Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
76. Titip Salam


__ADS_3

Author POV


Sabtu pagi, Uta sudah menuju ke rumah Alber. Busway yang ia pilih, sebagai alat transportasi untuk mencapai istana itu. Sampai disana, dari jauh dilihatnya Bi Ida sedang membawa tumpukan belanjaan, menuju dapur lewat pintu belakang.


"Pagi Bi." Sapa Uta ramah menghampiri Bi Ida.


"Eh, neng Uta udah dateng. Pagi bener Neng?" Jawab Bi Ida, mengetahui Utalah yang menyapanya pagi ini.


"Iya nih Bi, kepagian yah? Uta bantu ya Bi." Jawab Uta cengar-cengir. Dia juga menawarkan untuk ikut membantu membawa beberapa barang kedalam.


"Gak usah neng, lagian ini kerjaan Bibi. Neng Uta langsung masuk aja. Non Putri pasti lagi nungguin Tutanya datang." Bi Ida menolak tawaran Uta, karena merasa hal tersebut bukanlah tanggung jawab Uta, melainkan tanggung jawab dirinya. Beliau mempersilahkan Uta masuk saja ke dalam dan memilih menyelesaikan tugasnya seorang diri saja.


"Iya, ini juga langsung mau masuk, tapi lewat pintu belakang. Biar Putri kaget, Uta ke dalam gak kayak kemarin kemarin." jawab Uta mengutarakan, ide iseng yang akan dia lakukan pagi ini.


"Wah Tutanya mau jahil ini rencananya?" Kejahilan itu nampaknya, tertangkap jelas oleh Bi Ida, membuat beliau yang memuji Uta punya ide jahil, jadi terkekeh.


"He .. he .. Sekalian aja ya Bi, Uta bawain belanjaan Bibi." Bukan Uta namanya, kalau tidak bisa membujuk lawan bicaranya. Benar-benar masuk Pak Eko.


"Ya wes kalo gitu." Dan benar saja, Bi Ida tidak bisa menolak niat baik permintaan gadis tersebut. Ia sudah tidak melarang Uta lagi.


"Nah gitu dong Bi." Jawab Uta dengan melebarkan senyum di wajahnya, karena bujukannya berhasil. Uta kemudian mengangkut dua buah plastik belanjaan yang berisi penuh berbagai macam kebutuhan dapur. Plastik itu memang terlihat tak terlalu besar, namun ketika diangkat, ternyata beratnya melebihi ekspektasi yang dirinya bayangkan. Untung saja dia berinisiatif membantu membawakan barang-barang ini, setidaknya Bi Ida bisa sedikit terbantu.


"Uta taroh di sini ya Bi." Ucap Uta meletakkan barang-barang yang ia bawa, diatas meja area dapur.

__ADS_1


"Iya neng, entar tinggal Bibi susun ke rak pantry. Makasih ya neng, Bibi jadi gak mesti bolak balik." Ucap Bi Ida dengan wajah sumringahnya.


"Iya sama sama Bi. Ya udah ya Bi, Uta mau nyamperin bocil dulu." Ucap gadis itu berlalu pamit meninggalkan dapur.


"Sip, pasti Non Putri udah nungguin neng Uta." Ucap beliau pengertian.


Uta berjalan meninggalkan area dapur dan mulai berjalan menuju ruang keluarga, tempat biasa bocah cilik itu menonton kartun pagi hari. Namun ini bukanlah seperti rumah kabanyakan, melainkan sebuah istana. Tak nampak siapa siapa di jalan menuju ruang keluarga yang masihlah agak jauh dari dapur. Uta terlebih dahulu mesti melewati ruang makan keluarga dulu. Samar-samar Uta mendengar suara yang tak asing bagi kupingnya.


"Ya ampun ini anak! Kalau gak ngisengin Putri, ngisengin Ablanya." Protes Syiba yang merasa dijahili adik semata wayangnya itu.


Tom and Jerry mode ON.*Uta.


