Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
142. Keputusan


__ADS_3

Author POV


"Baiklah, jika kamu hanya bahagia dengan Felix. Aku akan mendukung kebahagianmu. Berbahagialah Ta. Kamu pantas untuk itu. Berjanjilah padaku, bersamanya hanya ada tawa. Jangan pernah menangis untuk hal apapun." Ucap Alber tulus dari hati yang terdalam, meski hatinya kini hancur terhantam kenyataan.


"Ya, aku berjanji." Ucap Uta menatap Alber.


Alber kemudian pergi meninggalkan Uta sendiri di sana. Tanpa sepengetahuan Alber, gadis yang semula tampak kuat, runtuh terduduk tak berdaya. Hanya air mata, satu-satunya yang mengetahui betapa ia terluka.


Maaf. Maafkan aku. *Uta


Flashback starts


Uta POV


Hari ini aku datang ke sekolah dengan sangat berat hati. Beban ratusan kilo seolah membebani langkah kakiku menuju Z1. Entahlah, rasanya bingung mau bicara apa nanti. Toh pada dasarnya Alber mengetahui bahwa tak ada yang terjadi di hotel kemarin.


Hari ini Alber memintaku bicara dengannya sebelum bel masuk sekolah. Alber yang baru mengetahui kejadian ini seusai lomba sore hari, meminta izin untuk datang ke rumah, namun mati-matian kularang agar Mamah tidak tahu masalah yang terjadi. Aku tak ingin Mamah tau masalah ini. Aku tak rela hati Mamahku hancur membaca komentar orang yang merendahkannya. Tidak, TIDAK AKAN!!

__ADS_1


Dari jauh, gerbang kebanggaan Z1 sudah terlihat. Saat aku mendekat kesana, beberapa siswi yang juga baru datang sudah silih berganti menatapku penuh penghakiman. Kusadari mereka satu dari sekian orang yang termakan gosip miring kemarin. Ah sudahlah, apa boleh buat. Dijelaskan seribu kali pun, mereka belum tentu mau percaya.


Sengaja kupilih rute terpendek menuju kelas 3 IPA-2. Kulangkahkan kaki ini melewati area parkir mobil, sebab jarak menuju kelas akan sangat ringkas jika melewati rute itu. Samar-samar aku mendengar beberapa orang masih membahas gosip kemarin.


"Hati-hati lo Ber, tuh anak main dukun. Lo gak bisa berpikiran sehat karena pengaruh dukun. Si Felix korbannya juga dulu." Ucap Benny, siswa laki-laki yang mulutnya agak lemes.


"Tau nih, kayak gak ada cewek lain aja Ber." Ujar Linda menebalkan ucapan Benny. Linda mengucapkan hal itu sembari mengibaskan rambut bergelombangnya.


"Itu semua gak benar, cuman fitnah murahan dari orang gak jelas. Uta bukan gadis seburuk tuduhan kalian." Ucap Alber, mencoba mengklarifikasi fakta tentangku pada mereka.


"Udahlah Ber, gausah belain si gendut itu. Bisanya ngejual diri aja, pake lo belain!!" Ucap Benny dengan senyum sinisnya. Membuat teman-teman sekitarnya ikut menertawakanku.


"Ber jaga emosi lo Ber. Gausah ngeladeni orang-orang yang gak ngotak ini!!" Ucap Seto yang menarik Alber sebelum baku hantam terjadi. Seto yang juga baru memarkirkan mobil, langsung berlari melihat Alber menarik kerah Benny.


"Mending lo semua cek kebenarannya, baru lo orang pada ngomong." Ucap Edgar yang juga menahan Alber yang kepalang emosi. Edgar yang lupa earphonenya tertinggal di mobil, memilih balik dan tak sengaja mendengar Alber hampir berkelahi.


Untung saja dua orang laki-laki itu berinisiatif melerai Alber agar tak sampai lepas kendali lebih jauh. Dari pihak Benny, beberapa temannya juga dengan susah payah membantu melepas kerah itu dari cengkraman Alber. Alber yang sedang tersulut emosi, entah kenapa memiliki tenaga 3 kali lipat dari biasanya. Setengah mati kerah seragam Benny baru bisa terlepas dari cengkraman tangannya.

__ADS_1


"Berisik lo semua!! Gak ada kerjaan lo, sampe ngurusin hidup orang." Ucap Seto menambahi. Mereka berdua bahu-membahu menarik Alber dari pusaran perkelahian.


Melihat betapa marahnya Alber membuat Benny dan gengnya memilih diam, nyalinya otomatis menciut. Mereka rupanya sadar, nyali Alber tak main-main. Mereka bisa habis ditangan Alber jika berani mengusik nyali itu sekali lagi. Alber yang merasa Benny dan kawan-kawannya tak akan berani lagi membuka mulut, baru membiarkan dirinya ditarik mundur oleh Seto dan Edgar.


Aku terdiam di sudut area parkiran. Sedari tadi tak henti-hentinya air mata ini jatuh berderai. Aku sedih orang-orang membicarakanku begitu buruk, bahkan di belakang diriku. Tapi perasaanku lebih hancur berkeping-keping saat melihat Alber sampai ingin berkelahi hanya karena membelaku dari cemoohan orang-orang.


Alber tak seharusnya membelaku seperti itu. Untung saja ada Seto dan Edgar yang mencegah amarah Alber berubah menjadi adu jotos di sekolah. Karena jika perkelahian itu sampai terjadi, aku akan sangat merasa bersalah padanya. Aku tidak ingin lagi ada orang yang berkorban hanya untuk membela diriku. Cukup Edgar yang terakhir kali melakukan itu. Aku tidak ingin lagi ada Edgar-Edgar yang lain.


Kuputuskan untuk menempuh jalan agar Alber menjauh dariku.


Flashback ends


Bersambung .............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2