Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
137. Memetik Jerih Payah


__ADS_3

Author POV


Esok harinya, Uta sudah datang pagi-pagi sekali, karena rencananya Putri akan pergi jam 9 pagi. Tampak beberapa koper sudah stand by di area ruang depan. Makin berkabutlah suasana hati Uta.


"Hei sayang." Sapa Uta mencium bocah kecil yang sedang bermanja-manja dengan Syiba di ruang keluarga.


"Tuta ..." Jawab Putri melihat kedatangan Uta.


"Hai Ta." Sapa Syiba ramah pada Uta yang terlihat murung.


"Halo Kak." Ujar Uta balik menyapa.


"Kenapa sih ini pada sedih?" Ucap Syiba menggoda Uta dan Putri, padahal sendirinya juga sedih. Mereka bertiga berpelukan. Semenit kemudian, Uta bangkit melepaskan pelukan itu.


"Look, Tuta punya hadiah kenang-kenangan buat Putri." Ucap Uta pada Putri. Bocah kecil itu bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat ke arah Uta.


"Leally?" [Really? : sungguh?] Ujarnya menatap paper bag bergambar karakter kartun Frozen. Uta mengagguk mengiyakan.


"Wow Tuta bawa hadiah sayang." Ucap Syiba yang juga bangkit mendekat. Rupanya Syiba kepo juga. Kakak cantik itu lantas mencium pipi gemas Putri. Tangan kecil Putri perlahan membuka paper bag dari Tutanya.


"Uwahh ... Tuta??" Ucap Putri dengan mata membulat.


"Apa?" Melihat itu, Uta bertanya-tanya apa maksud reaksi bocah itu. Suka atau tidak.


"Putli suka ini." Ujar Putri mengambil sebuah cat air set dan sebuah buku mewarnai. Buku itu berisi berbagai gambar yang siap untuk diwarnai. Uta sengaja memilih edisi yang belum Putri miliki.


"Really?" Tanya Uta berakting seolah tidak tahu. Padahal ia sangat yakin Putri akan suka, sebab anak itu seringkali cerita ingin cat air set, sebab dirinya bosan dengan krayon miliknya.


"Of course." Jawabnya menyengir lebar.


"Wah Ciba jadi iri deh." Goda Syiba membuat Putri tersenyum bangga.


"Tuta masih punya kado satu lagi. Coba Putri buka." Ujar Uta, menggeser paper bag kedua kearah Putri. Bocah kecil itu langsung meletakkan cat air yang ia pegang, karena begitu penasaran isi paper bag kedua.

__ADS_1


"Tutaaaaa ...??? Ini cookies kesukaan Putli. Putli suka benget." Ucap Putri mengangkat sebuah toples besar palm cheese cookies.


Ya, tadi malam Uta sengaja bergadang untuk membuatkan Putri palm cheese cookies ini. Ia merasa sedih tak bisa lagi menemani hari-hari Putri di sana. Jadi minimal cookies ini bisa menemani bocah kecil kesayangannya itu, pikir Uta.


"Tuta telima kasih. Putli sayang Tuta. Okey Tuta." Ucap bocah itu berdiri memeluk erat Uta. Mereka berdua berpelukan erat, saling berbagi sayang.


"Sama-sama sayang." Jawab Uta mencium pipi anak kesayangannya.


"Uhh so sweet ... Ciba juga pengen dipeluk." Ujar Syiba melihat kemesraan Putri dan Uta didepan matanya.


"Uhh!! Sini Ciba, Yaber peluk." Alber yang datang dari lantai 2, langsung memeluk seerat-eratnya kakaknya tersayang.


"Hisstt Yaber!!! Malas ah kalau Yaber yang peluk. Ciba maunya Putri yang peluk you know." Protes Syiba atas kejahilan Alber.


"He ... he ... he .." Alber terkekeh melihat kekesalan di wajah Syiba.


"Wkwkwkw ... Ciba, Yabel memang sungguh iseng." Ucap Putri masih nyaman di dekat Tutanya.


"Iyakan sayang, makanya Ciba don't like!!" Ujar Syiba menebalkan perkataan Putri.


"Yabel ... Buat Putli?" Ucap Putri sudah terlebih dulu tersenyum.


"Yaps, tapi cium Yaber dulu!" Ujarnya sembari menunjuk pipi kirinya. Melihat itu, Putri berjalan mendekat dan langsung mencium pipi yang Alber tunjuk.


Muachhhh ...


"Sekali lagi!" Kini Alber berganti menunjuk pipi bagian kanannya. Anak itu menurut lagi.


Muachhh ...


"Okeee ..." Ujar Alber senang si bocil menuruti keinginannya.


"Putli cium Yabel, sepelti Ibu baju melah di kebun binatang. Ya kan Yabel?" Ucap Putri dengan polosnya, mengungkit kisah kelam Alber kemarin.

__ADS_1


"Wkwkwkwkk" Syiba dan Uta tertawa ngakak. Syiba sudah mendengar cerita Alber dicium bumil gonjreng dari Putri.


"Hei hei. Jangan dibahas you know. Gak jadi nih kadonya." Ujar Alber mendadak drop mengingat itu. Sengaja ditariknya sedikit paper bag didepannya, agar Putri takut kehilangan kadonya.


"Yabel oke oke." Ucap Putri langsung mengiyakan, agar kado untuknya tetap jadi. Dibukanya paper bag dari Alber.


"Yabel, Yabel beliin Putli baju?" Tanyanya menelaah isi paper bag.


"Yaps, you like it?" Tanya Alber penasaran tanggapan bocah di depannya.


"Ehm ... Putli suka. Tapi Yabel, baju kecil ini apa?" Ucapnya dengan wajah sumringah. Namun ia mendadak bingung saat ada baju berukuran super kecil. Alber sontak tersenyum menikmati kebingungan Putri.


"Ini baju buat Lele. Jadi nanti, Putri sama Lele bajunya kembaran." Ujar Alber menjelaskan.


"YABEL!!" Ucap Putri mendadak. Membuat Alber, Syiba dan Uta kaget bersamaan.


"Apa? Kenapa? Putri gak suka?" Tanya Alber sedikit khawatir Putri tak suka dengan hadiahnya.


"Yabel, Putli suka banget. Putli seneng kembalan sama Lele." Ucap bocah itu, berbanding terbalik dengan yang Alber khawatirkan.


"Ya kan?" Jawab Alber kembali pede.


"Ehm ... Yabel pintel banget deh." Anak itu mengangguk senang, bahkan ia memuji Alber dengan sepenuh hati.


"Yaber gituloh!" Ucap Alber semakin pede kelangit ketujuh. Syiba dan Uta hanya bisa menarik nafas panjang, melihat pemandangan di hadapan mereka.


"Ehemm ..." Uta sedikit berdehem melihat ke arah Alber. Itu terjadi sebab, dirinya lah yang memiliki ide dan memilihkan kado yang Alber beri pagi ini ke Putri.


"He ... he ... he .." Alber yang mendengar Uta berdehem lantas jadi terkekeh. Ia benar-benar memetik jerih payah Uta yang kemarin.


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2