![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Sesampainya Uta dirumah, ternyata Ibunda Uta sedang sibuk packing pesanan catering untuk acara ulang tahun anak anak. Ibu Ratu dibantu satu orang karyawannya, sementara karyawan Mamah Celine yang satu lagi sedang pergi berbelanja untuk pesanan besok.
“Assalamualaikum.” Salam Uta menginterupsi kesibukan dua pejuang rupiah di situ.
“Walaikumsalam, kok lama pulangnya Ta?” Terdengar nada khawatir dalam pertanyaan Mamah Celine. Uta yang ke pusda sepulang sekolah plus ditambah lagi misi mengantarkan mini mouse cilik ke orang tuanya, membuat Uta lupa waktu. kini ia baru tersadar sudah lupa memberi pesan ke Mamahnya kalau dia terlambat pulang. Jadi wajar saja jika Ibu Ratu satu ini khawatir.
“Maaf ya Mah, Uta baru sadar lupa chat Mamah kalo pulang terlambat. Tadi soalnya Uta dari pusda Mah, terus tiba tiba ada misi penyelamatan darurat. Jadi deh pulang telat.” Urai Uta sambil memberikan gambaran kisi kisi tentang hari ini.
"Darurat gimana maksudnya? Ada yang jahatin kamu atau gimana Ta? Jelasinnya yang jelas deh." Omel Ibu Ratu. Nampaknya Uta salah memilih diksi yang tepat. Bukannya jelas, Mamah malah jadi panik.
“Duh maaf Mah, bukan gitu maksud Uta. Tadi sebenernya Uta cuman mau kembaliin buku ke pusda dan gak niat baca buku disana. Terus karena hari puanaaas banget, Uta kepikiran beli ice cream. Nah pas ke taman, mau makan ice creamnya, eh ketemu anak kecil sendirian duduk disana Mah.” Jelasnya lagi, ibarat mencoba menguraikan lagi bab 1 pendahuluan.
“Maksudnya anak kecil siapa? Terus apa hubungannya dengan kamu?” Ibu Ratu balik menguji uraian bab 1 tadi.
“Anak kecil itu namanya Putri mah, dia kesesat di taman waktu ngikutin anak anak kompleks main. Dia terpisah dari ibunya.” Ujar Uta ancang ancang masuk ke bab 2 tinjauan teori.
“Terus anak itu gimana dong Ta? Masih ditaman sekarang?” Nampak target mulai tertarik lebih dalam.
“Tentu tidak dong Mah. Itu semua berkat otak intel berkualitas anak Mamah ini. Bundanya ternyata kerja di pusda mah, jadi Uta anterin Putri ke pusda dulu baru pulang.” Pamernya ke Ibu Ratu.
“Syukurlah anak itu udah ketemu ibunya. Ternyata anak Mamah ini bertanggung jawab rupanya.” Puji Ibu Ratu bangga. Terpancar ekspresi lega diwajah beliau.
“Ya dong. Anak Mamah ini punya hati seputih kertas.” Ucapnya pede sambil terkekeh.
“Hahaha ... Jangan lupa Ta, kertas itu banyak jenisnya. Bukan cuma HVS, ada juga kertas buram.” Ibu dan anak itu tertawa bersama karena percakapan lucu mereka.
“Sudah sudah, ganti baju terus makan dulu sana. Mamah mau lanjut ngurusin pesenan.” Titah Ibu Ratu yang bersifat mutlak.
“Siap Ibu Ratu.” Uta pun naik ke lantai dua menuju kamar untuk berganti pakaian. Saat membuka dasi, ia jadi teringat kejadian tadi pagi. Diputuskannya untuk langsung mencuci dasi itu dan dikeringkan dengan mesin pengering. Lalu di jemurnya dengan cara diangin anginkan di balkon kamar.
__ADS_1
Uta turun kebawah dengan wajah segar usai mandi. Ia berjalan ke meja makan lalu mengisi perut dengan beberapa lauk lezat masakan Mamah Celine. Setelah perut terisi, dirinya pergi keruangan samping rumah untuk membantu Ibu Ratu mengurus pesanan.
“Sudah makan Ta?” Memastikan anaknya sudah makan.
“Sudah Mah.” Jawab si anak sambil membungkus beberapa makanan ke dalam wadah kemasan.
“Lain kali jangan lupa whatshapp Mamah ya kalau mau singgah kemana dulu. Jadi Mamah gak khawatir Ta.” Mamah Celine mengingatkan Uta sekali lagi.
"Okey Mah." Jawabnya yakin dan pasti.
