Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
151. Pertimbangan


__ADS_3

Author POV


Sabtu ini Uta tak mendatangi tempat usaha produksi cookiesnya. Ia mempercayakan Kilau alias Kia yang akan mengecek jalannya produksi jika dirinya tak datang. Gadis itu memilih mendengar laporannya saja nanti. Uta sedang pusing memikirkan sesuatu. Namun pusingnya buyar sesaat, ketika seseorang masuk dengan selimut menutupi setengah badannya.


"Sumpah dingin banget disini, padahal AC gak nyala loh." Tanya Reta sengaja mengganggu Uta dengan selimutnya itu. (Yang bingung Reta kok bisa ada disini. Nanti terjawab di novel kedua.)


"Emang Jakarta?" Ucap Uta meringis melihat Reta kedinginan. Ia jadi ingat dirinya awal-awal disini. Uta dan keluarga saat ini menetap di kota Padang Panjang. Bukan Padang loh ya, karena Jarak dari kota Padang ke Padang Panjang butuh 2 jam perjalanan.


Kota Padang Panjang sendiri, merupakan kota yang luas wilayahnya paling kecil di Sumatera Barat. Kota ini juga salah satu kota bersuhu dingin di Indonesia, karena terletak di dataran tinggi. Suhu pagi hari di Padang Panjang bisa sekitar 18 celcius. Jadi wajar jika Reta kedinginan sekarang. Perubahan suhu yang berbeda sekali dengan Jakarta.


"Ngapain sih sister. Muka lo pusing bet dah." Tanya Reta yang tetap kepo meski sedang kedinginan. Uta hanya geleng-geleng. Heran dengan ciptaan Tuhan satu ini.


"Kenapa sih?" Tanya Reta lagi sebab Uta belum menjawab.


"Keliatan yah?" Tanya Uta balik.


"Bukan lagi. Kenapa sih?" Tanya Reta, kali ini duduk di dekat Uta.


"Lo ingat kan gue cerita, si Tama tahun depan mau kuliah. Gue juga tahun depan rencana wisuda. Terus beberapa bulan lalu, gue dapet oportunity. Ada keluarga salah satu pegawai gue, ngejual bangunan 1 lantai di Jakarta dengan harga murah karena butuh uang." Uta mulai mengurai apa yang ia pikirkan.


"Bukannya lo bilang, udah gak kepikiran mau ke Jakarta lagi. Berubah pikiran?" Tanya Reta memastikan.


"Sebenarnya gak berubah. Cuma banyak faktor yang jadi pertimbangan gue Re." Ujarnya kembali dengan pandangan menerawang.

__ADS_1


"Tama keterima beasiswa prestasi buat kuliah di ZEUN (Zeroind University😁) Jakarta." Lanjutnya.


"Terus gue juga mesti hadir wisuda, meskipun gue ambil kelas online di ZEUN Jakarta. Tapi wisudanya ternyata mesti hadir, gak bisa online. Ditambah ada oportunity properti murah tadi. Jadi why not..?" Ucap Uta melihat Reta sesaat. Tampak Reta mengangguk. Ia juga akan berpikir ulang jika begitu keadaannya.


"Kan gak mungkin gue gak nengokin Tama, kalau bener nanti dia jadi mahasiswa ZEUN Jakarta. So, pasti gue bakal ke Jakarta juga. Adek semata wayang gue Re. Bentar lagi dia mau pindah aja, hati gue udah nelangsa gini." Lanjut Uta lagi.


"Lagian gue mikir, usaha cookies gue bakal bisa lebih berkembang kalo di produksi juga di Jakarta. Jadi istilahnya cabang kedua Re. Itu pasti bakal memperingan biaya ongkir pembeli, khususnya pembeli dari Indonesia bagian Timur."


"Kadang-kadang gue kasian, teman-teman yang tinggal di Indonesia Timur ngeluh, ongkir pengiriman lebih mahal dari biaya cookies itu sendiri. Namanya juga dari ujung ke ujung, ongkirnya setinggi langit. Kan kalo mereka pesen cookies di cabang Jakarta, ongkirnya bisa jadi lebih murah. Yang penting kualitas produk, dipastiin sama bagusnya." Ujarnya mengingat beberapa pembeli cookiesnya yang kadang harus membayar biaya ongkir yang besar. Sering kali ia tak enak hati.


"Gue bakal sesekali ngecek produksi cookies cabang Jakarta, tiap kali nengokin Tama. Kan enak Re, sambil menyelam minum air." Ucapnya membayangkan aktifitas wanita karirnya di Jakarta nanti.


"Semenjak lo pindah ke Padang Panjang, otak lo mulai canggih ya. Heran gue. Terus kalo gitu, ngapain lo pusing. Kan udah jelas pun tujuan itu." Ujar Reta menegaskan arah keputusan Uta.


"Tapi Re, ada problem." Ucap Uta lagi.


"Kirimin gue informasi lengkap properti bangunan yang mau di renov." Tiba-tiba Reta memberi instruksi dadakan. Ia bahkan menggeser handphone Uta, agar dikirimkan informasi itu sekarang. Uta akhirnya nurut-nurut saja. Dikirimkannya beberapa data mengenai bangunan itu lengkap, berserta foto-foto bangunan yang akan dikerjakan.


"Tapi buat apa sih Re?" Tanya Uta lagi setelah selesai mengirim informasi yang Reta minta.


"Serahin ke gue " Ujar Reta mengutak ngatik handphone miliknya.


"Re ...??" Tanya Uta yang merasa pertanyaannya belum di jawab Reta.

__ADS_1


"Husttt...!! Halo kak Panji.... Baik, kakak apa kabar ...." Reta meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, kode agar Uta diam. Reta lalu berjalan menjauh dari Uta sambil tetap membawa si selimut.


_____________ Z _____________


"Nih ..." Reta memperlihatkan layar handphonenya ke Uta. Tertera kartu nama Panji Wijaya, PT Cipta Teduh. Di chat itu juga ada prediksi biaya, namun untuk pastinya baru bisa ditentukan saat mengecek langsung bangunan yang akan di renov.


"What ...??? Gila bener lo Re...!!! Mana harganya oke banget." Jawab Uta dengan senyum lebar.


"Ya iyalah, Reta gituloh." Ucap Reta pede.


"Jangan- jangan, Kak Panji itu pacar lo yah?" Uta mulai menaruh curiga. Bisa-bisanya ada kontraktor sebaik itu.


"Mulai ngeracik gosip nih orang. Gue kenal baik kak Panji, soalnya dia dulu karyawan Papa. Trus kita pernah beberapa kali kerjasama nyelesaiin proyek yang Papa kasih. Terus pas perusahaan ada masalah, kak Panji mutusin buka perusahaan sendiri." Jelas Reta. Panji memang menjanjikan harga teman dengan discount 30 persen, dikarenakan Reta adalah teman sekaligus anak bosnya dulu.


"Sorry Re, gue tadi tuh cuma becanda. Gak maksud bikin lo inget yang sedih-sedih." Ucap Uta merasa bersalah.


"He.. he.. he.. ada yang panik pemirsah. Udah ah, sapa juga yang sedih. Yang udah tuh, udah kawan. Sekarang lo siap-siap packing. Senin kak Panji mau langsung ketemu lo buat ngebahas konsep, terus langsung di garap. Soalnya waktu kosong kak Panji kurang lebih cuma sebulan. Abis itu kak Panji udah ada proyek." Jelas Reta menginfokan sesuatu.


"WHAAATTTT ...???" Teriak Uta, panik dengan pemberitaan tiba-tiba Reta.


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2