Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
162. Ada Sesuatu Yang Mesti Kamu Tau


__ADS_3

Author POV


Meja makan rumah Uta sudah di sabotase Alber menjadi meja kerjanya. Uta hanya bisa bersabar dengan keisengan Alber yang menjadikan rumahnya kantor hari ini. Mereka berdua sesekali berdiskusi tentang proyek Uta, sambil menatap layar ipad Alber. Sore hari barulah Alber pulang.


Hal itu berulang hampir seminggu lamanya. Ada saja alasan Alber agar bisa didekat Uta. Alber yang sekarang menjabat sebagai CEO perusahaan raksasa Farabaks group itu, bahkan tak segan menemani Uta survei kesana-kemari, dalam rangka kelangsungan bisnis barunya di Jakarta.


Meski Alber sempat menawarkan koneksi yang ia punya agar Uta lebih mudah, tapi Uta menolaknya halus. Uta ingin usahanya berkembang tanpa embel-embel nama Alber ataupun Farabaks group. Ia ingin orang membeli produknya, seratus persen karena rasa lezat dan kualitas yang ia tawarkan. Uta merasa, dirinya akan lebih puas jika menjalani proses demi proses sendiri, meskipun tidak mudah tahap demi tahapnya. Dan Alber menghargai keputusan Uta tersebut.


Alber memilih menemani Uta melewati proses demi proses. Mulai dari mencari peralatan dapur produksi, seperti mixer kapasitas besar, oven skala besar, sampai dengan printilan kecil pelengkap dapur produksinya nanti. Uta memesannya lebih dulu.


Alber juga menemani Uta menemui vendor satu ke vendor yang lain. Hal itu wajib Uta lakukan, untuk mencari rantai pasok bahan baku cabang keduanya nanti. Produksi cookies akan memerlukan pasokan bahan baku yang tak sedikit. Oleh karena itu, kerjasama dengan para vendor akan sangat membantu lancarnya produksi.


Alber juga dengan senang hati menemani Uta mensurvei, ranah mana saja yang sekiranya bisa menjadi tempat distribusi pemasaran cookiesnya nanti. Meski ia sudah menjalankannya di Padang Panjang, tapi itu terbatas secara online saja.


Dicabang keduanya ini, Uta rencananya akan membuka jalur offline juga. Sehingga dirinya sadar, untuk bisa mewujudkan itu, ia harus mau beradaptasi lagi. Setiap daerah memiliki plus minus yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhannya juga berbeda. Dan Alber selalu sabar menemaninya.


Hampir seminggu mereka berkelana kesudut-sudut Jakarta. Hingga akhirnya Uta sudah memenuhi checklist keperluan cabang keduanya. Setidaknya ia sudah dari jauh-jauh hari memastikan hal tersebut. Sebab, belajar dari pengalaman terdahulu, kadang ada beberapa item, yang harus menunggu 2-3 bulan untuk ready di gunakan.


Hari minggu ini, Uta tak kemana-mana. Alber, jangan ditanya. Ia kembali berkantor di rumah Uta. Laki-laki itu kini sibuk merancang bangunan milik Uta yang akan jadi cabang kedua bisnisnya. Bangunan tua sudah berhasil dirobohkan beberapa hari yang lalu, tanda eksekusi bangunan tak lama lagi.

__ADS_1


Rencananya bangunan satu lantai itu akan dibangun ulang menjadi tiga tingkat. Beberapa kali Alber memberikan pilihan, Uta ingin penyusunan tiap tingkat seperti apa. Nanti barulah ia tinggal menyesuaikan dengan alat-alat yang sudah Uta pesan kemarin.


Selesai mengantongi gambaran besarnya, Alber mulai masuk dunianya. Ia mulai menuangkan ide di kepalanya ke dalam gambar. Uta yang tidak lagi ditanya laki-laki itu, memilih mengambil laptopnya. Ia mulai memeriksa laporan mingguan yang rutin Kia berikan.


Gadis itu tersenyum. Meskipun ia tak memantau langsung bisnis cookiesnya, tapi bisnis tersebut masih berjalan tanpa hambatan. Bahkan terdapat kenaikan pesanan cookies minggu ini. Usut punya usut, hal tersebut karena Reta membantu memasarkan cookies Uta lewat flatform TubeYou.


Reta emang best. *Uta


"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Tanya Alber yang sedari tadi melihat Uta senyam-senyum tak jelas.


"Ga papa. Aku lagi happy you know." Jawabnya makin cengar-cengir. Alber hanya geleng-geleng dengan kelakuan Uta.


"BTW Alber, kamu sampe kapan mau ngantor disini? Emangnya seminggu ini kamu enggak dicariin?" Tanya Uta gantian pada Alber.


"Ehm ... Annem Babam." Ucap Uta.


"Aku bukan anak kecil Ta." Masih menatap gambar demi gambar.


"Ehm ... Karyawan kamu mungkin." Ujar Uta lagi.

__ADS_1


"Ada Baris." Jawab Alber tanpa dosa. Baris asistennya yang akan menghandle perusahaan, sementara ia akan memantau dari rumah Uta.


"Ehm ... Pacar kamu." Ucap Uta lagi.


"Pacar aku siapa?" Kini Alber menoleh ke arah Uta, sekaligus menyeruput kopi yang Uta sediakan.


"Ayleen. Bukannya kalian dulu pacaran?" Tatap Uta balik.


"Uhuk ... uhuk ... Sejak kapan Ayleen pacar aku? Kamu tuh mikirnya ngaco." Alber yang kaget sampai terbatuk. Sementara Uta tampak polos, karena memang ia tak tahu banyak tentang hubungan mereka.


"Berhubung kamu bahas Ayleen, ada sesuatu yang mesti kamu tau." Ucap Alber serius.


"Apa kamu masih ingat, fitnah tentang kita yang menyebar di Z1 enam tahun lalu?" Ditatapnya Uta lekat-lekat. Uta yang jelas masih ingat semua itu lantas mengangguk.


"Ayleen lah dalang dari berita bohong itu."


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2