Bukan hal baru bagi Uta, di rumah ini Tom and Jerry bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja maupun kapan saja. Uta menajamkan telinganya, namun tak ada suara Putri di sana.


"Huuu ...! Syirik aja sih Ber. Makanya cari pacar sana." Jawab balik Syiba yang sangat telak, maklumlah Alber masih berstatus jomblo sampe sekarang.


"Entar kalo aku ada pacar, jangan ganggu!" Jawab Alber tambah menjadi. Uta yang berjalan perlahan, hampir mencapai ruang makan itu, membuat suara percakapan semakin jelas ditelinga.


"Jadi mau balas dendam nih ceritanya? He .. he .. he .. Oh iya, by the way di Bali, Abla gak sengaja ketemu sama pujaan hatimu. Ayleen. Sumpah Ayleen anggun dan cantik banget Ber. Dia nyapa Abla di cafe Bali. kami ngobrol asik sebentar. Terus pas Abla mau cabut deluan, si Ayleen titip salam ke kamu. Ciehhh ... Cinta ... bersemilah oh cinta." Syiba semakin menjadi jadi dalam menggoda adiknya itu. Uta yang sudah hampir memasuki ruang makan, mendadak mengurungkan niatnya. Ya, langkahnya tersetop mendengar pembicaraan kakak beradik itu.


"Apaan sih Abla." Protes Alber lagi.


"Ayleen siapa Ber? Ayleen Syarila Feral." Tanya Syiba, mencoba mengingat-ingat nama lengkap Ayleen.

__ADS_1


"Bukan Feral, tapi Feray. Ayleen Syarila Feray." Ujar Alber, membetulkan kekeliruan nama yang kakaknya ucap barusan.


"Ciehh ... Iya deh iya. Yang paling ingat nama pujaan hatinya mah, mana bisa dilawan." Ucap Syiba yang keliru menyebut nama lengkap Ayleen, benar-benar Syiba tak ada maksud menyebutkannya dengan salah.


"Mulai .. mulai .. Abla mulai ngarang. Aku cuman ngebenerin doang. Kita kan gak berhak ganti-ganti sembarangan nama orang." Ucap Alber membela diri.


"Adu .. du .. du .. Iya deh yang paling cinta. He .. he .. he .. Ampun-ampun bos. Tapi apakah Ayleen Syarila Feray akan berubah menjadi, Ayleen Syarila Farabaks?" Entah terinspirasi dari mana, Syiba tiba-tiba melontarkan perkataan, seolah-olah Ayleen di masa depan akan menjadi bagian dari keluarga Farabaks.


"Uhuk .. Uhuk .. Uhuk .. Abla makan apaan sih? Ngaco banget pagi-pagi." Alber yang sedang minum sampai terbatuk, mendengar perkataan yang keluar dari mulut kakak semata wayangnya itu.


"Uh tayang-tayang nya Abla. Sampe tebatuk segala. Ketauan isi hatinya ya?? Abla jadi curiga deh, jangan-jangan kamu sama Ayleen deluan yang nikah." Syiba yang jarang sekali menjahili Alber, kali ini bener-bener puas menjahili si bungsu. Bahkan batuknya Alber, tak menyetop kejahilannya sama sekali.


"Abla!! Resek banget." Protesnya, lalu melempar kulit pisang ke arah Syiba.


"Wkwkwkkwkwk." Syiba tertawa sampe sakit perut, puas mengerjai Alber. Tanpa mereka sadari, Uta berdiri di balik dinding ruang makan dan mendengar semuanya. Dirinya merasa itu pembicaraan yang bersifat privat, sehingga ia tak ingin masuk ke ruang makan, khawatir takut mengganggu ranah privasi mereka. Ia datang kemari sebagai pekerja yang menjaga Putri, jadi setidaknya ia punya etika untuk tidak melewati ranah privasi sekalipun Alber temannya.


Uta yang yakin Putri tak ada di ruang makan, memilih untuk ke kamar kecil yang berada di dekat dapur. Tiba tiba ia ingin mencuci muka sebentar, agar lebih segar.


Bersambung ............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2