Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
170. Ayo


__ADS_3

Author POV


Esok harinya, Uta sedang sibuk berkutat di dapur rumahnya. Setelah tadi pagi ia mengikuti kuliah online sekitar 3 jam lamanya. Kini gadis itu sedang meracik bumbu untuk masakannya.


Alber yang kemarin pulang dijemput Baris, mengatakan hari ini ia akan kerumah Uta siang hari, seusai dirinya rapat. Jadilah Uta berinisiatif memasak untuk makan siang bersama.


Buntut sapi bahan utama yang gadis itu pilih. Uta membuat dua menu dengan bahan tersebut. Sop buntut dan buntut bakar bumbu, ide masakan yang terpikir untuk ia olah. Cuaca mendung membuat Uta berpikir, menyantap ini akan tambah nikmat. Uta juga berinisiatif membuat sambal sebagai pelengkap. Ia benar-benar mencurahkan aura-aura chef dalam dirinya.


Tak berselang lama terdengar suara bel. Uta kemudian berjalan kearah pintu. Dibukanya pintu, dan terlihatlah wajah pacar tampannya. Diikuti Baris yang membawa beberapa paper bag dibelakang.


Alber yang baru pulang dari perusahaan, datang masih memakai setelan jasnya. Tangannya merentang saat semakin dekat dengan Uta. Dipeluknya gadis itu sangat erat. Blush... pipi Uta sontak memerah, Alber memeluknya bahkan saat ada Baris disini.


"Sumpah aku kangen banget." Bisik Alber masih belum mau melepas Uta dari rengkuhannya. Namun bukan itu fokus gadis itu.


"Alber ... badan kamu panas banget." Ujar Uta menyadari badan Alber panas. Gadis itu lantas menyentuh dahi Alber, untuk mengecek panas tubuhnya. Rasa panas langsung terasa di telapak tangannya.


"Iya sedikit. Tapi aku gak ngerasa sakit. I'm fine Ta." Ucap Alber dengan yakinnya. Uta mengakui Alber memang tak seperti orang sakit. Andai laki-laki itu tak memeluknya, mungkin dirinya juga tak tahu Alber sedang demam.


"Iya tapi ini panas banget. Pasti karena kehujanan kemarin. Kamu gak pusing?" Tanya Uta khawatir, tapi yang sedang di khawatirkan malah menggeleng dengan senyam-senyum.


"Udah minum obat deman?" Tanya Uta lagi. Alber kembali menggeleng.


"Ya udah makan dulu sekarang, abis itu minum obat." Titah Uta tak bisa dibantah.


"Oh iya, Baris silahkan masuk. Belum makan siang juga kan? Makan siang bareng aja disini." Ajak Uta pada asisten Alber. Baris sesaat melihat kearah bosnya. Ia kemudian menjawab setelah Alber memperbolehkan.


"Ba ... baik nona. Terima kasih." Jawab baris kikuk.

__ADS_1


..._____________ Z _____________...


Uta yang sedang fokus menata hasil masakannya sedikit terusik oleh ulah seseorang. Alber yang Uta suruh duduk diam di sofa, memilih melepas jas dan menggulung lengan kemejanya setinggi siku. Ia lalu berjalan ke arah dapur dan memeluk Uta dari belakang. Lengan kokoh itu mengitari perut langsing Uta sekarang. Rahang tegasnya mendarat mulus di bahu Uta. Di hirupnya dalam-dalam wangi menenangkan dari gadis itu.


"Alber kamu sedang a ... apa??" Protes Uta yang kaget Alber mendekapnya.


"Aku butuh energi. Aku lagi sakit ini. Aku pasien sekarang. Kamu gak boleh marah." Ucapnya dengan suara selemah mungkin agar Uta iba.


"Bukannya tadi katanya gak sakit!!" Jawab Uta telak pada Alber.


"Itu tadi. Ini mulai kerasa sakit. Kayak pusing-pusing gitu." Tapi bukan Alber namanya jika tak bisa bersilat lidah. Ada saja jawaban Alber yang sebenarnya iseng, tetapi tak bisa Uta bantah.


"Wkwkwkwkwk ... Masuk alasan itu ya, Masuk pak Eko." Tawa renyah Uta mengalun indah di dapur minimalis itu. Alber yang sudah mengantongi kemenangan, semakin nyaman memeluk gadisnya menyelesaikan prakarya santap siang.


..._____________ Z _____________...


Uta kemudian menyiapkan bagian Alber terlebih dahulu, baru mengisikan mangkok sop buntut untuk Baris. Uta juga mempersilahkan Baris mencicipi semua hidangan tanpa perlu sungkan.


"Enak?" Tanya Uta pada dua laki-laki di meja makannya. Dirinya senang melihat Alber makan dengan lahap meski sedang demam.


"Banget." Jawab Alber kembali melahap sesendok sop buntut kuah dengan nasi.


"Enak sekali nona." Jawab Baris sesopan mungkin. Dirinya sedang mengeksekusi buntut bakar bumbu dengan dicocolkan ke sambal bawang. Uta jadi lega mendengarnya.


Sejak kapan kamu bisa masak? Bukannya dulu cerita, kamu sukanya bikin kue atau cookies aja. Gak tertarik masak selain itu." Tanya Alber ingin tahu.


"Sejak di Padang Panjang. Habisnya waktu awal-awal pindah kesana, gabut mau ngapain. Terus kasian sama Mamah juga. Mamah udah terbiasa masak ini itu buat catering. Jadi pas disana, Mamah sering galau karena kangen rutinitasnya. Ya udah, aku temenin aja Mamah masak aja di dapur. Eh malah bisa. Wkwkwkwkw..." Ucap Uta mengenang kembali hal itu.

__ADS_1


"Gimana aku gak sayang kalau gitu?" Ucap Alber menggoda Uta. Blush ... Uta malu sebab Baris ada disana, memukul lengan kokoh Alber dan memberi kode diam.


"He ... he ... he ..." Alber jadi terkekeh geli.


..._____________ Z _____________...


Usai kenyang mengisi perut, Uta lantas memberikan obat penurun demam untuk Alber minum. Ia juga menempelkan kompresan instan untuk anak-anak di dahi laki-laki itu. Alber menurut.


Dirinya kini duduk di sofa panjang Uta. Sementara Baris asistennya sedang ke toilet. Alber lalu meminta Uta yang baru selesai membereskan meja makan, untuk duduk menemaninya. Di genggamnya jemari cantik Uta dan sengaja menyenderkan kepalanya di bahu gadis itu.


"Masih pusing? Udah enakan gak?" Tanya Uta yang tau Alber mulai manja karena mengantuk. Mungkin efek perut sudah terisi, plus efek samping obat demam mulai bereaksi.


Alber hanya diam tak menjawab. Ia terlalu nyaman di dekat Uta, memilih memejamkan mata. Uta tau Alber sedang tidak tidur, sebab laki-laki itu mengelus lembut tangan Uta yang ia genggam.


"Ta ..." Panggil Alber lembut, masih dengan mata tertutup.


"Hemh ...?" Ucap Uta santai menanggapi pasiennya.


"Ayo kita menikah."


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2