." Ucap Mamah Celine panjang lebar, membuat Alber menahan senyumnya sekuat tenaga. Diliriknya Uta yang sedang mengusap air matanya karena ikut merasa lucu dengan ucapan Mamahnyaq.
"Uta ada Mah, ini lagi disamping Alber." Jawab Alber mencium pipi Uta. Diarahkannya kamera ke arah Uta.
"Enggak Mah. Lagian ini nangis bahagia Mah."
"Maksudnya apa? Yang jelas dong Ta, jangan bikin Mamah bingung gini."
"Mah tenang Mah. Uta nangis gini bukan karena kenapa-napa Mah, tapi ..." Jawab Alber menggantung.
"Tapi apa Ber?"
"Tapi karena sebentar lagi Mamah mau punya cucu." Ucap Alber.
"Hah maksudnya?" Mamah Celine bingung mencerna perkataan Alber.
"Lihat Ma." Memperlihatkan foto USG Alber Junior ke layar kamera.
"Alber? Sungguh? Beneran?"
"Seribu persen beneran Mah. Tadi barusan Uta udah di USG sama dokter kandungan." Jawab Alber.
"Kok Uta gak bilang Mamah dari awal? Mamah kan juga pengen ikut lihat cucu Mamah." Ucap Mamah Celine sudah mulai menangis.
__ADS_1
"Sebenarnya Uta mau ngasih tahu Mamah dari kemarin-kemarin. Tapi Uta tunda dulu Mah, rasanya kayak gimana gitu kalau belum USG. Pengen benar-benar jelas dulu baru kasih kabar ke Mamah." Ucap Uta pada Mamahnya. Anak dan Ibu yang sama-sama berderai air mata.
"Alhamdulillah ya Allah. Selamat ya sayang. Selamat buat Uta sama Alber, sebentar lagi udah ada personil baru dan kalian segera jadi orang tua." Jawab Mamah Celine terharu bahagia mendapat kabar ini.
"Makasih Mah. Mamah juga selamat, bentar lagi Mamah bakal punya cucu." Jawab Alber tak berhenti tersenyum. Dibelainya pucuk kepala istrinya yang masih menangis disampingnya.
"Iya Ber. Mamah cuman titip Uta sama Alber ya. Tolong Alber jagain Uta, ibu hamil kan apa-apa riskan." Alber mengangguk mendengar ucapan mertuanya.
"Terus Alber sabarnya dibanyakin ya Ber, ibu hamil perasaannya berubah jadi sensitif banget, jadi stok sabarnya Alber harus ekstra." Pesan Mamah Celine.
"Iya Mah. Alber bakal inget pesannya Mamah. Mamah gak usah cemas. Uta pasti Alber jagain." Jawab Alber dengan sungguh-sungguh.
"Alhamdulillah, Mamah tenang jadinya."
"Mah Uta bakal diperiksa lagi bulan depan. Mamah mau kapan ke Jakartanya, biar bisa lihat cucu Mamah langsung pas USG." Tanya Alber tulus.
"Minggu ini Mamah belum bisa. Mungkin 2 minggu lagi kayaknya Mamah bisa kesana."
"Pokoknya Mamah tinggal kabarin Alber kapan mau berangkat. Nanti Alber siapin semuanya. Mamah gak usah pusing. Mamah tinggal duduk santai pokoknya." Pesan Alber papa Mamah mertuanya, seperti yang biasanya ia lakukan
"Sip, gak salah Mamah pilih menantu." Ucap Mamah Celine mengacungkan kedua jempol ke kamera.
"Iya dong Mah, Alber gitu loh." Ucap Alber sengaja bergaya angkuh, agar Uta dan Mamah Celine yang sedang menangis jadi tertawa.
"Wkwkwkwkwkw ..." Dan usahanya tak sia-sia, mereka bertiga jadi tertawa bersama.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.
Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa
__ADS_1
❤ ZEROIND