![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Seperti yang sudah kuduga, Uta tak dapat berkutik ketika aku bilang akan mengantarnya pulang dengan beralaskan ide cemerlangku tadi. Hanya saja ide tersebut sedikit ku modifikasi. Aku mengatakan, bahwa Babam lah yang mengamanahkan diriku untuk mengantarkan langsung oleh-oleh tersebut pada Tante Celine. Hasil modifikasi ide tersebut tentu saja membuat Uta tak bisa berkutik.
"Kenapa?" Tanya ku sebab Uta tampak setengah melamun dan setengah mikir.
"Apanya?" Pertanyaanku membuatnya menoleh kepadaku. Tatapan bingung ada di wajahnya.
"Wajahmu dari tadi seperti orang lagi mikir." Jawabku menjelaskan tujuan bertanya tadi.
"Aku cuman gak habis pikir, kok Babam bisa baik banget ngasih aku sama Mamah oleh oleh, sampai-sampai nyuruh kamu yang ngantar langsung. Padahal aku baru ketemu Babam hari ini." Ujarnya memuji Babam penuh kekaguman. Aku tak menyangka efek modifikasi ide, berakhir dengan kekaguman Uta pada Babam dan bukan kepadaku.
Wah Babam menang banyak!! *Alber
"Gimana gak gitu, hari hari Babam dengar cerita tentang kamu dari Putri sama Annem lewat telpon." Ucapku jujur apa adanya. Memang Annem dan Putri sering kali menceritakan tentang Uta ke Babam lewat telepon. Terlebih Putri yang sayang sekali dengan Uta.
"He .. he .. he .. Babam sepertinya family man banget, serasi dengan Annem yang keibuan dan ceria. Emang takdir Tuhan tuh paling best." Ucapnya lagi sambil senyum-senyum sendiri.
"Ya Babam family man banget. Sama banget kayak anaknya ini. Emangnya kamu gak lihat aura aura family man di aku?" Jawabku penuh keyakinan.
"Tentu lihat dong, sangking kuatnya aura family man di kamu, sampe sampe tiap hari berantem sama Putri." Jawabnya dengan telak, berbanding terbalik dengan pernyataan pedeku barusan. Lagi lagi jawaban yang tak bisa ku prediksi.
"Kalo pas lagi berantem, itu kebetulan aku lagi man aja, gak pake family." Ujarku ngeles dengan bumbu komedi.
__ADS_1
"Wahh ... Bravo bravo!!" Ucapnya sambil bertepuk tangan mendengar jawaban ku yang mengarang bebas.
"Ha .. ha .. ha .." Mendengar jawabannya, tawaku langsung meledak. Serunya ngobrol dengan Uta, membuat waktu rasanya berjalan cepat. Tak terasa si hitam sudah sampai depan rumah Uta.
"Kamu yakin ikut turun? Gak mau aku aja yang kasiin ke Mamah aku?" Dia masih mencoba membujukku agar aku tak usah turun dan masuk kedalam.
"Ingat, ini amanah. Aku harus anter langsung." Ucapku mengingatkan bahwa aku mesti yang mengantarnya langsung ke Tante Celine.
"Huftt ..." Mendengar ucapanku, Uta hanya bisa menghela nafas berat. Kata 'amanah' sekali lagi menyelamatkanku.
"He .. he .. he .. Yok turun." Ajak ku padanya. Kuambil bingkisan untuk Tante Celine dari bagasi yang berada di bagian depan mobil. Ku lihat Uta masih berdiri disamping mobil menungguku. Ia menawarkan membantu membawa bingkisan namun ku tolak, biar aku saja. Kami kemudian berjalan melewati pagar rumah Uta.
"Ta kok sepi? Tante dirumah gak?" Ucapku spontan. Karena tumben sama sekali tak ada orang di halaman samping. Biasanya paling tidak nampak salah satu atau beberapa pegawai Tante Celine yang mondar-mandir, sibuk mengerjakan orderan makanan. Tapi kali ini, baik Tante Celine maupun pegawainya, saat ini tak terlihat di sana. Kulihat gadis di sampingku juga menunjukkan sedikit raut bingung.
