![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Alber menepikan si hitam di area taman yang agak jauh dari padatnya lalu lintas. Ia berpikir Uta butuh suasana tenang saat ini. Gadis itu hanya diam melihat keluar kaca mobil. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Begitupun air mata, tak setetes pun mengalir di pipinya.
Meskipun gadis itu diam, tapi Alber yakin hatinya berkecamuk hebat. Tak adanya tangisan Uta membuat Alber menduga hal seperti tadi sudah sering kali terjadi, hingga di sadari atau tidak, perasaan gadis itu perlahan menjadi kebal atau bahkan mati rasa. Tapi itu justru membuat Alber lebih khawatir.
"Ta ..." Panggil Alber lembut pada Uta yang sedari tadi duduk diam, menatap kosong ke depan. Gadis itu menoleh ke arah si pemanggil.
"Aku gak apa apa. I'm okey." Ucapnya dengan wajah yang datar dan sorot mata redup, seolah menahan tangis, berbanding terbalik dengan apa yang barusan ia ucapkan.
"It's oke untuk nangis Ta." Ucap Alber tulus. Mencoba memahami, jika memang Uta ingin mengekspresikan perasaan apa yang ada di hatinya sekarang.
"Enggak, aku gak mau ..." Belum selesai Uta mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan, Alber sudah keburu menariknya ke dalam pelukannya.
"Alber lepasin aku." Uta yang kaget saat tiba-tiba Alber memeluknya, sempat berontak untuk melepaskan diri dari pelukan Alber. Namun apa daya, lengan-lengan kokoh itu bahkan tak bergeser sedikitpun. Laki-laki itu terlalu kuat untuk mengunci Uta tetap dalam dalam pelukannya. Pasrah akan hal itu, Uta perlahan tak lagi melawan. Untuk sesaat mereka hanya diam tanpa ada yang bicara.
"Kamu boleh nangis kalo emang kamu mau nangis." Ucap Alber lembut pada gadis di dalam pelukannya. Ia dapat merasakan tubuh Uta bergetar walau tak begitu kentara, pertanda gadis itu menitikkan air mata.
__ADS_1
"Tapi aku gak mau nangis, aku malu nangis gini." Ucapnya dengan suara menahan tangis, tapi sayangnya fakta bahwa dirinya sedang menangis, tak dapat disembunyikan dari tangkapan pendengaran Alber.
"Makanya Biarin tetap seperti ini dulu. Kalau kamu tetap sembunyi di pelukan aku kan, kamu bisa nangis tanpa perlu malu. Toh aku sendiri juga gak bisa lihat kamu nangis. Jadi kamu bisa nangis sepuasnya." Ujar Alber yang tetap memeluk Uta. Sementara gadis itu terdiam dengan tetap air mata mengalir deras dari kedua matanya.
Apa yang Alber bilang memang ada benarnya, dipelukan Alber paling tidak, tak ada yang bisa melihat air matanya yang tak mau diajak berhenti mengalir, termasuk Alber sendiri. Paling tidak, Uta bisa menangis sepuasnya seperti yang Alber katakan.
Tak berapa lama, Uta mulai menangis. Dibiarkannya air mata yang selama ini ia tahan, keluar tanpa tertahan, mengalir membasahi pipi sepuasnya. Rasa sedih atas perlakuan sang Ayah, ditambah lagi dengan rasa malu. Malu karena Alber menyaksikan semua hal itu, membuat perasaannya teramat sangat sakit, lebih dari sebelum sebelumnya. Hati yang selama ini dipaksa menahan semuanya dalam diam, kali ini pecah sudah bagaikan bom waktu.
Suara isak tangis yang setengah mati ia tahan agar tak didengar oleh Alber, perlahan-lahan makin jelas menggema. Suara tangis yang terdengar sangat sedih itu, pelan-pelan menular pada orang yang memeluknya sekarang. Entah kenapa, Alber merasa suara tangis itu begitu menyayat perasaannya.
"Apa sekarang udah gak ngerasa malu lagi?" Tanya Alber yang masih memeluk Uta erat. Dijawab Uta dengan mengangguk, seolah-olah Alber bisa melihatnya saat ia mengangguk barusan. Alber memang tidak melihat hal itu, tapi untungnya ia merasa adanya pergerakan kepala Uta seperti mengangguk.
"Apa Papahmu selalu begitu ke kamu?" Uta terdiam, nafasnya tercekat. Ia juga kaget kenapa Alber bisa mengendus perasaan pahit, yang ingin dia sembunyikan dalam dalam, tanpa ada satupun orang yang tahu. Di sisi lain untuk Alber, dengan diamnya Uta, secara tidak langsung sudah menjawab apa yang ia tanyakan.
Sebersit rasa nyilu menyerang perasaan Alber. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana rasa sakit yang Uta rasakan, pastilah berkali kali lipat dari yang ia rasakan.
"Apa kamu membagi kesedihanmu ke orang lain?" Uta juga terdiam tak bisa menjawab.
__ADS_1
"Uta Arabella Lavanya ... Dengerin, aku pengen bilang dua hal sama kamu."
"Pertama, mulai hari ini kamu punya tempat cerita untuk berbagi sedih, namanya Alber Syargan Farabaks. Si Alber itu bakal dengerin apapun yang kamu mau ceritain. Kamu bebas cerita apa aja, bebas mau nangis atau enggak, dan bebas mau cerita jam berapa aja. Si Alber janji gak akan marah. Dia juga janji gak bakal ember, sekalipun ke Annem Babamnya." Ucap Alber lembut sembari menepuk nepuk pelan punggung Uta. Meskipun Uta tak menjawab dan hanya diam, tapi Alber bisa merasakan gadis itu kembali menangis lewat punggungnya yang bergetar.
"Yang kedua, kamu mesti tahu, bahwa semua anak itu berharga, sama halnya semua orang tua sangat berharga di mata anaknya. Mau satu dunia bilang kamu itu Alber, kalau kamu Uta dan bukan Alber, maka kamu akan tetap jadi Uta dan tidak akan pernah menjadi Alber. Mau satu dunia bilang kamu tak berharga, termasuk Papahmu sendiri mengatakan hal seperti itu, itu gak lantas bikin kamu jadi manusia sia-sia. Berharga atau tidaknya manusia itu dilihat dari apa yang dia lakukan, bukan dari perkataan orang-orang terhadapnya. Dan ingat satu hal, kita semua itu ciptaan Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Kita sebagai ciptaan harus yakin dan percaya akan hal itu." Ucap Alber tulus dari hati, masih tetap menepuk nepuk lembut punggung gadis dalam pelukannya.
"Alber kamu jangan tepuk tepuk punggung aku, aku jadi tambah nangis kalau di gituin." Protes gadis itu, kemudian di ikuti dengan aksi melepaskan diri, dari rengkuhan teman sekelasnya itu. Ia kembali duduk dengan benar di kursinya. Tak lupa di sekanya sisa sisa air mata dengan punggung tangan.
"He .. he .. he.. Kalau udah bisa protes, berarti artinya udah baikan." Melihat itu Alber terkekeh pelan. Diambilnya tissu dari dalam dashboard, untuk ia serahkan ke gadis dasi. Uta meraih tissu yang Alber berikan. Ia juga langsung mengaplikasikan benda mudah menyerap itu, untuk mengelap beberapa titik menggenang di area wajahnya.
"Alber, aku mau jujur tapi kamu jangan marah ya." Ucap Uta dengan intonasi pelan namun serius.
"Jujur apa?" Jawab Alber benar benar memasang baik baik alat pendengarannya, kalau kalau Uta ingin cerita.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
❤
ZEROIND