![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Satu Minggu sudah Alber memakan catering bekal, bareng Uta setiap istirahat. Mereka berdua juga sudah jauh berteman lebih akrab. Bahkan bisa dibilang, saat ini Uta jauh lebih sering bersama Alber, dibandingkan ia bersama Reta dan Edgar.
Selama beberapa waktu belakangan, Reta selalu mengikuti sela-sela kesibukan Edgar yang selama beberapa bulan kedepan, mempersiapkan keikutsertaannya dalam turnamen basket nasional. Reta hanya akan terlihat di radar Uta saat pelajaran berlangsung saja. Selebihnya dia akan menuju kemana Edgar latihan.
Hal itu membuat Uta, Reta dan Edgar jarang berkumpul bersama. Sebenarnya dulu mereka selalu bertiga di banyak kegiatan. Namun terdapat sesuatu hal, yang menyebabkan Uta tak lagi sering berkumpul bersama 2 sahabatnya itu.
Hal itu ia lakukan karena ingin menghindari seseorang yang kemungkinan akan sering berpapasan, karena orang tersebut berada di lingkungan yang sama dengan Edgar. Oleh sebab itu, ia sudah tak lagi sering melakukan aktivitas bersama dua sahabatnya.
Hari ini tampak sedikit berbeda, sebab Reta yang biasanya selalu saja mengekor kemanapun Edgar pergi, hari ini tak melakukannya. Hal itu disebabkan karena hari ini anak-anak 2 IPA-2 harus menjalani ulangan harian matematika alias MTK. Dan guru matematika yang mereka hadapi adalah salah satu guru ter killer di Z1.
Jangankan untuk ulangan harian, untuk tugas atau PR beliau akan langsung memberikan nilai nol jika terlambat dikumpulkan walau hanya satu menit. Beliau hanya akan menerima tugas susulan, bagi siswa yang sakit dengan melampirkan surat sakit dokter atau siswa yang izin dengan dispensasi sekolah seperti Edgar, yang mewakili sekolah dalam bidang basket.
Sedangkan selain daripada itu, jangan harap tugasnya diterima oleh sang guru killer. Oleh sebab itulah, hari ini Reta tak berani izin sama sekali. Bahkan makan siang kali ini pun ia bergabung bersama Uta dan Alber.
"Ya ampun Re, lo bawa bekal atau mau ngadain hajatan??? Buset banyak banget, ini cukup buat makan 5 orang tau nggak!!!" Ucap Uta melihat bekal yang Reta bawa benar-benar banyak. Bagaimana tidak, Reta membawa dua buah rantang bersusun ukuran besar. Mulai dari nasi, lauk pauk, sayur-mayur, buah-buahan hingga sampai berbagai macam jenis kue basah.
Belum lagi ia membawa beberapa jenis minuman kemasan. Mulai dari susu vanila, susu strawberry, susu coklat, jus jambu biji, jus jeruk, jus leci, teh kemasan yang biasa, teh kemasan yang rendah gula, teh buah, air mineral biasa dan air mineral + ion.
Luar biasa banyak, bahkan kami sampai harus menyatukan dua meja di depan kami, untuk cukup menaruh segala yang Reta bawa.
"He ... he ... he. Ta.. Ta, Kayak lo nggak tahu Mama aja. Ini udah termasuk sedikit buat Mama tau nggak. Mama bahkan bilang ini masih kurang, entar kalau Edgar kurang gimana? Entar kalau Uta kurang gimana? Entar kalau teman- teman yang lain mau gimana?? Gitu katanya." Ucap Reta sambil mencontohkan persis yang Mamanya ucapkan padanya pagi tadi.
"Ya tapi kan tetep aja ini kebanyakan Re, mana kita cuman bertiga lagi." Ucap Uta kekeh menyatakan ini terlalu banyak.
"Udahlah Ta jangan sebel. Namanya juga ibu-ibu. Pusing kita kalau mau melawan ibu-ibu nggak akan pernah menang." Ujar Reta santai agar Uta tak terlalu sebal. Ya, harus diakui bahwa sebenarnya Reta bukanlah orang yang ribet.
Justru gadis itu tergolong sangat simple. Itulah sebabnya ia klop berteman dengan Uta dan Edgar, yang juga memang simple. Mereka bertiga memiliki satu kesamaan, yaitu jarang meribetkan sesuatu. Kalau bisa dibikin simple, kenapa mesti dibikin ribet.
