![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Upacara hari ini luar biasa terik. Meskipun Uta tak baris di bagian depan, tetap ia tak luput dari panasnya sapaan sang surya. Selesai upacara ia tak langsung ke kelas, melainkan pergi ke minimarket kantin Z1.
Diambilnya sebotol air mineral dingin. Meskipun sebenarnya ia membawa air minum sendiri, sebagai pendamping bekal miliknya, namun air mineral dingin lebih menggoda. Saat akan membayar, ia baru ingat bahwa tak membawa dompet.
Di kantong, hanya terdapat sisa kembalian ojek online tadi pagi. Sebenarnya uang di kantong itu cukup untuk sebotol air mineral, tapi jika dibeli di warung pinggir jalan. Mengingat ini adalah kantin sultan, sudah pasti uang segitu menjadi tidak cukup.
"Maaf, gak jadi Mbak. Ternyata saya lupa bawa dompet." Buru buru ia mengucapkan maaf kepada penjaga kasir, karena tak jadi membeli air mineral dingin tersebut.
"Sekalian sama ini Mbak." Suara yang sangat familiar bagi Uta, tiba tiba menyambar botol air mineral dingin itu. Laki-laki itu menggabungkan air yang ingin Uta beli, dengan beberapa belanjaan miliknya yang ingin ia bayar. Alber pergi keluar dari kantin meninggalkan botol mineral itu, membuat Uta membawa botol berisi air dingin itu.
"Alber air lo." Ucap gadis itu kepada Alber, mengingatkan air mineralnya tertinggal. Mendengar hal itu, Alber yang berjalan didepan Uta mengangkat sebuah botol kemasan dingin, jus rasa jambu yang juga barusan ia beli.
Uta mengartikan hal itu sebagai pertanda, ia boleh meminum air mineral dingin itu. Ia yang memang sudah haus dan tenggorokannya sudah benar-benar kering, tanpa ragu meneguk air dingin tersebut bahkan sampai setengah botol.
Mereka berdua memasuki ruang kelas yang baru terisi siswa setengahnya. Mereka mungkin masih mencari mata air dingin untuk membasahi tenggorokan mereka. Alber terlebih dulu sampai di bangkunya dan duduk, di ikuti Uta tepat dibelakangnya.
Baru duduk sebentar, 1 potong roti sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia menawarkan roti kepada Uta namun Uta menolak, sarapan tadi pagi masih terasa penuh di perutnya. Alber mengerti, kemudian memasukkan roti yang kedua ke dalam mulutnya.
Uta mengambil dompet dari dalam tas. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang, untuk mengganti pembayaran air yang Alber bayar tadi, namun Alber menolak sambil menggelengkan kepala.
"Emangnya siapa yang traktir?" Merasa tenggorokannya seret, Alber menyambar air mineral yang tadi sudah Uta minum.
"Eh .. eh .. Itu kan bekas aku!!" Matanya melengos mengikuti kemana arah botol air bekasnya yang Alber ambil, tapi terlambat!! Alber sudah meneguk air itu, langsung dari bekas Uta minum tadi.
"Ahh .. Segarnya minuman gue. Bilang apa?" Seolah tak peduli dengan protes dari Uta, Alber malah minum dan bergaya sengaja dilebih lebihkan.
__ADS_1
"Makasih ..." Ucap Uta, setelah menghela nafas terlebih dahulu. Mendengar itu, Alber jadi terkekeh geli.
"Good girl." Alber menyilangkan tangan didepan dada. Dia benar-benar puas telah berhasil mengerjai Uta. Sementara Uta dengan tatapan protesnya ke Alber, hanya bisa menggelengkan kepala.
"Wah ... Dunia tipu-tipu benar-benar ada ternyata." Ucap Uta membuat Alber makin terkekeh, karena berhasil menjerat Uta kembali dalam dunia tipu-tipu miliknya.
_____________ Z _____________
Masuk ke pelajaran kedua. Guru matematika serius menjelaskan pelajaran yang ia bidangi. Uta fokus mencatat tanpa paham satupun yang ibu itu ucapkan. Paling tidak kalau dicatat, ia bisa mengulanginya kapan kapan nanti, pikirnya.
