Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
152. Jakarta


__ADS_3

Author POV


"Hari ini hidup gue udah kayak roller coaster tau gak?!! Gue tuh ke Jakarta rencananya 3 bulan lagi, bukannya besok. Hufftttt ...." Protes Uta pada Reta yang membuat rencananya berubah dadakan dalam sekejap.


"Wkwkwkk ... Sabar bu...!!" Reta Tertawa melihat Uta pusing menata kopernya. Ibarat keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Satu permasalahan selesai, langsung timbul masalah baru.


"Pokoknya lo mesti tanggung jawab. Gue nebeng mobil lo yang lagi nganggur di Jakarta. Kan lo lagi disini, jadi gue aja yang pake selama disana." Ucap Uta dengan muka protes yang makin membuat Reta terkekeh.


"Jangankan mobil Ta, se apart-apartnya boleh. Aku pinjamin dengan suka rela." Jawab Reta dengan senang hati. Apa yang enggak untuk sahabatnya itu.


"No ..!! Gue tinggal sendiri aja Re. Pinjem mobil udah cukup kok." Tolak Uta. Ia merasa cukup meminjam mobil Reta yang sedang menganggur saja.


"Masya Allah, sahabat gue sekarang sudah jadi orang kaya." Goda Reta sengaja pada gadis lucu itu.


"Apaan sih, ngaco tau gak!! Itu rumah Mamah yang beli, bukan aku. Lagian juga kecil-kecilan Re, bukan rumah gedong. Mamah katanya lebih tenang kalo Tama ada tempat tinggal pas kuliah nanti, biar nyaman katanya. Lo kan tau sendiri, rumah masa kecil gue udah dijual bokap. Entah lah sapa yang punya sekarang. Kalo ada, pasti gue milih tinggal disana Re, gimanapun terlalu banyak kenangan manis disana." Jelas Uta yang tiba-tiba merasa berat jika membicarakan rumahnya dulu.


"Hug Uta." Reta memeluk Uta. Ia ikut sedih nasib kawannya sebelum pindah ke kota ini.


"Gue bantuin packing yah, biar lo gak sedih." Jawabnya menawarkan jasa gratis.


"Wkwkwkkw..." Uta, Reta tertawa bersama.


..._____________ Z _____________...


Uta tiba di Jakarta sekitar sore hari. Mamah Celine meminta untuk naik penerbangan pagi, maksimal siang agar sampai Jakarta tak malam hari. Uta yang memang mengabari Edgar akan ke Jakarta, tak bingung masalah transport, sebab Edgar bilang ia sendiri yang akan langsung menjemput gadis itu.

__ADS_1


"EDGAR ...." Teriak Uta melihat sahabatnya sudah menanti di pintu keluar. Ia lantas berjalan cepat ke arah Edgar. Dipeluknya sahabat yang selalu ada di garda terdepan membelanya.


"Aaaaaaaa .... Gue kangen banget banget banget." Ucap Uta masih memeluk Edgar. Ia benar-benar rindu dengan sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan melepas rindu.


"Lo bener-bener ya Ta!! Pindah gak pamit, gak ada kabar, nomor gak aktif. Tiba-tiba chat gue bilang mau ke Jakarta. Best banget lo!!!" Omel Edgar pada Uta. Bukannya takut, Uta malah cengengesan dimarahi Edgar. Rasanya rindu di omelin oleh Edgar. Tapi ia juga tidak mengelak, rasa bersalahnya besar pada Edgar karena pergi tanpa pamit.


"Edgar lo tambah keren sekarang. Sehat Gar, keluarga gimana? Om Tante sehat juga kan?" Ucap Uta mengalihkan topik. Ia jauh lebih kepo kabar Edgar dan keluarga.


"Sehat, mereka sehat. Lo sendiri sehat? Lo berubah banget sekarang Ta. Mamah sama Tama gimana, sehat?" Jawab Edgar yang juga bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Sehat. Mereka titip salam sama lo." Ucap Uta.


"Salam balik. Bilangin, gue rindu masakan legend Mamah." Ucap Edgar dengan pandangan rindu masa dulu.


"Lo masih hutang penjelasan ke gue." Ujar Edgar lagi. Ia ingat Uta belum menjawabnya.


"Aduh gue pengen beli minuman dingin deh. Puanaassss banget ini." Ucap Uta agar bisa lepas dari topik ini. Ia belum siap jika Edgar bertambah marah, karena ia tak cerita saat sedang ada masalah.


"Pinter banget ya ngalihin topik." Ujar Edgar mengambil alih koper Uta.


"He ... he ... he ..." Uta terkekeh menang. Ia berjalan deluan dari Edgar yang masih heran dengan sahabat kecilnya itu.


..._____________ Z _____________...


Selesai mandi, Uta langsung membaringkan dirinya di tempat tidur rumah mungil yang Mamah Celine beli. Rumah yang dipersiapkan untuk tempat tinggal Tama selama menimba ilmu nanti. Uta jadi tak perlu membayar hotel untuk sekedar menginap.

__ADS_1


Edgar sebenarnya sudah menawarkan Uta untuk tinggal dirumahnya, terlebih orang tua Edgar rindu dengan sekali dengan Uta. Tapi Uta mengatakan lain kali. Ia ingin kalau sudah lebih fresh, baru bertemu keluarga Edgar. Saat ini dirinya masih jetleg. Jadi, khawatir malah bad mood yang terjadi.


Tak butuh waktu lama, Uta yang sudah lelah jatuh terlelap. Ia baru bangun saat subuh datang. Usai sholat, Uta kemudian sarapan dengan beberapa helai roti saja. Rencananya, ia akan mengambil mobil Reta di apartemen Reta, sepulang bertemu Panji. Barulah ia akan pergi belanja kebutuhannya selama di Jakarta.


Usai sarapan, Uta memutuskan untuk ke tempat pertemuan dengan Panji. Reta mengatakan, Panji meminta untuk langsung bertemu diarea bangunan yang akan di renovasi sekitar jam 10 pagi. Uta pun memilih naik busway kesana. Ia rindu juga suasana naik transportasi umum itu. Hitung-hitung nostalgia zaman dulu.


Uta tiba di alamat yang dimaksud, 10 menit lebih cepat. Bangunan satu lantai yang sudah ia beli ini, harapannya ingin ia sulap sebagai cabang kedua usahanya. Namun tentu banyak keraguan akan kekuatan bangunan. Maklumlah, tempat yang ia beli ini merupakan bangunan yang telah berdiri 30 tahun lebih, artinya termasuk bangunan sudah tua. Untuk itulah, ia akan menanyakan pada ahlinya saja.


Ia memilih masuk kedalam bangunan itu terlebih dahulu. Ia berencana untuk mengecek keadaan dalam dahulu, sebelum nanti Panji datang. Setidaknya Uta ingin memastikan ada bangku untuk Panji, kalau-kalau ia ingin duduk.


Tok ... tok ... tok ...


Tak lama terdengar sebuah ketukan pintu, membuat Uta buru-buru berjalan untuk membukakan pintu.


"Iya sebentar..." Ujar Uta agar Panji tak bingung menunggu.


"A ... A ... Alber?"


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2