![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Aaakkhh ... Apa yang anda lakukan??? Tolong turunkan saya tuan Alber!!!" Protes Uta saat Alber tiba-tiba menggendongnya ala bridal style, membuat orang-orang sekitar mereka sontak melirik kearah mereka. Sekuat tenaga gadis itu berontak agar ia turun dari gendongan Alber. Namun percuma, lengan lengan kokoh itu bahkan tak goyah sedikitpun.
Dengan susah payah, Alber membuka pintu mobilnya sembari masih menggendong Uta. Ia kemudian meletakkan Uta yang masih mencoba berontak, agar duduk dibangku depan. Jarak yang begitu dekat saat Uta duduk, membuat gadis itu sedikit mengurangi pemberontakannya. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Alber. Bahkan wangi laki-laki itu menguar jelas di indra penciumannya.
"Duduk diam disini. Percuma kalau kamu mau kabur." Ucap Alber menatap Uta. Alber memastikan Uta duduk diam di kursi mobil, baru kemudian menutup pintu mobil dan berjalan kearah kursi kemudi.
"Apa maksud anda tu...an??" Ucapan Uta terputus saat Alber yang baru saja duduk di kursi kemudi, mendekat kearah Uta untuk memasangkan safety belt gadis itu. Ia bahkan sempat menahan nafas saat jaraknya hanya beberapa centi dari Alber.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Cukup duduk tenang dulu sekarang." Ucap Alber tepat didepan wajah Uta, baru kemudian ia kembali ke posisi duduknya. Mobil perlahan berjalan meninggalkan area cafe.
..._____________ Z _____________...
"Maag nona Uta kambuh lumayan parah. Itu yang menyebabkan perut nona melilit." Ucap dokter Dery usai menangani Uta. Gadis itu sekarang setengah berbaring di tempat tidur ruang pemeriksaan. Sementara pelaku yang membawanya kemari, berdiri diam di samping tempat tidur.
Alber membawanya ke rumah sakit tak jauh dari area cafe. Anehnya, begitu sampai seluruh kepala staf berduyun-duyun menangani Uta. Mereka memberikan pelayanan medis begitu cepat dan cekatan. Padahal pasien lain masih ada yang mengantri.
"Apa sebelumnya nona memang sering seperti ini?" Tanya dokter Dery.
"Tidak pernah separah ini dokter. Ini pertama kalinya perut saya sampai melilit sakit begini." Ucap Uta terus terang.
"Tampaknya nona sedang banyak pikiran. Maag memang bisa kambuh jika dipicu makanan tertentu. Tapi sebenarnya faktor stress bisa yang paling berpengaruh besar." Ucap dokter Dery yang tampak peka membaca keadaan pasiennya. Uta hanya diam tak menjawab. Dirinya sempat melihat kearah Alber yang menjadi alasan stressnya datang. Namun apesnya, Alber juga sedang menatap ke arahnya. Uta akhirnya memilih kembali melihat dokter Dery.
"Apa sebelumnya nona ada makan-makanan pedas?" Tanya dokter Dery.
"Tidak, hanya kopi dokter." Jawab Uta mengingat apa yang ia makan sedari pagi.
"Apa nona menghabiskan satu cangkir penuh?" Tanya dokter Dery kembali.
"Lebih tepatnya dua cangkir dokter." Jawab Uta jujur.
__ADS_1
Seseorang datang sangat-sangat on time. Benar-benar terpuji. *Uta
Ucapnya sebal melihat Alber. Jika saja laki-laki itu datang sesuai janji temu, bisa dipastikan satu cangkir kopi belum tentu ia bisa habis. Sementara yang ditatap sebal oleh Uta, tetap diam di tempatnya.
"Hemh ... Dua ya? Siang ini, apa sudah makan siang?" Beliau tampak menganggukkan kepala sembari bertanya. Uta hanya menggelengkan kepala. Ia hanya sarapan dengan 2 lembar roti isi selai dan segelas susu. Namun memang siang ini ia belum makan. Malah menghantam kopi 2 cangkir penuh.
