Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
33. Terima Kasih Atas Lukanya


__ADS_3

Uta POV


Lanjutan Flashback


"Edgar ayo kita pergi. PLEASEEE!!" Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aku mengajak Edgar untuk pergi meninggalkan tempat ini. Edgar yang menyadari kondisiku, langsung mengiyakan untuk membawaku pergi dari sini.


"Ta ... Ta tunggu, gue bisa jelasin semuanya Ta." Sebuah tangan yang sangat kukenal menahan pergelangan tanganku, memaksa langkahku terhenti.


"MAU APALAGI LU BRENGS*K??!! APA GAK CUKUP LO NYAKITIN SAHABAT GUE??" Kembali Edgar tersulut emosi dan mencengkram kerah baju Kak Felix.


Tak seperti sebelumnya yang diam, kali ini Kak Felix memberikan perlawanan dengan melepaskan cengkraman lengan kokoh Edgar, hingga ia terlepas dari tangkapan Edgar. Kak Felix kemudian berjalan ke arahku lalu meraih kedua bahuku, agar aku menghadap dirinya.


"Ta aku akui aku salah, tapi ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelasin ini semua Ta." Dengan seluruh tubuh yang babak belur, ia berusaha menjelaskan selembut mungkin kepadaku. Namun rasa sakit hati yang kurasakan, membuat diriku langsung menggelengkan kepala. Menolak apapun yang Kak Felix katakan.


"Semua sudah jelas kak, aku udah dengar semuanya." Ucapku dengan derai air mata yang kembali mengalir deras, saat menatap matanya. Pria yang beberapa bulan ini mengisi hatiku, sudah babak belur penuh lebam. Di wajah tampan itu, darah segar mengalir dari pelipis kirinya dan sudut bibir kanannya.


Kak Felix menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa kenyataan yang kudengar tadi bukanlah seluruhnya yang terjadi. Ia bahkan mencoba untuk mengusap air mata yang mengalir di pipiku, namun sakit hati yang merajai hati ini, membuatku memalingkan wajah agar tak dapat ia sentuh.


"Nggak Ta!! Nggak seperti itu. Please kasih aku kesempatan bicara, Aku bakal jelaskan kesalahpahaman ini Ta." Ucapnya menatapku seolah begitu dalam. Diraihnya kedua telapak tanganku lalu ia genggam dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Jika biasanya kemarin-kemarin aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, entah mengapa genggaman Kak Felix saat ini, membuatku merasa menjadi manusia yang paling bodoh di dunia. Bodoh karena merasa bahagia, padahal hanya menjadi barang mainan seseorang. Rasa teramat sakit menjalar menggerogoti hatiku.


Dengan sisa sisa tenaga yang ada, kutarik kedua telapak tanganku, yang masih di genggam kuat oleh Kak Felix agar terlepas. Anehnya, Kak Felix sedikit tersentak kaget karena hal itu. Ia juga masih mencoba meraih tanganku sekali lagi, namun sebelum hal itu terjadi, aku sudah mengelak terlebih dahulu.


"Mau bohong apalagi kak?? Kak Felix nggak usah pusing cari alasan buat mutusin aku, karena mulai hari ini, kita cuman orang asing. Aku nggak ada lagi hubungan apa-apa dengan kakak." Ku dapati tatapan nanar di kedua bola mata Kak Felix, tapi kali ini aku tak bisa percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Mata itu menipuku berbulan-bulan lamanya. Tatapan mata yang kukira penuh cinta, ternyata hanya palsu belaka.


"Gak. Enggak Ta. Please jangan bilang begitu." Satu yang tak kusangka, nanar disorot matanya berubah menjadi lelehan air mata. Tak pernah kusangka Felix Dwinson menangis di hadapanku.


Wajah yang untuk pertama kalinya dibasahi tetesan air mata, ditambah lagi sorot mata yang begitu sedih, membuat hatiku melunak beberapa saat. Tapi ingatan bagaimana percakapan mereka yang kudengar di balik pintu, membuatku kembali skeptis dan lebih memilih percaya, bahwa itu hanya akting semata seorang Felix Dwinson.