__ADS_1
Urusan bekal yang terlalu banyak ini, Uta yakin bahwa ini seratus persen ulah Mama Reta. Tapi Uta juga yakin, hal ini Mama Reta lakukan semata-mata karena beliau memang ringan tangan untuk memberi. Tak pernah sekalipun Mama Reta pelit kepada Edgar maupun Uta ataupun teman-teman Reta yang lain.
"Sejak kapan lo Ber catering bekal sama Mamah Celine??" Ucap Reta menginterogasi Alber.
"Kurang lebih seminggu yang lalu." Jawab Alber singkat padat dan jelas.
"Kok gue nggak diajak sih Ta?? Gue ikutan yah, masakan nyokap lo kan the best. Boleh ya Ta?" Rengek Reta kepada Uta, agar ia bisa ikut catering bekal buatan Mamah Celine.
"No. Big No." Tolak Uta tegas kepada Reta. Bahkan gadis itu menyilangkan kedua jari telunjuknya pertanda tidak.
"Kok nggak boleh sih?? Itu Alber aja boleh. Lo berdua jangan-jangan ada hubungan ya??" Ucap Reta menatap bergantian Uta dan Alber yang berada duduk bersampingan tepat didepannya.
"Mulai ngaracik gosip nih orang. Gue ngebolehin Alber, soalnya dia tanggung jawab sama bekalnya. Selalu dihabisin dan gak pernah komplain apapun menunya. Lah ... Lo tiap kali gue bawain bekal, lebih sering dianggurin. Lo lebih milih ngintilin Edgar kemana mana. Balik-balik, lo udah makan bareng dia di kantin. Gue kasian sama bekalnya, mubazir Re. Kasihan dong nyokap gue masak pagi-pagi." Omel Uta panjang lebar, agar menyadarkan pikiran Reta yang bengkok.
Uta juga geleng-geleng dengan pemikiran Reta yang absurd itu. Di sisi lain, ia juga tak enak hati kepada Alber. Takut laki-laki itu tak nyaman mendengar ucapan Reta yang mengada-ngada. Untungnya Alber tampak santai saja menikmati makanannya.
"Kenapa kalian nggak makan bertiga aja??" Alber yang sejak tadi hanya makan sambil mendengar dua sahabat berceloteh, tanpa sadar bertanya spontan.
"Hmm ... Itu ..." Mendengar pertanyaan Alber, Uta mendadak tak bisa berkata-kata. Bahkan makanan yang sedang ia kunyah terasa sulit ditelan.
"Supaya gue bisa PDKT sama gebetan gue dong. Iya kan Ta??" Ucap Reta mengambil alih menjawab Alber.
"Of course, Lagian males banget ngeliat Tom and Jerry, tiap hari berantem mulu tiap ketemu." Tambah Uta menimpali jawaban Reta.
"Ha... ha... ha... Tapi gue seneng banget deh, ada hikmahnya lo catering bekal Ber ke Mamahnya Uta. Senggaknya nih bocah nggak sendirian pas istirahat. Jujur kadang-kadang gue tuh suka kepikiran lo Ta. Aduh gimana ya, nih anak istirahat sendirian." Ucap Reta kepada Alber.
"Hey ... hey. Siapa coba yang bocah??" Protes Uta menyambar langsung ucapan Reta.
"Ya lo lah, siapa lagi. Chubby nya pipi lo itu kayak anak balita, tahu nggak?? Pengen banget gue cubit tuh pipi." Mendengar ucapan Reta ditambah melihat Alber senyum, membuat Uta bete.
__ADS_1
"Ha... ha... ha. Udu..du..du ada yang bete. Bercanda ah!! BTW, ntar ulangan fisika. Please deh Ta, putusin deh rekor remedial abadi lo itu. Heran gue." Ucap Reta lagi dengan entengnya.
"Kenapa pakai diingetin segala sih, rese banget lu Re!!! Lo kan tahu sendiri, gue emang nyerah kalau udah berhubungan dengan rumus-rumus. Puyeng duluan gue." Ucap Uta frustasi membayangkan ulangan fisika yang sebentar lagi akan mereka laksanakan.
"Ha.. ha.. ha.. Lo tuh ya aneh bin ajaib. Ide aja banyak, pelajaran lain pintar. Giliran hitungan pake rumus, langsung nge heng." Ucap Reta tertawa melihat Uta, terlebih dengan wajah frustasinya. Meskipun Reta tertawa ngakak, tapi bahasa sesungguhnya dalam hati Reta selalu berdoa yang terbaik kepada sahabatnya itu.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies PunYa Cerita...
❤
ZEROIND
__ADS_1