![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Ah ingat sekarang, kayaknya Annem pernah nyobain cookies yang rasanya mirip banget sama ini. Kalau gak salah Cookies yang Alber bawa sepulang sekolah waktu awal dia baru masuk. Seingat Annem bentuknya juga persis kayak gini. Atau jangan jangan ...? Jangan-jangan itu cookies buatan kamu Ta?" ucap Annem menatap Uta dan palm cheese cookies secara bergantian untuk memastikan.
"Uta juga gak tahu pasti tentang cookies yang Annem maksud, tapi memang Uta pernah bikinin Alber cookies ini, sebagai ucapan terima kasih karena Alber pinjamin dasi ke Uta sehari sebelumnya." Ucap Uta menjabarkan apa yang memang pernah terjadi.
"Annem yakin itu pasti cookies yang kamu buat, soalnya pas Annem tanya dia beli di toko mana, Alber bilang cookies ini gak dijual di toko manapun alias limited edition. Padahal itu anak gak pernah pelit, jadi Annem pikir karena dia bilang gitu ya berarti memang gak dijual." Ucap beliau super yakin cookies yang Alber bawa dan cookies yang ia makan saat ini, rasanya sama persis.
"He .. he .. he. Kalau Annem suka, entar Uta sering sering bikinin ini lagi." Mendengar itu Annem tertawa senang. Tentulah beliau senang. Siapa coba yang tidak senang kalau dibuatin cookies lezat sering sering.
"Top." Mengacungkan dua jempol pada Uta pertanda ia senang. Tak lama asisten Annem datang dan memberi tahu beliau bahwa mobil sudah siap. Anenm tak menjawab apapun melainkan hanya mengangguk saja.
"Ta, Annem pergi ke luar sebentar ya, ada urusan dikit. Lagian Alber juga udah di jalan pulang kok. Gak apa-apa kan Ta?" Tanya beliau mengkhawatirkan Uta yang ditinggal sendiri menjaga Putri.
"Gak apa-apa dong An. Lagian juga, Putri anaknya pintar dan gak rewel." Jawab Uta tak sama sekali keberatan. Justru Uta melihatnya dari sisi yang positif, boleh jadi Annem sudah percaya padanya untuk menjaga Putri, meski tak ada keluarga inti yang berada di rumah. Sudah pasti Uta akan menjalankan tugasnya dengan baik, sekaligus menjaga kepercayaan yang Annem dan keluarga beri padanya.
"Putri sayang, Hala pergi sebentar ya. Jangan nakal sama Tuta ya, oke??" Ucap Annem pada Putri sekalian pamit pergi sebentar.
"Hala okey." Jawab Putri menggangguk ngangguk kecil. Kalau dulu bocah kecil itu akan merengek atau rewel karena tak mau ditinggal. Semenjak ada Uta, berbeda ceritanya. Ia tak rewel sama sekali.
"Pintar. Muachh ... muachh ... muach ..." Cium beliau pada pipi bocah kecilnya itu. Setelah itu Annem memang langsung bergegas berangkat, meninggalkan Uta dan Putri stay di rumah. Uta menyelesaikan palm cheese cookies kloter terakhir, sementara Putri sedang menikmati cookies yang sedang berada di mulutnya, yang terlihat belepotan.
"Wah ... wah ... Bau bau ada yang lezat nih. Dari jauh baunya udah kecium." Ucap Alber sambil bersandar di daun pintu dapur, lengkap dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Astaga kaget aku." Uta benar benar kaget Alber sudah ada di dapur tiba tiba, tak lama setelah Annem pergi.
__ADS_1
"Yabel??" Teriak bocil girang ke arah Alber yang baru saja pulang. Alber tak menjawab melainkan ia berjalan ke arah Putri, kemudian mencium pipi wajah bocah kecil itu sampai si pemilik pipi tertawa karena geli. Uta hanya berdiri menjadi obat nyamuk di antara dua sepupu beda generasi itu.
