![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Felix POV
Kumulai lah misi pendekatan ke target yang Ken tentukan. Langkah pertama yang kulakukan adalah mengumpulkan informasi dan mengobservasi target. Sejauh ini informasi yang kudapat, gadis itu bernama Uta Arabella Lavanya.
Utama merupakan siswi jurusan 2 IPA-2, satu tingkat di bawahku. Ia salah satu penerima beasiswa jalur prestasi, yang diperuntukkan khusus bagi keluarga yang kurang mampu. Dia memiliki dua sahabat yang biasa berinteraksi dengannya. Reta dan Edgar.
Edgar merupakan salah satu atlet basket andalan Z1 yang sering kali menjadi rival bertanding tim basket angkatanku. Sementara Reta, salah satu siswa tercerdas di angkatannya. Reta sudah langganan di 3 besar tiap kali menerima rapor.
Benar kata Ken, gadis ini benar-benar tertutup. Selain dari pada informasi diatas, aku bahkan tak bisa mendapat informasi tambahan lainnya. Saat kami beberapa kali berpapasan, ia menoleh padaku saja tidak.
Bahkan saat diriku selalu mengikuti aktivitasnya dalam jarak dekat, ia juga tak peduli. Lebih tepatnya mungkin dia tak tahu aku berada di dekatnya. Padahal siswi siswi lain, sudah pasti grasak grusuk ingin sekadar melihatku.
Nampaknya tingkat kesulitan mendekati gadis ini, lebih sulit daripada yang ku bayangkan. Wajah, fisik dan kepopuleranku seolah tak berarti di depannya.
Kuputuskan untuk melakukan observasi lebih dalam. Hingga aku menemukan celah untuk dapat berinteraksi dengannya. Perpustakaan. Gadis itu rutin ke perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah yang tak jauh dari rumahnya.
Aku sengaja datang ke perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah yang dekat dengan rumahnya, sesuai jam gadis itu biasanya datang. Seperti yang biasa kita lihat dalam sinetron atau film, aku beberapa kali menabrakkan diri dengannya dan membuat hal itu seolah-olah kejadian tak sengaja.
Meskipun gadis polos itu tampak tak curiga, tapi ia hanya meminta maaf lalu berlalu pergi. Tak ada interaksi lebih dari itu. Aksi tak sengaja menabrakkan diri pun, rupanya tak membuahkan hasil.
__ADS_1
Seolah semesta mendukung, suatu ketika buku yang ingin Uta pinjam ternyata hanya ada satu di perpustakaan daerah dekat rumahnya. Sebuah novel terjemahan dari penulis terkenal. Dan beruntungnya, buku tersebut berada di tanganku.
Kesempatan ini tentu tak ku sia-siakan. Buku itu kuserahkan padanya dengan alasan aku masih tidak punya waktu untuk membacanya. Jika perkiraan ku benar, gadis ini tak sabar untuk segera membaca novel ini, sebab setahuku novel terjemahan ini baru saja dirilis.
Dan BINGGO. Pengorbananku akan novel tersebut berbuah manis. Aku berhasil mendapat nomor teleponnya dengan mengatakan, ia bisa memberi tau ku jika sudah selesai membaca buku itu.
Awalnya ia tak bersedia, tapi saat kubilang orang lain akan meminjamnya jika tak langsung memberikan novel itu kepadaku, akhirnya membuatnya memberikan kontaknya. Dan benar saja, selang 3 hari gadis itu menghubungiku dan mengatakan, bukunya sudah bisa beralih ke tanganku. Ia menyerahkan buku itu saat aku dan dia bertemu kembali di pusda. Sejak saat itu, kami sering berkirim chat WA meski topiknya seputar novel saja.
Step pertama sudah berhasil kulewati. Namun bukan Felix namanya jika berhenti sampai di situ. Ku susun sebuah strategi yang tergolong nekat. Tepat di hari Minggu, aku menyetel mobil ku mogok tak jauh dari rumah Uta, yang memang sudah ku tau lokasinya. Dan rencanaku berjalan mulus.
