Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
180. Uta dan Alber


__ADS_3

Author POV


Sebuah ballroom hotel bintang 5, hari ini sudah disulap megah dengan nuansa bunga mawar putih yang kental. Lampu-lampu cantik menghiasi ruangan luas itu menambah kesan elegan. Meja dan kursi sudah ditata apik nan indah. Membuat siapapun yang masuk akan terpana dengan wedding venue Uta dan Alber.


Annem, Mamah Celine dan Syiba sedari pagi sudah cantik paripurna, menggunakan kebaya bewarna fossil gray, warna serempak dengan seluruh keluarga besar. Ketiga wanita tangguh ini membagi tugas untuk mengecek persiapan acara.


Annem sibuk memastikan semua sudah tertata cantik seperti yang sudah direncanakan. Mamah Celine menghandle bagian makanan, sudah seperti yang di mau pihak keluarga.


Sementara Syiba ditemani Reta memastikan calon adik iparnya didandani cantik oleh MUA profesional pilihan mereka. Syiba juga bolak balik mengecek Alber juga. Sementara Babam dan Tibar menghandle beberapa kolega yang datang. Pembagian tugas yang saling melengkapi dari keluarga kompak.


Kembali keruangan khusus Uta, tepat satu lantai di atas venue acara. Terdengar sebuah ketukan pintu disana.


"Tam Tam. Kok kamu jadi keren banget sih." Puji Reta saat melihat Tama lah yang masuk. Diruangan itu hanya ada Uta dan Reta. Tim MUA dan yang lainnya sudah selesai, kembali ke ruangan mereka. Sementara Syiba mengecek kesiapan Alber.


Tama sudah rapi memakai beskap dengan warna senada dengan seluruh keluarga besar. Tapi kegugupan terlihat jelas pada wajah tampannya. Rencananya, Tama lah yang akan jadi wali nikah Uta nanti.


"Namanya juga adek aku Re." Canda Uta.


"Adek aku juga ya. Dari Tam Tam masih bocah tau gak?!!" Ujar Reta mengklaim tak mau kalah. Kedua gadis itu lalu tertawa. Hanya Tama yang tidak, karena tegang.


Uta mengulurkan satu tangannya agar Tama duduk dan mendekat. Seperti mengerti mau Uta, Tama mendekat dan duduk disamping sang kakak.


"Gugup?" Tanya Uta menggenggam tangan Tama. Tangan yang biasa hangat itu, hari ini begitu dingin.


"Hemh ..." Jawab Tama mengangguk.


"Tarik nafas Tam, relax. Kamu pasti bisa dek." Ucap Uta lembut. Perasaannya campur aduk.


Sesungguhnya, menjadi wali nikah bukanlah tanggung jawab Tama, melainkan kewajiban Papah mereka. Namun apa hendak dikata, beliau telah tiada. Jadilah, siap tak siap Tama yang mengambil alih tanggung jawab itu.


"Kak ... Janji sama aku. Kakak akan selalu bahagia." Ucap Tama berkaca-kaca. Melihat itu, Uta jadi ikut berkaca-kaca juga. Untung saja Reta menahannya agar air mata itu tak jadi mengalir, bisa rusak make up Uta yang sudah glowing. Kakak beradik itu berpelukan, sebelum Uta resmi diperistri Alber sebentar lagi.


..._____________ Z _____________...

__ADS_1


Saat ini suasana kembali tegang. Semua mata tertuju ke area depan venue acara. Tama sedang berjabat tangan dengan Alber, disamping mereka terdapat perwakilan MUA dan dua orang saksi. Paman Murat sekertaris Babam dan Edgar, yang kedua mempelai tunjuk sebagai saksi nikah.


"Ananda Alber Syargan Farabaks bin Karem Farabaks, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan kakak kandungku yang bernama, Uta Arabella Lavanya binti Roy Prayoga (almarhum), dengan mahar seperangkat alat sholat dan sebuah gedung 5 lantai dengan luas 1000 meter." Ucap Tama jelas lantang penuh wibawa.


