Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
190. Ayok Menua Bersama (END)


__ADS_3

Author POV


Uta berdiri di balkon kamar. Menikmati angin sepoi-sepoi sambil menatap bintang-bintang yang begitu indah. Alber sendiri sedang menerima telepon Babam. Ada sedikit koordinasi yang harus di konfirmasi saat ini. Sehingga Uta menikmati indahnya langit Bali sendiri.


"Anginnya lumayan kencang. Aku takut kamu masuk angin." Ucap Alber menyampirkan kain hangat pada istrinya. Di peluknya Uta dari belakang.


"Udah selesai telponnya?" Tanya Uta karena Alber mendatanginya ke balkon.


"Sudah. Babam Annem titip salam sama kamu. Mereka kangen katanya. Kayaknya mereka sudah gak peduli dengan kabar aku. Kamu aja yang ditanyain." Ucap Alber mencium pucuk kepala istrinya. Ia lalu menyenderkan kepala di ceruk leher Uta.


"Wkwkwkwkkw ... Kayaknya iya deh." Goda Uta pada suaminya.


"Loh loh ... Jangan dong sayang." Jawab Alber tak rela. Senjata makan tuan rupanya.


"Wkwkwkwkwk ... Bercanda you know." Ucap Uta cekikikan. Alber ikut tertawa mendengar istrinya tertawa. Dipeluknya Uta semakin erat, seolah angin tak boleh singgah menyapa.


"Sayang." Panggil Uta lembut.


"Hemh ...?"


"Kenapa?" Tanya Uta menggantung.


"Kenapa apanya?" Tanya Alber ingin tahu.


"Kenapa kamu berani berkorban sebesar itu?" Tanya Uta. Ia teringat obrolan dengan Panji sore tadi. Rasanya sulit dipercaya, Alber berani berkorban sebesar itu padanya. Bahkan menurut Panji, Alber tak berpikir lama untuk mengajukan penawaran itu.


"Kenapa tidak?" Jawabnya dengan sebuah tanya.


"Tapi itu terlalu besar." Ucap Uta.


"Aku tahu Farabaks Group perusahaan raksasa, tapi tetap aja itu terlalu besar. Itu terlalu besar untuk seorang aku." Lanjutnya dengan suara bergetar.


"Hey ... hey ... Kok nangis?" Ucap Alber mendengar getar suara itu. Dibaliknya Uta yang masih membelakanginya, untuk bisa ia peluk dengan benar.


"Kenapa nangis sayang?" Tanya Alber memeluk Uta. Dibelainya lembut surai hitam istri tersayangnya.


"Aku juga gak mau nangis." Jawab Uta dengan air mata bertambah deras.


"Tapi ini kamunya nangis." Ucap Alber sedikit tersenyum. Ia tau istrinya terharu.


"Iya, tapi sebenarnya gak mau nangis. Akunya juga bingung air matanya jatuh." Jawab Uta dengan polosnya.


"He ... he ... he ... Always out of the box." Senyum di wajah Alber berubah menjadi tawa kecil. Ia begitu gemas dengan istrinya ini. Selalu ada saja jawaban yang tak sama sekali terpikir olehnya.


"Mungkin kamu merasa itu besar. Dan benar, angka itu memang besar." Alber mulai menjelaskan pelan-pelan pada Uta.

__ADS_1


"Tapi asal kamu tau, buat aku, kamu gak ternilai. Kamu gak bisa di ukur dengan harga berapa pun."


"Percuma aku punya banyak uang, kalau gak ada kamu di samping aku."


"Selama kamu pergi, aku kerja udah kayak robot. Taunya proyek proyek dan proyek. Aku gak mikirin sisi Alber sebagai manusia. Gak ada perasaan apa-apa. Mati rasa." Ucapnya mengingat dirinya saat itu.


"Sampe aku gak sengaja ketemu Bang Panji. Waktu aku dengar nama kamu, rasanya hati aku kembali hidup." Ucap Alber mencium pelipis Uta.


"Aku rela menukar proyek tanpa berpikir, biar bisa gantiin bang Panji untuk bisa ketemu kamu."


"Bukan, lebih tepatnya biar hati aku kembali hidup."


"Tapi sayang, gimana dengan Babam Annem? Bisa jadi mereka gak setuju kamu main tukar proyek begitu." Ucap Uta khawatir mertuanya tak sepakat dengan kemauan Alber.


"Salah. Justru Babam dan Annem mendukung. Mereka tau robot ini kembali hidup kalau kamu disamping aku. Mereka tau kamu penyelamat anaknya." Jawab Alber sambil menggeleng.