Dia melihatku mencari bantuan di sekitar, saat dirinya sedang menyiram tanaman. Tentu saja aku berpura pura kaget, kalau ternyata mobil ku bermasalah di area rumahnya. Aku katakan padanya, mobilku mogok saat perjalanan ingin jogging di waktu wekeend dan tentu saja dia percaya. Satu lagi informasi yang kudapat tentang dirinya, ia suka tanaman.
Mengetahui aku dalam kesusahan, Uta mempersilahkan ku menunggu orang bengkel dirumahnya. Bagai mendapat jackpot, aku juga berkenalan dengan ibu dan adiknya. Tante Celine menjamuku dengan makanan lezat buatannya. Rupanya beliau memiliki usaha makanan skala rumahan.
Tak berhenti sampai di Uta dan Mamahnya. Aku juga tak kalah dekat dengan Tama, adik Uta. Kami sering sekali ngobrol tentang olahraga. Mulai dari sepak bola, basket, MMA, UFC, bulu tangkis, moto gp dan masih banyak lagi.
Aku bahkan tak jarang menonton pertandingan liga Inggris alias English Premier League (EPL), bersama Tama. Sesekali saat aku dan Tama ada waktu, kami akan bermain basket ke lapangan basket di sekitaran rumahnya.
Sama seperti Uta dan Tante Celine. Tama juga anak yang sangat menyenangkan. Perspektifku akan Uta perlahan berubah. Terlebih setelah aku mengenal keluarganya lebih dekat.
__ADS_1
Semenjak itu, hubungan ku dan Uta semakin lama semakin dekat. Setiap hari kami berkirim chat WA. Kami sering janjian bertemu di pusda. Seringkali juga, aku mengantarnya ke rumah sepulang dari pusda.
Bahkan Sabtu dan Minggu aku berkunjung ke rumahnya dengan berbagai alasan, salah satunya ingin silaturahmi dengan Tante Celine dan Tama. Seperti biasa, gadis polos itu pun percaya tanpa menaruh sedikitpun curiga padaku.
Entah mengapa aku merasa nyaman dengan keramahan keluarga ini. Suasana hangat di rumah ini membuatku merasa seolah bagian dari keluarga mereka. Tanpa kusadari weekend menjadi waktu yang kutunggu tunggu belakangan ini.
Hari berganti hari, semakin hari aku menemukan sisi baru lagi dari Uta. Lebih tepatnya tentang Ayah dari Uta. Dibalik keramahan dan keceriaan Uta dan keluarganya, ada hal yang ku dapati, sebuah luka yang tersimpan di balik tawa mereka.
Tante Celine harus bekerja keras membanting tulang mencari nafkah, sebab suaminya tidak bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka. Papah Uta tidak bekerja dan sering mengambil uang hasil catering istrinya untuk dipakai judi. Ia bahkan sengaja menyewa rumah dan tinggal di luar kota, agar tak dilarang berjudi oleh Tante Celine.
Lebih parahnya lagi, Papah Uta memperlakukan kedua anaknya tidak adil. Beliau terang-terangan sangat memanjakan Tama, sebaliknya beliau selalu memarahi Uta bahkan berani main tangan, memukul anak gadisnya itu. Bentakan dan makian dari laki-laki tersebut, nampaknya sudah biasa gadis itu dengar.
Satu hal yang membuatku kasihan, namun disisi lain aku salut padanya. Uta tak pernah sekalipun mengeluh atau menyalahkan keadaan. Ia juga tak menyalahkan sang Papah, maupun iri terhadap adiknya. Diluar dugaanku, gadis itu bukan hanya polos, tapi juga mempunyai kesabaran seluas samudra.
Satu bulan sudah aku dekat dengan Uta dan keluarganya, namun aku belum berhasil menyelesaikan misiku menjadikannya sebagai kekasihku. Uta seolah menutup akses untuk berinteraksi denganku saat di sekolah, ia baru akan lebih mencair ketika kami di luar sekolah. Jujur hal itu sangat menyulitkanku untuk bisa melakukan pendekatan maksimal.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
❤
ZEROIND