Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
167. Sebuah Video Dari Reta


__ADS_3

Author POV


"Sayang? Kenapa diam disitu?" Tanya Annem.


"Annem itu ..." Uta menatap Annem penuh tanya. Ia lalu kembali menatap ke arah dinding. Dinding kamar Alber yang terdapat gambar dirinya sedang tersenyum, terlukis indah satu dinding full.


"Foto kamu udah lama di dinding itu. Kalo gak salah waktu kalian kelas 3 SMA. Sengaja digambar satu dinding sama Alber langsung, kangen katanya. Aneh, padahal kalian ketemu tiap hari disekolah. Tapi ya gimana, Alber kekeh mau dindingnya ada gambar kamu." Ucap Annem menjelaskan.


DEG ..........


Uta teringat, kelas 3 SMA adalah saat dimana, dia meminta Alber menjauh karena mengaku kembali berpacaran dengan Felix. Itu sebabnya Alber beralasan 'kangen'. Mereka memang tak saling bertemu meski satu sekolah.


"Alber udah lama suka sama kamu. Dari dulu bahkan. Makanya dia suka isengin si Tuta." Ucap Annem mengelus surai hitam Uta yang tergerai.


"He ... he ... he ..." Uta yang matanya berkaca-kaca, menjadi terkekeh mengingat masa-masa Tuta Yaber menjaga bocil.


"Alber itu ketahuan, kalo dia gak suka, gak bakal dia mau tau, apalagi sampe ngisengin. Kalo dia suka iseng ngejahilin, itu tandanya orang itu spesial." Ucap Annem memeluk Uta.


..._____________ Z _____________...


Uta baru saja tiba dirumah saat hari sudah gelap. Ia baru pulang dari rumah Alber pukul 07:30 malam. Annem meminta Uta ikut makan malam bersama. Uta juga sempat salim dan menyapa Babam. Ia merasa lega Babam tidak marah padanya.


Uta memilih mandi membersihkan diri. Guyuran shower rupanya tak mampu mendinginkan hatinya yang sedang berkecamuk hebat saat ini. Fakta yang ia lihat tanpa sengaja hari ini membuatnya berpikir ulang.


Mungkinkah perasaan itu nyata? Mungkinkah Alber benar-benar menyukaiku? *Uta


20 menit kemudian Uta baru selesai mandi. Guyuran shower membuatnya tak sadar, saat ini sedang hujan deras. Bahkan kilat-kilat petir sesekali menyapa. Uta memilih bergegas mengeringkan rambutnya.


Ia memilih memakai piyama lengan panjang motif bintang-bintang kecil. Sesaat dilihatnya jendela kamar, hujan semakin deras tak terkendali. Fokusnya ter-distrack sebuah pesan dari Reta.


[Lo ya Ta, di tembak Alber gak cerita.] *Reta. [😠] *Reta


Kenapa Reta bisa tau?? Aku kan gak cerita sama siapapun. *Uta

__ADS_1


Tak lama sebuah video dari Reta masuk di handphonenya. Uta sempat bingung, namun dengan sekali gerakan Uta mengklik tombol play.


Matanya membulat saat melihat isi video yang Reta kirim. Reta mengambil rekaman diam-diam, saat Alber sedang bicara dengan Mamah Celine. Artinya, Alber sedang berada di Padang Panjang. Laki-laki itu di rumah sana sekarang.


"Alber mau izin sama Mamah. Alber mau izin ngajak Uta pacaran." Ucap Alber yang sedang duduk di ruang tamu rumah yang Uta rindu. Sementara Mamah Celine duduk di sofa depan Alber.


"Niatnya, Alber mau izin lebih dulu ke Mamah sebelum nyatain perasaan ke Uta. Tapi nyatanya Alber lebih dulu nembak Uta, baru datang ke Mamah. Maaf ya Mah."


"Mamah bisa ngerti. Justru Mamah yang minta maaf, Alber pasti bingung kami sekeluarga pindah tiba-tiba."


"Jujur Mamah gak nyangka, Alber sampe bela-belain terbang dari Jakarta ke sini buat minta izin ke Mamah. Mamah sangat menghargai niat dan usaha Alber."


"Alber tadi bilang, kalau sudah nembak Uta. Lalu Uta jawab apa? Tadi pagi Mamah telponan sama dia, tapi Uta gak ada bahas sama sekali tentang itu." Terlihat raut wajah sedih Alber. Ia bahkan terdiam beberapa detik sebelum menjawab.


"Uta belum jawab Mah. Uta minta waktu 1 minggu buat berpikir."


"Menurut Alber, apa kira-kira jawaban Uta?"


"Andai katapun Uta gak suka sama Alber, kita tetap berteman baik."


"Duh kok Mamah jadi melow dengernya. Udah ah, kita mending makan dulu. Alber pasti lapar, habis perjalanan jauh. Yok kita makan rame-rame."


"Re ayok makan bareng Alber rame-rame yok."


"I ... Iya Mah." Jawab Reta.


Video itu pun terputus. Uta terenyuh dengan apa yang ia lihat barusan. Matanya berkaca-kaca melihat perjuangan Alber. Hati yang sedari tadi dilema, saat ini bagai tersayat-sayat.


Dicarinya kontak Alber di handphone yang masih ia pegang. Uta sudah tak peduli. Ia hanya ingin mendengar penjelasan Alber.


"Assalamualaikum. Halo." Ucap Alber begitu telepon tersambung. Mendengar suara Alber, mata Uta yang tadi hanya berkaca-kaca, kini menangis deras.


"Halo Ta." Tanya Alber sekali lagi karena Uta belum menjawab.

__ADS_1


"A ... Alber .." Ucap Uta dengan suara terbata karena menangis.


"Kenapa kamu nangis? Ada apa? Kamu gak kenapa-napa kan Ta?" Mendengar Uta menangis membuat Alber panik. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Uta, terlebih suara hujan deras sangat jelas ia dengar.


"A ... Alber kamu dimana?" Tanya Uta masih menangis deras.


"Ta kamu kenapa? Ada apa? Kenapa nangis begitu? Jawab aku Ta...!" Alber yang terlanjur khawatir, bertanya keadaan Uta berkali-kali.


"Halo Ta. Jawab aku, kamu gak apa-apa kan?" Ucapnya panik.


"Alber kamu dimana? Bisakah kamu kesini? Aku mau kamu disini." Ucap Uta masih menangis kencang. Alber sempat terdiam sebelum akhirnya telepon terputus.


Tut ... tut ... tut ....


Uta semakin menangis kencang. Ia tahu Alber tak mungkin datang sekarang. Butuh waktu berjam-jam dari Padang Panjang ke Jakarta.


Hatinya kian berkecamuk hebat. Segala rasa bersalah silih berganti menyayat perasaannya. Gadis itu meringkuk memeluk kedua lututnya. Mencurahkan segala air mata yang ingin keluar.


Tak berapa lama dari itu, terdengar suara bel ditengah hujan deras begini. Uta yang masih menangis, mendadak waspada. Ia sendirian dirumah ini.


Ting Tong ... Ting Tong ...


Uta yang sedikit takut, memberanikan diri berjalan ke arah pintu, sebab bel rumah tak berhenti dipencet. Ia sempatkan mengintip dari lubang pintu. Mengetahui siapa di depan pintu, gadis itu lantas membuka pintu rumahnya.


"A ... Alber?" Begitu pintu terbuka, Alber langsung memeluk gadis yang menangis itu seerat mungkin.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2