Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
131. Merah Padam


__ADS_3

Flashback starts


Alber POV


Pagi itu ku hampiri Uta dan Putri yang masih berbagi sedih. Kedua wajah chubby yang biasa terlihat ceria, pagi ini terlihat begitu murung. Terlebih Putri yang selalu ceria, hari ini berubah amat sedih. Kemarin saja ia sudah terus-terusan menangis, karena akan pindah besok ke Surabaya. Membuat hatiku rasanya ikut nelangsa.


Ku tawarkan sebuah ide untuk pergi ke kebun binatang, karena aku tahu Putri akan menyukainya. Dan benar saja, air muka yang tadi sedih seketika berubah menjadi semangat kembali. Ia bahkan sempat-sempatnya request untuk memakai baju kembar, agar sama denganku dan gadis dasi. Rupanya tanpa ada janjian sebelumnya, kami memakai baju yang warnanya kurang lebih hampir sama.


Tak sampai 15 menit, Putri sudah kembali mendatangiku di taman belakang. Ia sudah berganti kostum dengan warna senada, lengkap dengan topi dan sepatu putih. Selang beberapa detik, tampak Uta berjalan di belakangnya.


Satu hal yang berbeda, Uta berjalan memakai sebuah topi berwarna putih. Membuatnya terlihat seperti seorang gadis tomboy yang manis menggemaskan. Usut punya usut, topi itu ia pinjam dari Bunda Putri. Dalam hati aku tersenyum melihatnya. Kuputuskan untuk memakai topi putih juga, agar kita totally kembar.

__ADS_1


Perjalanan kami pun dimulai. Ku kemudikan si hitam menuju tempat yang ku pilih, yaitu Ragunan Zoo. Ini pertama kalinya kami semobil bertiga. Sepanjang perjalanan Putri kembali berceloteh riang, mempertanyakan banyak hal di pangkuan Uta. Dengan sabar Uta menjawab pertanyaan itu.


Hingga sampailah kita di Kebun Binatang Ragunan. Saat itu jam baru menunjukkan pukul 10.00 pagi. Matahari masihlah belum terik. Ditambah lagi, hari ini cuaca Jakarta lumayan bersahabat.


Saat kami bertiga turun dari si hitam, tampak beberapa pengunjung lain menatap salah paham ke arah kami. Mereka berpikir, kami bertiga adalah keluarga kecil bahagia. Mungkin itu dikarenakan style kami yang senada. Sehingga dari jauh sudah menyita perhatian.


Kulihat beberapa kali gadis dasi memperbaiki topinya, memastikan benda putih itu menutupi sebagian wajah chubbynya. Mungkin ia tak nyaman menjadi pusat perhatian orang-orang. Tapi tidak denganku. Entah mengapa perasaanku melambung tinggi. Baru kali ini, salah paham orang terasa nikmat. Aku bahkan mengamini, semoga suatu saat nanti kami beneran jadi keluarga.


Kami berjalan ke area aneka satwa burung berada. Begitu banyaknya ragam fauna burung disana, membuat Putri menjadi bersemangat. Matanya berbinar-binar bagai menemukan peti harta karun.


Hingga akhirnya burung merak begitu menyita perhatiannya. Melihat burung merak melebarkan ekornya yang sangat indah, membuat Putri freeze sesaat karena merasa takjub. Bocah itu bahkan memintaku untuk mengabadikan fotonya di samping merak.

__ADS_1


Ia kemudian berucap, andaikan di rumah kami, ada beberapa ekor burung yang dipelihara, pasti akan menyenangkan katanya. Namun rupanya jawabanku yang ambigu, membuat gadis dasi salah paham.


Ia bahkan sempat menarikku menjauh dari Putri untuk menegurku secara 4 mata. Dipikinya aku membicarakan 'burung', yang mana bagian alat vital laki-laki, di hadapan bocil. Namun pikirannya berubah setelah ku klarifikasi, burung yang kumaksud disini adalah kumpulan foto satwa burung eksotis di dalam laptop.


Seketika ku lihat, ia buru-buru menutup wajahnya yang merah padam. Mungkin Uta menyadari, dirinya telah salah paham. Lucu dan menggemaskan. Rasanya ingin kucium pipi merah itu, tapi sayangnya kita belum berpacaran. Karena terlalu malu, Uta memilih pergi berjalan terlebih dahulu ke area satwa selanjutnya.


Bersambung ..............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2