Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
189. Panji


__ADS_3

Author POV


"Alber? Lo disini Ber?" Ucap seorang laki-laki mengenali suami dari Uta. Alber yang sedari tadi duduk santai langsung bereaksi.


"Bang Panji?" Alber langsung duduk dan menyalami laki-laki itu.


"Panji? Jangan-jangan ... Kak Panji seniornya Reta?" Tanya Uta menerka-nerka.


"Mbak Uta ya? Salam kenal mbak, saya Panji, kontraktor awal proyek mbak Uta, sekaligus temannya Reta sama Alber." Ucap Panji memperkenalkan siapa dirinya. Laki-laki tinggi tegap dengan perawakan tegas menghampiri mereka.


Uta yang kaget sampai menutup mulutnya sebentar, sebelum menyambut tangan panji untuk bersalaman.


"Duduk bang, gabung sini aja." Ajak Alber pada Panji.


"Selamat ya Ber. Akhirnya dapat ya Ber." Ucap Panji membuka obrolan.


"He... he .. he.. Makasi bang. Bang Panji berjasa besar." Jawab Alber tersenyum lebar.


"Tapi maaf banget Ber, gak bisa hadirin resepsi kalian. Sibuk banget Ber. Ini abis magrib aja, gue harus terbang lagi bro. Maklumlah, anggota belum banyak. Apa-apa urus sendiri. Maaf ya mbak Uta." Ucap Panji meminta maaf pada pengantin baru itu.


"Gak apa-apa bang." Jawab Alber yang Uta angguki juga.


"Sekali lagi, selamat atas pernikahannya ya Ber, mbak Uta. Pantes gigih banget lo Ber. Cantik bening begini. Semoga langgeng sampe kakek nenek. Samawa until jannah lah pokoknya." Puji Panji mengakui kecantikan Uta.


"He .. he .. he .. Makasi doanya bang." Jawab Alber dengan terkekeh senang.


"Terima kasih doanya kak. Tapi kalo boleh tau, kenapa waktu itu kontraktor diganti tapi gak bilang saya kak?" Tanya Uta penasaran. Selama ini itu jadi pertanyaan di hatinya.


"Tanya sama si biang keroknya mbak. Intinya suami mbak, berani ngelepas proyek besar, biar bisa ambil alih proyek mbak Uta." Jawab Panji geleng-geleng kepala.


"Sayang maksudnya apa?"


Flashback starts


Alber POV


Beberapa bulan yang lalu ......


Pagi ini aku mewakili Farabaks group mengadakan workshop untuk para kontraktor muda yang baru memasuki industri ini. Ini sebagai wujud sumbangsih Farabaks group pada generasi muda. Babam yang kebetulan sedang umroh bersama Annem, mempercayakan agenda 2 tahunan ini untuk kupimpin.


Dari puluhan peserta yang ikut, terdapat seorang yang mengusik perhatianku.


"Bang Panji?" Sapaku memastikan orang yang kukenali.


"Eh Ber, apa kabar?" Jawab beliau balik. Ternyata betul bang Panji.


"Bang Panji ngapain disini Bang? Nemani anggota ikut workshop?" Tanyaku.

__ADS_1


"Gue yang ikut Ber." Jawab bang Panji menggaruk-garuk kecil kepalanya.


"Loh ngapain bang? Bang Panji kan udah senior di bidang ini." Aku merasa aneh bang Panji datang bukan sebagai narasumber.


"Abang baru buka PT Ber. Kan lo tau perusahaan yang lama colaps. Jadi ya, kenapa enggak bangun usaha sendiri."


"Dimana bang? Entar kapan waktu gue mampir lihat-lihat." Ucapku sebagai bentuk support.


"Di sekitar ..."


Kring ... kring ... kring ... kring ....


"Bentar Ber." Ucap Panji padaku. Dirinya lalu pamit pergi sebentar. Aku mengangguk dan memilih menunggu seniorku itu di tempat yang sama.


"Sorry Ber, tadi ada telpon penting." Jawab bang Panji kembali ke tempat yang ia tinggalkan tadi.


"Hawa-hawa tender besar nih bang." Celetuk ku pada bang Panji.