Tak terasa matahari sudah terbenam, Uta kembali kekamar untuk sholat magrib dilanjutkan mengerjakan PR dan mengulang pelajaran sebentar. Jam menunjukkan pukul 21.30 malam, ia memilih merapikan meja belajar dan menggosok gigi lalu tidur.
_____________ Z _____________
Keesokan harinya bangun tidur, seperti biasa Uta berdiri didepan cermin.
Hari ini juga ayo lalui dengan bahagia. Semangat Uta, you can do it.*Uta
Ia selesai bersiap siap lebih cepat dari kemarin sebab hari ini tak ada gangguan alam. Diambilnya dasi penyelamat yang sudah wangi dan rapi disetrika subuh tadi. Dasi milik Alber lalu dimasukkannya ke dalam paper bag mini. Terakhir paper bag itu ia simpan kedalam tas.
“Ciee yang gak terlambat lagi.” Ejek Reta.
“Perasaan gue baru sekali terlambat deh. No, itupun HAMPIR TERLAMBAT ya. Inget Re, gue lolos dari Pak Akbar.” Ucap Uta pada Reta, tak lupa menebalkan kata hampir terlambat.
“Ha ..ha ..ha .. Selow say.” Reta tertawa geli melihat kesungguhan Uta menjawab.
“Btw Re, Edgar kapan baliknya? Itu anak gak mau sekolah lagi kali ya?” Sahabat mereka yang masih liburan keluarga di negeri orang.
“Tau tuh, gak ngabarin juga.” Ucap Reta singkat tapi Uta masih bisa menangkap nada kecewa yang berusaha Reta samarkan.
“Bilang aja lo kangen sama si Edgar.” Pancing Uta lagi. Reta memang sudah lama menaruh hati pada Edgar. Edgar adalah sahabat Uta sejak TK. Sementara Reta adalah sahabat Uta sejak SMP. Singkatnya sejak saat itu mereka saling bersahabat. Uta, Edgar dan Reta.
__ADS_1
“Kangen lah masa enggak. Biasa kita nongkrong bareng. Emangnya lo nggak kangen sama tuh orang??” Reta balik bertanya.
"Biasa aja, lagian semenjak masalah itu gue males kalo ada urusan yang berbau basket. Lo juga pake suka sama si paling basket. Kan ribet kalo mau ngumpul." Oceh Uta ke sahabatnya itu. Mesti diakui, Uta sekarang sedikit menghindari hal hal yang berbau basket karena suatu hal. Itu sebabnya ia jarang nongkrong bertiga lagi dengan Reta dan Edgar.
"Mau gimana lagi, hati mana bisa ditebak." Reta mencoba membela diri.
“Ah tau ah pusing gue sama kalian berdua.” Uta melengos meninggalkan Reta deluan menuju kelas. Di bangkunya ia memilih membuka buku catatan dan melengkapi yang sekiranya kurang. Tak berapa lama ia merasa kursi di sebelahnya bergerak. Ternyata Alber sudah duduk di bangku sebelah. Seperti biasa, laki laki itu terlihat tampan dari sisi manapun. Mereka masih rada canggung, jadi pagi ini pun hanya saling menyapa seadanya.
Pelajaran pertama dimulai saat bu Melati guru kesenian masuk. Dilanjutkan pelajaran kedua yaitu Informatika, dulunya lebih dikenal dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bu Maya menyuruh siswa membentuk kelompok beranggotakan 2 orang. Beliau menugaskan kelas ini membuat design gelas mug dengan komputer dengan tema keunikan Indonesia.
“Lo sekelompok dengan siapa Ta??” Tanya Alber tiba tiba pada Uta.
“Hah… maksudnya?” Bukannya menjawab, Uta malah bertanya balik. Dirinya terlihat celingak celinguk kearah Reta duduk. Sudah bisa dipastikan Uta berharap Reta akan sekelompok dengan sahabatnya itu, namun Reta tak sedikitpun menoleh kearah belakang. Reta malah terlihat sibuk bicara dengan Seto. Entah apa yang mereka perdebatkan.
“Lo sudah ada teman sekelompok?” Pengamatan Uta terputus kembali oleh suara bariton orang yang duduk di sebelahnya.
“Be ... Belum ada Ber.” Jawab Uta tergagap pada Alber.
Duh Reta tumben banget gak noleh noleh. Tuh anak malah sibuk sama si Seto. *Uta
“Bagus, karena sekarang ada.” Ucap Alber yakin membuat Uta bingung.
“Hah … Siapa?” Spontan Uta bertanya karena dia sendiri pun tak tau.
“Gue.” Ucap seorang Alber Syargan Farabaks mantap.
WHATTTT??? *Uta
Bersambung ..........
..._____________ Z _____________...
__ADS_1
❤
ZEROIND