"Yabel look ... palm cheese cookies buatan Putli sama Tuta." Pamer Putri tentang cookies hasil buatannya pada Alber.
"Coba a ..." Ucap Alber sambil membuka mulut, agar Putri menyuapkan sepotong cookies yang menggiurkan dari dalam toples. Seolah mengerti, bocah kecil itu mengambil sebuah cookies dan menyuapkan ke dalam mulut Alber.
"Yabel enak?" Tanya Putri pada Alber.
"A ... lagi." Alber bukannya menjawab pertanyaan tersebut, melainkan kembali membuka mulut, meminta untuk disuapin sekali lagi.
Dan seolah sehati dan sejiwa, bocah kecil itu kembali menyuapkan sepotong cookies lagi ke dalam mulut Alber. Hal itu bahkan berulang hingga cookies kelima, Uta sampai geleng-geleng melihat kelakuan mereka.
Kalau dipikir-pikir lucu memang, kadang-kadang mereka berdua bisa saling mengusili, tapi di lain sisi ternyata mereka berdua bisa juga saling akur seperti saat ini.
"Banget. Enak banget. High five." Jawab Alber memberikan jawabannya. Mereka berdua ber tos tangan riang.
"Yaber mau ambil air es bentar." Ucap Alber yang langsung berjalan ke arah kulkas berada. Rupanya memakan 5 buah cookies berturut-turut, membuat tenggorokannya butuh diguyur air dingin yang segar.
"Tuta, Putli bantuin Tuta apa lagi? Putli mau bantuin Tuta." Ucap anak itu, sepeninggal Alber pergi mengambil air es.
"Hemh ... Gimana kalau Putri bantuin taruh cookies yang udah di toples ke ruang keluarga, tempat kita nonton tadi, gimana? Oke?" Ucap Uta menunjuk ke arah toples yang sudah terisi penuh oleh palm cheese cookies.
"Okey ... Tuta okey." Ucap Putri, bocah kecil itu kemudian meraih sebuah toples dan membawanya riang sesuai instruksi yang Uta beri. Kaki kecilnya perlahan melangkah, meninggalkan dapur menuju area tempat menonton, yang tempatnya lumayan jauh dari dapur. Maklumlah, ini bukan rumah melainkan istana. Uta melanjutkan menyusun cookies yang tersisa ke dalam toples kosong yang lain.
"Cookies buatan kamu enak banget." Ucap Alber yang mengagetkan Uta. Bukannya karena ucapannya, melainkan jarak diantara mereka.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Uta baru saja balik mengambil cookies terakhir dari dalam oven, tanpa tau posisi Alber sudah tiba-tiba berada di belakangnya, sehingga ketika ia berbalik ke tempat semula, jarak mereka benar-benar rapat. Wangi parfum maskulin yang biasa Alber pakai, menguar jelas di indra penciuman Uta.
"Thanks." Jawab Uta sambil menggeser tubuhnya, mengurai jarak di antara mereka berdua.
"Weekend gini kamu gak keluar?" Ucap Uta mengganti topik pembicaraan.
"Aku baru aja dari luar." Jawab Alber enteng, mencomot kembali sebuah cookies dari dalam toples. Kali ini ia tak lagi disuap, sebab bocah kecilnya sedang pergi menyelesaikan misi dari Uta.
"Kata Annem, kamu tadi ke kantor. Jadi hitungannya itu kerja. Maksud aku bukan yang itu." Ucap Uta menyamakan pemikiran maksud.
"Maksudnya keluar ke mana?" Tanya Alber balik. Ia kembali meneguk air dingin yang dibawanya dari kulkas barusan.
"Yah ... entah jalan keluar atau nongkrong, atau kencan sama pacar kamu mungkin." Ucap Uta dengan tenang, sambil telaten menyusun cookies ke dalam toples.
"Uhuk ... uhuk ..." Alber yang lagi minum sampai terbatuk mendengar ucapan Uta barusan. Bahkan air yang ia minum sampai menyembur sangking kagetnya.
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
ZEROIND
__ADS_1