"Ya enggak lah Ber, PT bang Panji masih skala kecil, baru pula. Mana ada tender besar mau percaya dalam waktu dekat. Telepon dari kawan lama Ber. Dia minta tolong bang Panji ngerjain proyek temannya. Pas banget sebulan kedepan belum dapat proyek. Lumayan buat fortofolio." Jawab bang Panji apa adanya.


"Ah masa sih bang. PT sih boleh baru, tapi relasi jangan ditanya. Bang Panji tuh, skala mega proyek." Jawabku memuji senior handal itu.


"Astaga Ber, nih kalo gak percaya. Proyek renov bangunan 1 lantai atas nama Uta." Bang Panji lantas memperlihatkan file yang Reta kirim padanya. Aku yang melihat isi chat Panji, langsung terfokus pada kata 'Uta'.


DEG ...........


"Nama lengkapnya siapa bang?" Tanyaku dengan penuh harap.


"Uta Arabella Lavanya." Jawab bang Panji membaca identitas di foto lain yang Reta lampirkan.


DEG ..........


"Teman bang Panji yang telepon tadi siapa namanya?" Tanyaku dengan perasaan penuh gejolak.


"Reta Natadipura." Jawab bang Panji lugas.


DEG ............


"Bang, gue punya penawaran bagus untuk kelangsungan PT baru bang Panji." Ucapku pada Panji.


..._____________ Z _____________...


"Gila lo Ber. Ini beneran?" Ucap bang Panji tak percaya.


"100 persen, beneran." Jawabku sangat yakin.


"Tapi Ber, apa alasannya lo minta tukar proyek segala. Proyek lo ini gak main-main loh Ber. Gimana bisa lo ngelepas proyek sebesar ini, buat dituker sama proyek kecil-kecilan perusahaan gue. Bahkan ini satu persennya aja gak ada dari nilai proyek lo. Bener-bener gak masuk akal." Ucap bang Panji masih tak percaya. Mustahil perusahaan sekelas Farabaks group mau melepas tender sebesar ini.

__ADS_1


"Kalau bang Panji mau proyek yang lebih besar lagi, juga gak papa. Gue lepas bang. Asalkan proyek bang Panji yang satu itu buat gue." Jawabku tak sedikit pun goyah. Aku tetap bersikeras mau proyek yang bang Panji tangani. Bang Panji terdiam. Ditatapnya diriku serius.


"Ber, jujur deh. Ini perkara hati kan?" Ucap bang Panji akhirnya. Aku yang tak bisa berbohong, memilih jujur mengangguk.


"Wkwkwkkwk ... Alber ... Alber...!!! Sampe lo rela ngelepas proyek raksasa, apalagi kalau bukan urusan hati. Emang ya, cinta itu buta. Proyek 2 triliun rela dihempas untuk proyek 300 juta. Jauh bener. Alber ... Alber." Ucap bang Panji akhirnya.


Flashback ends


Author POV


Setelah bertemu dan ngobrol dengan Panji. Mereka harus melepas Panji, karena beliau akan terbang ke Jakarta malam ini. Panji memutuskan untuk bersiap-siap check out dari resort usai magrib tiba.


Tersisalah Uta Alber disana. Saat sunset hendak tiba, Uta meminta tolong Baris untuk memfoto mereka dengan latar matahari tenggelam.


Alber yang melihat Uta senang, memilih mengikuti permintaan istrinya. Mereka berfoto dengan pose yang biasa couple lakukan.


Tapi bukan Alber namanya jika tak mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Ia sengaja mencium bibir pink itu saat aba-aba Baris hampir tuntas.


"Sayang!!! Ada Baris." Protes Uta pada suaminya itu.


"Ya harus ada dong. Kalau enggak, siapa yang fotoin kita. Bukan begitu Baris?" Tanya Alber santai.


Nasib jadi jomblo. Mblo ... mblo. *Baris


"Benar tuan, nona." Jawab Baris tanpa ekspresi. Uta sampe geleng-geleng dengan tingkah suami dan asistennya itu. Kenapa mereka selalu sepaham dalam hal begini?


Uta Alber lalu kembali ke kamar usai puas melihat sunset.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.






Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.


Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa


❤ ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2