"Selamat, Kakak berhasil mempermainkan perasaanku. Maaf kalau selama ini aku punya salah sama Kakak, sampai- sampai Kak Felix sengaja menjadikan aku barang taruhan. Terima kasih atas lukanya Kak. Semoga Kakak puas dan bahagia sama Kak Devina. Sekarang kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi. Kita putus." Entah keberanian dari mana yang datang menghampiriku, ku akhiri hubunganku dengannya. Rasa kecewa yang terlalu besar ataukah rasa dipermainkan oleh orang yang sangat aku percaya, membuatku berani menyampaikan segala isi hatiku, langsung di hadapannya. Tangannya yang masih bertengger di pergelangan tanganku, terasa sedikit bergetar.


Kak Felix yang sudah dalam keadaan babak belur, bisa saja roboh di lantai sepenuhnya jika tidak segera ditopang oleh Kak Revan dan Kak Tommy. Terekam jelas dalam memori ingatanku, bagaimana sorot mata Kak Felix yang terus menatapku, sebelum akhirnya Edgar menarik tanganku untuk pergi dari sana.


Dapat kurasakan Edgar menarikku dengan masih sangat terpengaruh emosi, meskipun sudah tak se emosi saat Kak Felix masih di hadapannya. Aku hanya bisa pasrah mengikuti Edgar membawaku, menuju tempat mobilnya terparkir. Mobil langsung melaju segera setelah kita memasuki kursi masing-masing.


Baru lima menit mobil berjalan, Edgar menepikan mobil di depan sebuah minimarket pinggir jalan. Tanpa berkata apa-apa, ia sudah turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket tersebut. Tak sampai 5 menit, Edgar sudah keluar dari minimarket dengan menenteng sebuah kantong plastik.


"Minum dulu Ta biar legaan." Edgar menyerahkan sebotol air mineral dan juga sebungkus tisu baru yang sudah ia buka. Ku ambil beberapa helai tisu, lalu mengelap air mata yang membasahi pipiku, baru kemudian meminum air yang Edgar beri.

__ADS_1


Dan benar kata Edgar, aku merasa sedikit lebih lega. Air yang lekat dengan makna menenangkan, sepertinya benar-benar membuat orang yang meminumnya juga ikut tenang. Edgar hanya diam memperhatikan selama aku minum. Dirinya tak minum apapun, padahal Edgar juga sebenarnya butuh air untuk melegakan emosi, sehabis menghajar Kak Felix.


"Kalau lo masih marah, marah aja Gar. Please jangan di pendam. Gue terima segala marah lo." Ucapku pasrah, karena dapat ku tangkap Edgar mencoba meredam amarahnya, yang jelas jelas masih menumpuk.


"Dari awal gue udah ngingetin lo Ta, tuh orang nggak tulus!! Gue emang gak punya bukti apa- apa, tapi insting gue selalu mengatakan pasti ada niat busuk dibelakang niatan dia ngedeketin lo. Dan terbukti kan, ternyata dia cuman jadiin lo bahan taruhan dengan teman-temannya." Ucapnya menumpahkan segala unek-unek hatinya, sembari menggenggam erat kemudi setir, seolah mencurahkan amarahnya terhadap benda mati yang tak tahu apa-apa itu.


Aku tak bisa menjawab apa-apa, melainkan hanya tetesan air mata, yang kembali bergulir jatuh ke bawah. Ku sadari apa yang Edgar katakan sedari awal, kini nyata adanya. Kak Felix terbukti sesuai yang Edgar tuduhkan.


"BRENGS*K!! Harusnya tadi lo biarin gue, hajar tuh orang sampai hancur!! BRENGS*K!! SET*N!!" Edgar yang masih terbalut emosi memukul kemudi setir mobil beberapa kali, bagaikan ia sedang menghajar wajah Felix Dwinson.


"Maaf ..." Hanya itu yang bisa kuucapkan.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2