"Saya terima nikah dan kawinnya Uta Arabella Lavanya binti Roy Prayoga, dengan mas kawin tersebut, TUNAI." Ucap Alber tanpa ada keraguan dalam satu tarikan nafas.


"Saksi, sah?" Tanya seorang pria perwakilan KUA.


"SAH." Ucap saksi nikah dan para undangan yang ikut menyaksikan prosesi ijab kabul.


"Alhamdulillah." Ucap semua orang satu ruangan. Alber dan Tama sama-sama mengucap syukur karena merasa plong. Annem dan Mamah Celine mengusap air mata haru mereka.


Karena ijab kabul telah terlaksana, pembawa acara lalu mempersilahkan untuk mempelai wanita memasuki ruangan.


Uta yang sedari tadi terharu melihat prosesi akad, lewat layar kaca di ruang tunggunya, kini berjalan perlahan memasuki lokasi akad dengan diapit Reta dan Syiba.


Seluruh undangan bertepuk tangan sembari senyum karena terpesona. Mempelai wanita begitu cantik alias manglingi, sampai-sampai banyak yang tak percaya itu Uta. Gadis itu berjalan begitu anggun memakai kebaya khas Sunda, bewarna putih tulang. Penampilan Uta tambah sempurna dengan mahkota alias siger khas adat Sunda.


Melihat Uta yang notabene sekarang sudah resmi menjadi istrinya berjalan memasuki ruangan, Alber lantas berdiri menanti istrinya mendekat ke meja akad. Wajah yang kemarin-marin dihiasi brewok seksi, hari ini dicukur habis. Membuat Alber tampak lebih muda dan fresh.


Jas buka prengwadana ini memberi makna kebijaksanaan kaum pria yang mampu membimbing anggota keluarganya.


Penutup kepala yang dikenakan oleh Alber dinamakan bendo. Bendo bermakna bahwa kedudukan pengantin pria sebagai kepala rumah tangga, adalah dengan mengayomi seluruh anggota keluarganya.


Terakhir, keris yang disematkan di area pinggang, dianggap senjata pusaka yang melambangkan kehidupan keluarga agar terhindar dari bahaya.


Saat makin mendekat ke suaminya, Uta baru menyadari, Alber memang tersenyum namun matanya berkaca-kaca. Ya, laki-laki itu terharu karena bahagia. Penantian dan perjuangannya tak sia-sia. Gadis dasinya kini resmi menjadi istrinya.


Alber meraih lembut tangan istri cantiknya. Sebuah senyum menghiasi wajah pengantin baru itu. Syiba dan Reta undur diri setelah mengantar Uta ke Alber.


Tepuk tangan bergemuruh mengiringi Uta dan Alber kembali ke tempat duduknya. Alber dengan sweetnya menarikkan kursi Uta, dan memastikan istrinya duduk dengan nyaman, baru kembali duduk di kursinya.


Uta melihat ke arah Tama dan Edgar. Kedua laki-laki yang selalu menjaganya itu tersenyum tulus, karena ikut bahagia atas kebahagiaannya.

__ADS_1


Terima kasih. *Uta


Pasangan yang baru sah itu kemudian dibimbing membaca doa setelah akad nikah. Uta kemudian mencium tangan suaminya dengan penuh khidmat. Alber tersenyum melihatnya.


"Phwiwwiiitttt ... Sah euy ..." Sorak-sorak dari teman-teman mereka yang hadir. Uta yang cium tangan Alber, tapi mereka yang jingkrak-jingkrak sangking sweetnya. Mereka yang hadir ikut melting.


Prosesi sakral akad pagi ini ditutup dengan pembawa acara mempersilahkan Alber mencium kening Uta.


"Cium ... Cium ... Cium ..." Ucap teman-teman mereka heboh bukan main, membuat Uta tersipu malu. Alber semakin mendekat ke arahnya. Dan ...


CUP


Alber mencium kening istrinya dengan sayang, membuat yang menyaksikan berguman heboh. Suasana di ballroom itu begitu penuh dengan cinta. Cinta Uta dan Alber.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.






Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.


...Novel+Cookies \= ...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...

__ADS_1


❤ ZEROIND


__ADS_2