![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Berkali-kali Uta masuk ke dunia tipu-tipu Alber. Ia sampai bermimpi buruk, tidurnya tak nyenyak. Bahkan nafsu makannya turun. Alber seolah-olah menghantui hidupnya. Rasa-rasanya ia malas untuk masuk sekolah.
"Fighting Ta!! Lagian ini sudah Jumat, besok udah libur. Lo akan terlepas dari manusia handsome, penuh tipu muslihat itu. SEMANGAT!!" Ucap Uta, menyemangati dirinya sendiri.
Uta masuk ke kelas dan langsung duduk di bangkunya. Menyandarkan badannya di dinding kelas. Alber tak lama datang. Ia menyadari Uta tak seperti biasanya. Gadis itu terlihat tak bersemangat dan tak ceria seperti biasanya. Wajahnya terlihat lelah, didukung dengan mata panda yang terpampang nyata. Sebersit rasa tak tega, menyelinap di relung hati Alber.
"Lo gak tidur? Semalam begadang?" Tanya Alber ingin tahu, alasan mengapa Uta terlihat lesu hari ini.
"Bukan begadang, tapi gak bisa tidur." Jawab Uta dengan nada yang tak bersemangat seperti sebelum sebelumnya.
"Kenapa?" Tanya Alber kembali.
"Karena elo." Jawab Uta, sekilas melirik ke arah Alber, kemudian memejamkan kembali matanya.
"Gue, kok bisa?" Jujur Alber tidak menyangka, jawaban Uta malah mengarah kepadanya.
"Iya, lo sama rumus-rumus itu menghantui gue tau gak?? Gue semalam tidur, terus mimpi lagi ujian. Bangun-bangun gue pusing Ber." Jelas Uta setenang mungkin pada Alber, sambil masih memejamkan matanya.
"Wah .. Kok timing-nya bisa pas banget sih? Hari ini rencana gue, les matematika kita di liburkan dulu." Jawab Alber.
"Really?" Uta yang tadinya menyender di dinding kelas, langsung terlonjak kaget. Gadis itu seketika menghadap ke Alber. Alber tak menjawab menggunakan kata-kata, melainkan menganggukan kepala pertanda 'iya'.
__ADS_1
"Teacher ... Lo emang the best teacher." Ucap Uta sungguh sungguh. Seusai mengucapkan itu, Uta kembali menyandarkan badannya ke dinding dan memejamkan mata kembali. Ngantuk yang tak tertahankan, membuatnya hanya ingin segera tidur dan tak terlalu peduli dengan reaksi Alber selanjutnya.
_____________ Z _____________
Alber POV
Sabtu malam atau lebih, tepatnya malam Minggu, malam yang banyak pasangan muda-mudi hang out nonton ke bioskop, jalan-jalan di mall, atau nongkrong di tempat-tempat yang lagi hype.
Berbeda dengan diriku, yang hanya nonton Flixnet di kamar. Aku malas menonton TV di ruang keluarga, sebab Abla dan bang Tibar, pacarnya Abla sedang nongkrong nonton acara pencarian bakat di TV ruang tersebut. Nasib masih menjadi jomblo, apa-apa alone.
Derttt ... Derttt ...
Getar telepon menginterupsi ku dari film yang kutonton. Kulihat notif AppWhats dari teman ku sewaktu sekolah di Bali.
"Kangen Bali gak Ber?" Alex menanyakan lewat chat dan mengirimkan berapa foto. Kubuka foto yang menampakan beberapa temanku di Bali, sedang nongkrong di cafe dengan live musik. Tak ada yang aneh dalam foto itu sebenarnya, melainkan satu hal. Aku menangkap sosok yang sangat kukenal tertangkap dalam foto yang Alex kirimkan. Tampak Ayleen berada di salah satu foto tersebut.
Film yang sedang berputar di TV, tak lagi ku hiraukan. Aku memilih me-mute suara TV dan tidur lebih cepat. Hanya ada satu alasan, aku tidak mood untuk berpikir apapun untuk saat ini. Mood ku mendadak buruk hanya dengan melihat sebuah foto.