"Baiklah. Saya sudah menyuntikkan obat untuk mengurangi perut melilit nona, setengah jam lagi nona Uta harus makan supaya perut nona tidak kembali melilit. Seminggu kedepan, nona harus menghindari makan-makanan yang pedas atau terlalu asam. Nona juga tidak boleh dulu meminum kopi ataupun minuman yang mengandung alkohol. Saran saya, air putih hangat opsi terbaik." Jelas dokter Dery.
"Ini obat yang saya resepkan. Nona Uta boleh meminumnya setengah jam sebelum atau sesudah makan. Beri jeda untuk si obat mempersiapkan lambung nona mencerna makanan yang masuk. Yang paling penting, nona tidak boleh stress dan banyak pikiran. Selebihnya, istirahat yang cukup, nona secepatnya akan pulih kembali." Lanjut beliau lalu menyerahkan selembar kertas resep yang kemudian Uta terima.
"Apa tidak perlu di opname dok?" Tanya Alber yang sedari tadi hanya diam memantau apa saja yang terjadi.
"Tidak perlu tuan Alber. Anda tidak perlu khawatir. Perut nona Uta sudah jauh membaik? Bukan begitu nona?" Tanya dokter Dery penuh keyakinan.
"Ya, sudah mendingan. Sudah tidak melilit. Saya juga tidak mau di opname dokter. Maag saya dijamin kambuh lagi karena stress opname." Ujar Uta pada dokter Dery. Alber sempat melihat Uta sesaat, namun keyakinan gadis itu terlihat tak tergoyahkan untuk ini.
"Ha ... ha ... ha ... Anda bisa pulang nona. Kami tidak akan mengopname anda. Jadi, tidak perlu stress. Pikiran anda harus relax untuk pemulihan kondisi anda." Dokter Dery sempat tertawa kecil mendengar penuturan Uta. Ia kemudian mempersilahkan Uta jika ingin meninggalkan rumah sakit.
"Terima kasih dokter." Ucap Alber pada akhirnya. Dokter Dery beserta kepala staf yang lain sedikit membungkukkan badan memberi hormat pada Alber. Alber lalu berjalan keluar menyusul Uta yang sudah terlebih dahulu keluar ruangan.
Dilihatnya gadis itu sedang bertanya tempat penebusan resep obat, pada salah seorang suster yang kebetulan lewat. Alber mendekat kearahnya dan secepat kilat merebut kertas resep itu.
"Tuan Alber!! Kembalikan resep saya!!" Protes Uta yang kaget resepnya diambil oleh Alber.
"Alber!!" Ucap Alber, menekankan namanya agar Uta berhenti memanggilnya dengan sebutan "tuan". Uta sempat menatap kesal pada Alber, namun demi kertas resepnya, ia memilih mengalah.
"Heamhh ... Baiklah, Alber tolong kembalikan resep saya." Ujar Uta pada akhirnya, gadis itu tak ingin memperpanjang masalah.
"Aku!" Ucap Alber kembali dengan metode seperti tadi. Lagi-lagi Uta dibuat semakin kesal oleh laki-laki itu.
Isshhh ... !! Ini orang maunya apa sih? Kemarin, dia yang larang ngomong santai, katanya mesti ngomong formal. Sekarang tiba-tiba suruh ngomong santai. Gak jelas banget jadi orang.!!! 😠 *Uta
__ADS_1
"Alber tolong kamu kembaliin resep aku. Aku mau tebus ke apotek." Ucap Uta bercampur rasa kesal. Ia mencoba sabar dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
"Urus resep ini!" Bukannya memberikan kertas resep tersebut pada Uta, Alber malah menyerahkan kertas tersebut pada Baris, salah seorang asistennya yang baru saja tiba dirumah sakit.
"Baik tuan." Ucap Baris menunduk mengiyakan perintah tuannya.
"ALBER!!" Protes Uta, kali ini benar-benar kesal.
"Ikut aku!" Ucap Alber menarik tangan Uta agar ikut dengannya.
"Ta ... tapi ..." Uta yang kalah postur dan tenaga, sekali lagi kembali pasrah Alber membawanya.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
❤
ZEROIND
__ADS_1