![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Ya, saya sudah memikirkannya dengan matang. Saya ingin membatalkan kerjasama dengan pihak anda." Ucap Uta tegas pada Alber. Dirinya langsung menyampaikan keputusan yang ia ambil, hasil pemikirannya semalaman.
"Tentu tidak bisa." Jawab Alber tetap tenang menanggapi perkataan Uta. Ia tak sama sekali menunjukkan keterkejutan.
"Kenapa?" Tanya Uta kembali.
"Anda sudah menyepakati untuk kerja sama ini. Tentu anda tidak bisa membatalkan kesepakatan ini mendadak secara sepihak." Jawab Alber menatap kedepan lawan bicaranya.
"Tapi anda jangan lupa tuan, tidak ada kesepakatan yang tidak bisa dibatalkan." Jawab Uta tak kalah tenang. Jawaban Alber barusan, sudah sempat terpikir olehnya saat memilih jalan ini.
"Ya, anda benar nona. Namun anda harus siap dengan konsekuensi yang ada. Jika anda tetap bersikeras melakukan pembatalan kerjasama ini secara sepihak, anda harus membayar penalti 50 kali lipat dari nilai kontrak yang sudah disepakati." Jawab Alber menatap mata Uta. Menyalurkan keseriusan melalui sorot matanya.
Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas yang merupakan kontrak kesepakatan kerja sama ini. Dengan tanpa basa-basi, Alber menunjukkan poin pada kontrak itu, persis seperti yang ia ucapkan.
DEG .........
Uta membaca baik-baik poin kontrak yang sengaja Alber beri tanda. Sebenarnya ia sudah sedikit banyak mendengar mengenai pemutusan kontrak sepihak, bisa menyebabkan pihak pemutus kontrak diharuskan membayar biaya penalti. Namun dirinya tak habis pikir, biaya pinalti disini mencapai 50 kali lipat.
__ADS_1
Uta yang baru saja melunasi properti di Jakarta, benar-benar mengambil tabungannya hampir 80 persen. Sudah tentu tidak akan cukup membayar 50 kali lipat biaya penalti. Jangankan membayar 50 kali lipat, 5 kali lipat saja Uta sudah pasti kalang kabut.
Tak mungkin ia mempergunakan biaya operasional usahanya di Padang Panjang. Untuk memproduksi produk cookiesnya, Uta terlebih dahulu harus mengeluarkan modal. Jadi kas operasional tak boleh terganggu.
"Bagaimana kalau saya tetap melanjutkan kerjasama, asalkan kontraktor yang bertanggung jawab diganti. Saya ingin tuan Panji langsung yang mengerjakan proyek ini." Ucap Uta mencoba menegosiasi kemungkinan terakhir.
"Jika seperti itu yang anda mau, anda cukup membayar biaya penalti setengah dari total ketentuan pertama. Silahkan anda membayar 25 kali lipat dari nilai kontrak." Jawab Alber sembari membalik lembar kontrak yang tertera poin seperti perkataannya.
DEG ..........
"Bukankah saya bilang, kontrak ini tetap berjalan. Hanya penanggung jawab proyek saja yang diganti. Saya tidak membatalkan kerja samanya. Kenapa saya masih terkena penalti juga?" Tanya Uta, kini gadis itu mulai sedikit panik. Bahkan panik itu perlahan menjalar keperut. Ia merasa perutnya perlahan mulai tak enak. Keringat di pelipis semakin lama terasa semakin menyeruak.
"Sebagai penanggung jawab kontraktor proyek ini, saya belum melakukan satupun kesalahan. Jadi, jika nona Uta ingin penanggung jawabnya diganti, anda diharuskan membayar biaya penalti setengah dari nilai kontrak utama." Jawab Alber tenang penuh kemenangan.
DEG .........
"Lain halnya saya melakukan kesalahan yang fatal, anda dapat mengganti penanggung jawab tanpa membayar satupun biaya penalti. Bahkan perusahaan kamilah yang akan mengkompensasi kesalahan itu, sebagai bentuk tanggung jawab." Jelasnya lagi.
"Jadi, silahkan anda memutuskan. Berhenti dengan konsekuensi penalti atau memilih melanjutkan kerjasama yang sudah ada." Ucapnya dengan keyakinan pasti. Uta tampak diam, mencerna poin demi poin ucapan Alber. Harus ia akui, ucapan Alber memang masuk di akal. Lututnya terasa lemas. Tampaknya tak ada jalan keluar untuk menghindari laki-laki itu.
__ADS_1
"Kalau memang seperti itu, maka saya tidak punya pilihan lain, selain melanjutkan kerjasama ini. Mengenai pengerjaan bangunan, saya tidak keberatan jika opsi terbaik adalah dengan membongkarnya dan memulai dari awal." Ucap Uta pada akhirnya. Pasrah karena tak ada jalan lain yang bisa ia ambil.
"Seperti yang anda bilang, sampai saat ini anda sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi saya percaya sepenuhnya kepada anda tuan Alber." Lanjutnya lagi.
"Jika tidak ada yang penting untuk dibahas lagi, saya pamit pulang terlebih dahulu. Ada urusan yang tidak bisa saya tinggal. Permisi." Pamit gadis itu. Uta kemudian berdiri dari kursinya dan langsung berjalan keluar cafe tanpa menunggu jawaban Alber.
Udara yang panas langsung menerpa begitu ia keluar dari cafe. Ia berjalan kearah samping cafe dan menyandarkan badannya di dinding kokoh bangunan itu. Dipegangnya area perut yang semakin melilit. Kini keringat deras mengucur tak hanya dari pelipis saja, melainkan sampai ke leher.
Gadis itu melihat sekeliling guna mencari taksi yang bisa ia tumpangi ke apotek terdekat. Ia harus cepat membeli obat, untuk meredakan perut melilit yang menyerangnya sekarang. Namun sayang, tak satupun taksi atau transportasi umum lewat disana.
Ia semakin gelisah, karena perutnya mulai terasa menusuk perih. Bahkan salah satu tangannya sudah tremor. Wajah Uta mulai pucat seiring perut yang semakin melilit. Uta meraih handphone dari dalam tas. Ia berpikir untuk menelpon Edgar saja. Area cafe ini tak begitu jauh dari perusahaan Edgar. Dengan sisa-sisa tenaga, ia cari nomor kontak Edgar. Namun kegiatan itu terhenti ketika tubuhnya terangkat paksa oleh seseorang.
"Aaakkhh ... Apa yang anda lakukan??? Tolong turunkan saya tuan Alber!!!"
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
❤
__ADS_1
ZEROIND