Besokan harinya, mood ku masih tetap anjlok. Berangkat sekolah pun rasanya tak semangat biasanya. Sampai akhirnya, aku menyadari ada yang tak biasa dengan gadis dasi. Entah mengapa gadis itu terlihat lelah dan tak seperti kemarin kemarin. Bahkan ia menyandarkan badannya ke dinding kelas, sambil memejamkan mata.
Setelah kutanya tanya, akhirnya terungkap bahwa dirinya sampai kelelahan seperti ini, karena kurang tidur akibat beberapa hari ini dihantui mimpi buruk. Tetapi lucunya mimpi buruk yang ia alami, berhubungan dengan les matematika yang kita jalani seminggu ini. Matematika menghantuinya, bahkan hingga ke alam mimpi.
Muncul rasa kasihan di tengah kelucuan yang kurasakan, saat mendengar ceritanya. Lucu, karena aku tak pernah melihat orang terhantui matematika sampai segitunya. Tetapi di sisi lain kasihan, karena ia benar-benar terlihat lelah. Kuputuskan spontan untuk hari ini, tidak usah les matematika.
__ADS_1
Mendengar itu, ia yang tadinya menyender di dinding kelas sambil terpejam, langsung menoleh ke arahku dengan senyum lebarnya. Dia bahkan melemparkan pujian padaku, yang membuatku tak bisa menahan tawa.
Sepanjang hari ini, Uta benar-benar mati-matian menahan kantuknya. Saat pelajaran berlangsung dan guru sedang menyampaikan materipun, tetap tak bisa menghalau kantuknya. Dia yang biasanya selalu rajin mencatat apapun yang guru sampaikan, kali ini berubah 180 derajat.
Bahkan di saat dua pelajaran terakhir, gadis dasi tak mampu lagi menahan rasa kantuknya. Kepalanya benar-benar sudah menempel di atas meja. Aku berinisiatif mendirikan buku paketku di atas meja, agar Uta tak terlihat guru sedang tidur.
Beruntung jam pelajaran terakhir beberapa guru ada pertemuan ke dinas pendidikan. Salah satunya, guru jam pelajaran terakhir yang harusnya mengajar kami. Beliau hanya menitipkan tugas melalui ketua kelas, sehingga Uta dapat melanjutkan lagi tidur pulasnya.
Jam menunjukkan waktu pulang, karena tak adanya guru, tentu membuat anak-anak sudah bubar jalan bahkan sebelum bel berbunyi. Reta mendatangi meja kami.
"Ya ampun udah jam pulang, nih anak malah tidur. Apa Uta sakit Ber??" Ujar Reta merasa ada aneh dengan sahabatnya itu. Reta berusaha menyentuh bahu Uta, agar gadis itu terbangun dari tidur pulasnya.
"Jangan dibangunin dulu Re, takutnya sakit kepala kalau tiba-tiba dibangunin. Gak, dia gak sakit. Cuman beberapa hari ini tidurnya gak nyenyak, karena sering mimpi buruk katanya. Tapi, paling bentar lagi juga bangun." Aku buru-buru mencegah Reta yang hendak membangunkan gadis dasi. Aku tak tega, Uta sepertinya masih terlelap pulas sekali.
"Duh!! Bokap gue ada jadwal meeting udah di depan lagi. Tumben banget Uta begini. Gimana dong?" Ucap Reta merasa serba salah. Sebagai sahabat, ia harusnya menunggu Uta, tapi di satu sisi, Papanya yang sedang diburu waktu meeting, sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.
"Lo pulang aja duluan Re. Gue tungguin sahabat lo, gak lama bangun pasti." Ucapku memberikan solusi atas kegalauan Reta. Reta tampak berpikir sesaat, menimbang nimbang jalan tengah yang kutawarkan.
"Titip nih anak ya Ber, gue pulang duluan." ucap Reta akhirnya. Dengan berat hati ia berjalan menjauh dari kami, menuju keluar kelas untuk pulang bersama Ayahnya yang sudah menunggu di gerbang. Mungkin Reta sedikit khawatir, aku akan menjahati sahabatnya. Tapi tentu tidak, aku hanya akan menunggu gadis dasi terbangun, baru kemudian pulang.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
❤
ZEROIND