Berbanding terbalik dengan Alber, ia hampir tak ada menulis sama sekali dan hanya sesekali mengangguk tanda paham akan penjelasan dari Ibu guru. Di akhir pelajaran Ibu guru memberitahu, akan diadakan ulangan matematika minggu depan.
Uta menanggapinya biasa saja seolah pasrah, karena siap tidak siap, tetap saja ulangan akan dilaksanakan. Saat Uta menoleh ke Alber, ia dapat menangkap jelas senyum licik Alber.
Oh no ... Oh no ... Oh no no no no.*Uta. Macam salah satu nada di TokTik.
"Alber pleaselah, otak gue panas ini." Ucap Uta dengan wajah se memelas mungkin. Berharap komandan Alber akan iba dan menghentikan les yang memusingkan ini.
"Masa sih, coba gue pegang." Belum sempat Uta menjawab, Alber sudah memegang dahi gadis itu. Bagaikan sedang mengecek suhu tubuh seorang anak kecil.
"Hemh ... Kira-kira kenapa ya? Kok bisa sih panas gini." Ucap Alber seolah membenarkan perkataan Uta sebelumnya, sembari masih tetap memegang dahi Uta.
"Tuh kan gue gak bohong!! Ini fix, les matematikanya gak harus di lanjutin deh Ber, karena kalau di lanjutin, bahaya. Entar kepala gue bisa bisa mendidih. Mending gue ikut remedi aja nanti. Selow ... Tenang aja Ber." Mendengar Alber sependapat dengannya, sontak membuat Uta sangat amat senang. Gadis itu yang tadinya lesu, menjadi bangkit tegap semangat, membuat otomatis tangan Alber terlepas dari dahinya.
"Hemh ... Bentar aku mikir dulu." Alber memasang mimik wajah seolah-olah benar sedang berpikir.
"Kalau lesnya berhenti, gue bakal kasih lo palm cheese cookies yang lezat ini. Gimana?" Uta mencoba melakukan negosiasi, agar Alber menyetujui pemberhentian les ini. Disodorkan nya palm cheese cookies yang ia bawa dari rumah. Bahkan gadis itu membukakan tutup toples cookies, agar target yang dituju itu langsung menyantap palm cheese cookies, yang ia gunakan sebagai pemulus negosiasi.
__ADS_1
"Enak?" Tanya gadis itu, setelah Alber memasukkan sebuah cookies bulat bulat ke dalam mulutnya.
"Banget." Ucapnya, kembali menyantap sepotong cookies lagi.
"Iya kan?? Fix ini mah, kita udahan aja les nya." Ucap Uta, merasa targetnya akan mengamini ucapannya.
"Oke deal, les nya kita udahin aja." Kata kata yang Uta tunggu akhirnya terucap juga oleh Alber.
"YES!!" Senyum lebar terpampang nyata di wajah chubby Uta. Binar bahagia terpancar jelas di kedua bola matanya.
Mission clear.*Uta
"Tadinya ..." Kebahagiaan itu terpotong oleh sebuah ucapan Alber yang menggantung.
"Hah ... Tadi gimana maksudnya?" Ucap Uta mencoba memastikan, maksudnya Alber apa barusan.
"Tadinya gue udah niatin untuk udahan aja. Tapi barusan lo kasi gue cookies yang super enak ini. Sedari kecil gue diajarin, kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Berarti, cookies harus dibalas dengan cookies. Nah berhubung gue gak bisa bikin cookies, gue ganti dengan hal lain aja. Gue bakal mentorin lo les matematika buat seminggu kedepan. Gimana? baik kan gue??" Dengan wajah tak bersalah Alber memberikan penjelasan, maksud dari 'kebaikan harus dibalas dengan kebaikan' kepada Uta. Hilanglah sudah semua sorak-sorai meriah dari gadis di hadapannya itu.
"WHAT?? ALBERRRRR!!!" Sekali lagi, gadis itu terperangkap dalam dunia tipu-tipu Alber Syargan Farabaks.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1