"Babam malah langsung setuju, waktu aku minta persetujuan agar sebagian staf Farabaks group membantu PT bang Panji. PT beliau masih baru, jadi pasti masih banyak yang belum settle. Babam tanda tangan dengan senyum." Kenang Alber atas ekspresi Babam kala itu.


"Andai katapun waktu diputar kembali, aku akan tetap memilih hal yang sama. Aku akan memilih keputusan yang sama. Aku memilih Uta karena aku maunya kamu." Ucap Alber membuat Uta tersentuh.


"Alber, terima kasih." Ucap Uta menatap dalam suaminya.


"Terima kasih sudah memilih aku dan berjuang untuk itu."


"Sama. Kamu juga sama." Jawab Alber.


"Terima kasih sudah membuka hati dan menerima perasaan aku." Diusapnya bulir bening dari mata indah itu.


"Aku tahu kamu belum siap karena banyak hal, salah satunya karena sikap Papah ke Mamah. Tapi kamu memberanikan diri untuk melangkah bersamaku. Terima kasih. Itu keputusan yang gak mudah." Ucap Alber bangga.


"Terima kasih sudah mau menjadi teman hidup Alber Syargan Farabaks." Diciumnya kening Uta dengan sayang.


"Ayok kita menua bersama." Ajak Alber pada Uta, membuat gadis itu tersenyum.


"Iya, sampe kulit kita keriput dan tua renta. Sayang, ayok kita sama-sama sampe masa itu tiba." Jawab Uta membelai lembut rahang tegas suami tampannya.


"Tapi sebelum kita tua renta, kita harus ngadon Farabaks junior sekarang juga. Ayok let's go." Ucap Alber tiba-tiba. Ia merasa, elusan Uta adalah sinyal kesempatan untuk melanjutkan series kesukaanya.


"Hiks ... Apapun obrolannya, pasti endingnya ke situ." Protes Uta yang sudah diangkut Alber ke ranjang kamar mereka. Mereka berdua melanjutkan ahh-ahh series dalam rangka made in Bali.


The end ..............


..._____________ Z _____________...


Akhirnya. Akhirnya tamat juga. Happy-happy uyeeeyy๐Ÿ˜ ๐ŸŽ‰๐ŸŽŠ Terima kasih aku ucapkan untuk semua yang sudah membaca cerita ini. Mengikuti dengan setia perjalanan Uta dan Alber, dari awal sampai akhir.

__ADS_1


Terima kasih tak terhingga juga untuk teman-teman yang sudah baca, like, komen, vote dan kasih gift. Apapun itu sangatlah berarti untuk aku. Bahan bakar semangat menulis untuk seorang Author. Sekali lagi terima kasih banyak.


Sedikit fun fact. Sebenarnya, novel Uta & Alber ini niatnya cuman mau 50 episode aja.


"Novel perdana, ya maksimal 50 episode aja lah. Hitung-hitung pemula yang masih belajar." Gitu suara hati Author kala itu.


Tapi ternyata oh ternyata, bablas sampe episode 190. Mau heran tapi terjadi. Pokoknya, aneh tapi nyata.


Sering kali ngerasa, di bandingkan novel yang pernah aku baca, tempo novel ini termasuk lambat. Selow to the moon. Konfliknya juga gak yang uwow banget. Tergolong masih batu-batu kerikil.


Belum lagi sebagai penulis baru, kekurangan masih banyak. Mulai dari bahasa yang masih belum mengalir indah, pemilihan kata yang masih sering itu-itu aja karena bank diksi aku yang masih seadanya, sampe dengan typo yang bertaburan.


Karena itu sering kali udah mikir yang aneh-aneh.


"Ada gak ya yang masih mau baca?"


"Mereka terhibur gak ya?"


"Mereka kecewa gak ya novel ini terlampau lambat?"


"Ceritanya ngebosenin atau gimana?"


Dan masih banyak lagi yang aku khawatirin.


Tapi sampe episode kemarin, masih ada aja yang baca dan bahkan kasih like. Aku terharu banget. Gak nyangka. Kok bisa? Speechless. Tapi bersyukur.


Pokoknya apapun itu Author tetap cintahhh. Terima kasih. Terima kasih. Dan Terima kasih.


Untuk novel Uta & Alber, meski statusnya sudah END, tapi rencananya masih ada bonus chapter untuk teman-teman nanti. (Itupun kalau kalian gak bosan ya ๐Ÿ˜)


Teman-teman bisa banget mampir cek-cekidot ke igeh Author. @zeroind.zero.novel


Akhir kata, tengkiyuh buat semua readers yang baik hati. Semoga sehat dan bahagia selalu. Jangan lupa buat check signature cookies dari novel Uta dan Alber, tersedia di market place oren dan hijau.






Sampai bertemu di novel aku berikutnya ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜๐Ÿค—


โค ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2