"UTA ANAK PEMBAWA SIAL KESAYANGAN KAMU!!!" Mendengar namanya disebut, Uta yang sudah memegang gagang pintu, tak kuasa memutar gagang pintu yang ia pegang. Tak bisa ku pungkiri, aku juga kaget mendengar pertikaian itu. Kuletakkan bingkisan yang berada di tanganku di kursi teras rumah.
"Astagfirullah... MAS!!" Kali ini terdengar suara Tante Celine sedikit bernada tinggi.
"KAMU BERANI BERANINYA BENTAK AKU!!?? LIHAT KELAKUANNYA!! KAMU CAPEK-CAPEK KERJA BANTING TULANG, DIA PERGI KELAYAPAN NGGAK JELAS." Teriak lawan bicara Tante Celine lagi. Entah dasar apa orang tersebut menuduh Uta kelayapan, padahal fakta sebenarnya sama sekali tidak begitu.
Kuraih lengan Uta, berusaha membawanya pergi saja dari sana. Gadis itu menoleh kepadaku dan menggelengkan kepala, pertanda ia menolak pergi dari sana.
"STOP MAS! Uta itu kerja. Anakmu kerja, dia bukan kelayapan seperti yang kamu tuduhkan." Jawab Tante Celine meng-counter perkataan tak berdasar tersebut. Suara pertikaian itu semakin mendekat ke arah pintu. Dan benar saja, pintu rumah terbuka. Tampak lah sesosok laki laki paruh baya yang dengan mudah ku tebak, beliau adalah Papah dari Uta. Hal tersebut dikarenakan tingkat kemiripan wajah mereka berdua.
__ADS_1
"U ... Uta??" Ucap Tante Celine yang sangat kaget, karena aku dan putrinya berada di balik pintu. Kesedihan yang amat sangat, terlihat jelas di wajah beliau yang biasanya selalu ceria. Di kedua pipinya menggenang air mata bukti nyata kesedihan itu.
"BAGUS KALAU KAMU KERJA. SUDAH SUDAH JADI BEBAN KELUARGA. KENAPA GAK DARI DULU KAMU SADAR DIRI!" Ucap Papah Uta dengan wajah penuh amarah dan tak suka pada putrinya sendiri.
"CUKUP MAS!!" Teriak Tante Celine menyetop suaminya berkata lebih jauh lagi. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat kearah kami.
"Alber, boleh tante minta tolong? Tolong bawa Uta pergi sebentar. Tante mau bicara sama Papahnya Uta. Nanti tante kabari Alber, kalo udah selesai bicara ya." Ucap beliau kepadaku. Tangan hangat itu meraih tanganku saat menyampaikan permintaanya. Dapat kurasakan tangan tersebut sedikit bergetar. Ku anggukkan kepala, pertanda akan ku penuhi permintaan beliau. Sejujurnya tanpa beliau minta pun, sedari tadi aku sudah sangat ingin membawa Uta pergi jauh dari sini.
Beliau melepas tanganku lalu bergeser mendekat ke arah Uta, untuk kemudian memeluk erat Uta dengan penuh sayang. Uta yang dipeluk Tante Celine hanya diam membeku. Seusai memeluk putrinya, beliau menoleh kearah ku dan memberikan kode untuk segera membawa putrinya menjauh dari area pertikaian ini. Ku raih tangan Uta dan perlahan membawanya pergi dari sana. Uta tampak tak berdaya, hanya bisa menurut saja ketika aku membawanya.
"BELA TERUS ANAK SIAL ITU!!" Samar samar terdengar pertengkaran itu kembali berlanjut saat kami sudah menjauh.
"MAS!! KAMU KETERLALUAN MAS." Terdengar suara Tante Celine membalas perkataan Papah Uta.
Ku buka pintu mobil untuk Uta dan memastikan gadis dasi masuk. Setelah memastikan Uta duduk aman, kututup pintu mobil dan bergegas masuk ke kursi kemudi. Kulajukan si hitam secepatnya pergi dari sana.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1