![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Kami sudah diperjalanan pulang menuju rumah. Putri yang sudah lelah, langsung tepar di pangkuan Uta. Namun tak lama sang pawang juga terlelap tidur, membuatku jadi tersenyum. Kuturunkan sandaran kursi Uta, agar ia tidur lebih nyaman.
Ku kemudikan si hitam sangat hati-hati. Jangan sampai ada turbulensi yang mengganggu tidur dua orang di sampingku. Hingga akhirnya si hitam memasuki gerbang rumah. Dengan sigap Pak Bayu membukakan gerbang agar aku masuk tanpa halangan.
"Hoahhmm ... Kita udah sampe. Aku ketiduran yah?" Tanya Uta yang membuatku hanya terkekeh. Ini yang namanya bertanya, sekaligus menjawab hal itu sendiri.
Aku turun deluan kemudian berjalan ke arah Uta. Kubuka pintu mobil lalu mengambil alih bocil perlahan. Kami kemudian masuk ke dalam. Tante Tifah yang melihat kedatangan kami langsung menghampiri.
"Masih tidur Ber?" Tanya beliau.
"Tepar Tan." Jawabku singkat. Beliau kemudian membantu membukakan pintu kamar. Kuletakkan bocil diatas kasur selembut mungkin. Kuselimuti anak gemas itu, sebelum mencium pipi chubbynya.
Uta datang membawa perlengkapan Putri yang tadi tertinggal di mobil. Ia juga mencium pipi geyal-geyol Putri, kemudian pamit pulang pada Bunda Putri. Kulirik jam diruangan itu, benar saja sudah diangka 05:20 sore.
"Ya udah yok aku anter." Ujarku padanya.
"Tapi ..." Uta tampak menggeleng tak setuju.
Tapi Ayleen ada disini. *Uta
"Ingat, kamu udah janji nurutin aku seharian ini." Ucapku mengeluarkan kartu as ku yang masih berlaku hari ini.
"Heahhh ... Oke." Ia akhirnya mau tak mau menurut.
Kami berjalan menuju ruang keluarga, Uta ingin pamit pada Annem. Aku juga minta izin ke Annem untuk mengantar Uta. Kulihat Ayleen masih mengobrol sama Annem.
Awalnya Annem sempat menahanku karena Ayleen sudah menungguku berjam-jam. Ditambah lagi Ayleen juga menunjukkan wajah keberatan. Tapi aku tetap pada keputusanku, membuat Annem akhirnya mengizinkan. Untuk menetralkan suasana, beliau kemudian menitipkan sesuatu untuk diantar ke temannya. Teman Annem ini kebetulan sedang berada di sebuah hotel yang terletak searah menuju rumah Uta.
"Kita singgah bentar antar amanah Annem, abis itu baru lanjut kerumah kamu. Gak papa kan?" Ujarku padanya saat kami sudah duduk di si hitam. Uta sudah memangku kotak titipan yang akan kami antar dulu.
"Iya gak papa." Jawab Uta.
"Kenapa? Santai aja Ta. Annem kalo ngebolehin tuh artinya beliau memang gak keberatan." Ucapku lagi.
__ADS_1
"Enggak, aku pengen singgah beli sesuatu." Ujar Uta menyampaikan apa yang ia pikir.
"Ya udah, entar aku anterin abis nganter itu kotak." Ucapku agar ia tenang. Kami pun berjalan ke titik pertama.
"Ikut gak keatas, ngantar ini?" Ucapku saat diparkiran basement.
"Ehm ... Gimana ya? Kok parkiran disini kayaknya agak serem ya?" Ia tampak bingung melihat sekeliling yang agak gelap.
"Masa sih? Yang namanya hantu tuh ada dimana-mana Ta." Candaku iseng padanya.
"Alber!! Jangan nakut-nakutin aku." Mendengar itu, Uta protes dengan hawa-hawa agak takut.
"He ... he ... he .. Jadi ikut naik gak?" Tertawalah aku melihat ekspresi ketakutannya. Tampak ia goyah dan memilih ikut.
Kami akhirnya berjalan bersama ke dalam, untuk mengantarkan titipan Annem. Teman Annem tersebut berada di lantai sebelas. Saat ku ketuk nomor kamarnya, seorang wanita paruh baya langsung mengenaliku. Hal itu disebabkan karena wajah ini mirip sekali dengan Babam.
Beliau menawarkan singgah barang sebentar untuk minum dulu, namun ku tolak dengan halus dan memilih langsung pamit pulang. Kulanjutkan perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan yang sejalur dengan rumah Uta. Gadis itu baru saja selesai menelpon Tante Celine, mengabarkan kalau akan pulang sedikit terlambat.
Rupa-rupanya gadis dasi ingin membeli sesuatu untuk Putri besok. Ia mungkin tak ingin melepaskan Putri pergi, tanpa membawa suatu kenang-kenangan darinya. Lucu juga melihatnya memilih-milih item yang ingin dibeli. Menurutnya semuanya bagus.
"Big no!! Aku gak mau Ber. Aku pengen ngasih hadiah buat Putri dari uangku sendiri. Okey!!" Ucapnya menolak mentah-mentah penawaranku. Ya aku bisa mengerti alasannya itu. Uta sangat-sangat sayang sama si bocil.
"Oke." Jawabku menghargai pendapatnya. Ku ikuti langkahnya menuju kasir. Uta menyelesaikan pembayaran item yang ia pilih.
"Kamu nyiapin kado untuk Putri gak Ber? Atau udah?" Tanya Uta padaku sembari memamerkan paper bag hasil buruannya.
"Hemhh ... Pengen sih, tapi bingung mau kasih apaan?" Jawabku terus terang.
"Gimana aku bantu pilihin?" Tawarnya memberikan bantuan."
"Deal." Ucapku langsung menyetujui.
_____________ Z _____________
Kami berpindah ke sebuah toko pakaian khusus anak-anak. Tapi ini bukan toko pakaian anak-anak biasa. Melainkan toko anak-anak dengan fitur tertentu. Mereka menawarkan salah satu spesialisasi unik, yang jarang ditemukan di toko pakaian lain.
__ADS_1
"Ber ini bagus gak?" Tanyanya menimbang-nimbang beberapa pilihan.
"Bagus." Jawabku.
"Kalau ini bagus gak?" Tanyanya lagi.
"Bagus" Jawabku.
"Kalau yang ini?" Ujarnya.
"Good." Ucapku.
"Heaahhhhhh ..." Ucapnya mulai kesal karena aku bukannya membantu mempermudah pilihan. Melainkan membuatnya semakin bingung.
Buatku semuanya terlihat sama saja. Daripada melihat semua tumpukan baju itu, aku lebih suka melihat orang yang memilihnya. Itu jauh lebih menyita perhatian mata ini.
10 menit kemudian, Uta sudah memenuhi troli belanjaanku dengan item pilihannya. Ia kemudian menyuruhku untuk ke bagian kasir dan menyelesaikan pembayaran. Selesai dari situ, kami memutuskan untuk tak singgah ke mana-mana lagi. Aku mengantar gadis dasi pulang.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
❤
__ADS_1
ZEROIND