![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta dan Reta sudah masuk ke dalam gedung acara. Tampak Seto melambaikan tangan memberi kode, untuk Reta dan Uta duduk disana. Reta sempat ingin menolak, namun tempat duduk lain sudah terisi. Mau tak mau Reta menuruti Uta, berjalan ke arah Seto.
Disamping Seto terlihat Sandi, sahabat Seto duduk disana. Ada sebuah bangku kosong yang diatasnya terdapat tas selempang kulit pria, yang tak asing untuk Uta.
"Duduk sini Ta, Re. Si Alber tadi jagain bangku buat kita." Ujar Sandi menjelaskan, dan tepat saja dugaan Uta, tas tersebut milik Alber.
"Terus Albernya mana?" Tanya Reta pada mereka berdua.
"Di panggil guru kesenian." Jawab Seto mendahului Sandi. Ia langsung menyambar, saat yang bertanya pujaan hatinya.
"Kenapa?" Tanya Uta bingung, apa yang terjadi memangnya.
"Pianis yang di sewa buat acara wisuda hari ini, tadi pingsan. Terus ada orang tua siswa yang kebetulan dokter periksa si pianis. Kemungkinan kena DBD, terus dibawa ke RS. Jadilah guru kesenian minta Alber jadi pianis dadakan. Susah emang kalau terlalu jenius. Mesti siap 45, kalau guru butuh." Cerocos Seto panjang lebar, menjelaskan sejelas-jelasnya pada Uta dan Reta. Uta dan Reta pun duduk di bangku, yang sudah sengaja di jagakan oleh teman-teman mereka.
Acara wisuda dimulai. Rangkaian wisuda diawali pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua panitia dan undangan tanpa terkecuali, diminta berdiri sebagai bentuk respect terhadap lagu kebangsaan kita.
"Noh si paling pianis, udah duduk depan piano. Buset dah itu jas dari mana coba? Tiba tiba udah keren aja itu orang." Ucap Seto mengutarakan hasil pengamatan jeli, yang ia lakukan. Semua melihat ke arah piano, termasuk Uta.
Benar saja, Alber sudah berganti kostum, dari pakaian seragam batik sekolah, berganti memakai setelan jas abu-abu gelap, dengan motif kotak kotak. Entah kapan dan darimana jas itu dia dapatkan. Yang jelas jas itu benar benar pas di tubuh atletis Alber, membuatnya terlihat tampan berkali-kali lipat.
"Helooo!! Alber emang pake apa aja keren kali!" Sanggah Reta pada perkataan Seto.
"Alamat si Alber, makin di gilai cewek-cewek. Liat aja sekitar, cewek-cewek matanya udah pada mau keluar ngeliat si Alber." Pemandangan itu jelas sekali terlihat. Banyak siswi senyum tersipu melihat Alber. Tak sedikit para siswi bisik-bisik memuja, sambil menunjuk ke arah piano. Wajar memang kalau banyak yang terpesona dengan laki laki itu. Alber terlalu sempurna, untuk ukuran manusia.
"Gue enggak tuh, jangan sotoy deh lo." Protes Reta, karena ia merasa bukan salah satu dari yang Seto maksud. Bagi Reta Alber memang keren, tapi tetap Edgar yang mampu mengalihkan dunianya.
__ADS_1
"Iya kalo neng Reta, memang cuman terpesona dengan Aa Seto seorang." Ucap Seto dengan gaya super pedenya.
"HUEEKKKK!" Ucap Reta, seolah sedang muntah mendengar ucapan Seto. Sandi memberi instruksi untuk tenang, karena lagu segera dimulai. Denting piano yang Alber mainkan benar-benar mengalun indah, bagaikan ia seoarang pianis sungguhan. Seisi gedung dengan khidmat melantunkan lagu Indonesia Raya, dengan sepenuh hati.
Seusai lagu berakhir, Alber kemudian berdiri dan membungkuk ke arah hadirin. Seisi gedung riuh bertepuk tangan. Bahkan cewek-cewek histeris layaknya sedang nonton konser K-POP. Alber berjalan ke belakang panggung, kemudian sosoknya menghilang dari balik tirai.
Acara dilanjutkan, dengan pemberian sambutan oleh Ketua OSIS yang lama, kemudian dilanjutkan pemberian sambutan dan ucapan perpisahan, oleh ketua OSIS yang baru.
"Aku keren gak tadi?" Ucap Alber, yang tiba-tiba sudah datang dan duduk di bangku kosong samping Uta. Kedatangan Alber yang tiba-tiba, tentu membuat gadis chubby itu agak kaget.
"Keren banget." Jawab Uta singkat, mengakui memang Alber terlihat keren tadi. Lebih tepatnya gak pernah gak keren.
"Gila lo Ber, jago piano gak bilang-bilang." Ucap Reta takjub dengan skill piano Alber yang sempurna, meski ditunjuk dadakan.
"Ber lo bener-bener ya!! Gara gara lo, mata cewek-cewek hampir lepas dari tempatnya, tau gak??!" Ujar Seto memberi tau hasil observasinya, pada si pelaku kejadian. Alber terkekeh mendengar banyolan Seto.
"Thank you bro." Ucap Alber juga membalas, dengan mengacungkan jempol ke arah Sandi.
"Aku beneran keren tadi?" Tanya Alber berbisik pelan, dekat telinga Uta. Gadis itu menoleh, kemudian menjawabnya dengan anggukan. Senyum timbul di wajah tampan Alber.
"Nanti tolong videoin aku pas tampil lagi ya. Tadi aku gak sempet minta tolong kamu, buat rekamin aku." Ucap Alber pede, sambil memainkan alisnya saat bicara.
"Masih tampil lagi? Main piano atau apa?" Tanya Uta tak menyangka, ternyata ada perform selanjutnya.
"Ya, 2 kali lagi. Semuanya main piano, cuman lagunya beda. Tolong rekamin video aku tampil ya." Ucap Alber meminta Uta merekam penampilannya nanti, sebagai dokumentasi.
"Iya nanti aku videoin. Yang penting jangan lupa handphone kamu, kasi ke aku." Ujar Uta meminta handphone Alber sebagai alat perekam, sebab handphonenya termasuk keluaran lama, yang kapasitas ram dan memorynya tak banyak. Daripada khawatir terpotong di tengah-tengah, mending terus terang minjem handphone Alber aja, pikir Uta.
__ADS_1
"Pakai kamera aja ya. Kebetulan aku bawa." Ucap Alber lagi. Ia kemudian mengeluarkan sebuah mini camera pocket super cangggih. Besarnya tak ada setengah telapak tangan, tapi resolusi kamera melebihi HP keluaran terbaru. Tentu saja harga jangan ditanya, sudah pasti bukan kaleng-kaleng kawan.
"Tapi gimana caranya? Aku gak ngerti pakainya." Ujar Uta.
GUBRAKK!!!
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND