Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
87. Terusik


__ADS_3

Author POV


Hari ketiga diadakan ujian matematika dan sejarah. Aturan pelaksanaan seperti biasa, tak ada yang berbeda. Ujian pertama aman terkendali, walau ada satu dua soal yang lupa-lupa ingat, namun masih bisa di logikakan dengan melihat pilihan ganda yang ada. Tapi tidak dengan matematika, kertas coretan Uta sudah penuh, padahal baru sekitar 15 soal.


Gadis itu berjalan ke depan, guna mengambil kertas coretan yang baru. Saat berbalik untuk kembali ke bangkunya, Uta sempat melihat ke arah meja Alber, karena memang laki-laki itu duduk tepat berhadapan dengan meja pengawas. Jadi sudah pasti akan terlihat.


Alber juga melihat ke arahnya, tapi bukan itu yang membuat Uta takjub. Perhatian gadis itu tersita pada lembar kertas coretan Alber yang kosong melompong, tapi lembar jawabannya sudah banyak sekali terisi. Luar biasa memang teman sebangku aslinya itu.


You can do it Uta, kerjain yang bisa aja dulu. Selama tambah kurang kali bagi masih bisa kamu hitung, artinya bumi belum runtuh. *Uta


Waktu melewati pertengahan ujian, Uta istirahat sejenak dengan meregangkan badan, karena sedari tadi menunduk membaca soal. Tatapannya terhenti saat pandangannya bertemu dengan pandangan Alber.


Laki laki itu melihat ke arahnya, dan matanya seolah berbicara 'are you okay? Apa ada soal yang susah?'. Sorot mata yang mencari tau keadaan Uta, tapi disisi lain juga terdapat sorot kepercayaan, bahwa Uta mampu mengerjakan ujian itu dengan baik.


Hal itu jujur membuat Uta sedikit tenang, gadis itu tersenyum tipis ke arah Alber dengan maksud mengirimkan Alber sinyal, 'dont worry, i'm okay, i can do that'. Melihat itu, gantian Alber yang tenang.


Mendekati akhir 90 menit, semakin banyak siswa yang gerasak gerusuk, mencari mata pencaharian jawaban matematika. Seto beberapa kali mencoel Reta, tapi yang dicoel ogah berbalik. Kiri kanan depan belakang sudah Seto jelajahi, bahkan Seto mencontek Uta beberapa soal.


Sementara Uta seperti biasa, ia tak ada keinginan mencontek sama sekali. Setidak taunya pun ia akan tetap jawab jujur, paling paling cap cip cup sebagai pilihan terakhir. 5 menit terakhir, ia sudah menyerah untuk 8 soal yang menurutnya benar-benar susah.

__ADS_1


Bel berbunyi, pertanda lembar jawaban mesti dikumpulkan, selesai maupun tidak. Terdengar suara anak-anak yang frustasi, karena masih belum selesai. Hanya orang-orang jenius yang tetap santai melangkah kedepan.


"Selesai gak selesai, cepat dikumpulkan kedepan. Kalau tidak, Ibu gak terima ujian kalian." Ucap Bu Erna yang tak lain, pengawas kali ini. Anak anak yang masih gerasak-grusuk, langsung lari terbirit-birit karena melihat Bu Erna sudah hendak keluar.


Bahaya kalau beliau sampai di ambang pintu. Dijamin, lembar jawaban berubah fungsi jadi bungkus kacang karena tertolak. Untung saja Uta tak termasuk salah satu dari mereka. Lembar jawabannya sudah duduk cantik dalam map Bu Erna, bertepatan dengan bel tadi.


Usai Bu Erna pergi keluar, semua anak juga berhamburan keluar kelas, untuk menyerbu kantin. Mengerjakkan soal ujian matematika, memang menguras energi. Reta yang duduk di depan bangku Uta, berbalik menghadap Uta.


"Kantin gak?" Tanya Reta ke Uta dengan muka penuh harap.


"Kantin dong, yok my heart." Serobot Seto menjawab pertanyaan untuk Uta.


"Berisik. Gue gak nanya lo yah. Satu lagi, jangan panggil panggil gue my heart!! Gue bukan my heart lo!!!" Ujar Reta kesal, karena dipanggil 'my heart' sama Seto. Uta yang berada diantara mereka, tak bisa menahan tawanya.


"Ta, kantin gak?" Tanya Reta lagi, karena memang Uta belum menjawabnya tadi.


"Gak, pusing gue. Tau kan Re, gue baru menghadapi my enemy. Lagian gue bawa cookies tuh, satu toples." Ujar Uta jujur. Ia tak ingin pergi ke mana mana saat ini.


"Your enemy matematika. Wkwkwkkwkw. Tapi Ta, lo enak udah bawa cookies. Gue gak ada bawa bekal pun ini." Ucap Reta menertawakan keadaan temannya itu. Dari dulu Uta memang begitu, matematika adalah hal yang paling dia tak suka.

__ADS_1


"Tapi ..." Ucap Uta terpotong.


"Tapi apa?" Tanya Reta, penasaran kelanjutan perkataan itu.


"Tapi gue gak bawa minum. hiks .. hiks." Ujar Uta, bicara dengan intonasi dilema dan muka sedikit kesal.


"Ya udah, tunggu sini Ta. Gue beli salad buah dulu sama minum. Lagi kepengen salad nih." Ucap Reta akhirnya, memilih untuk tetap ke kantin sebentar, sekaligus membeli minuman untuk sahabatnya itu.


"Behh emang Reta is the best." Ucap Uta mengacungkan dua jempolnya ke arah Reta.


Selepas Reta pergi, Uta memilih merebahkan kepala di atas meja, untuk sejenak memejamkan mata. Mumpung kelas kosong juga. Ia berniat sekembalinya Reta, baru akan mengeksekusi palm cheese cookies yang ia bawa, bersama sama dengan Reta. Hanya stay di kelas saja, lagian karena semesteran, hari ini pulang lebih cepat, pikirnya.


Keadaan kelas yang kosong, membuat Uta yang sedang merebahkan kepala di atas meja dengan mata tertutup, lumayan mendapat ketenangan. Seolah sisa-sisa perang dengan momok abadinya, perlahan sirna. Namun ketenangan itu terusik oleh sesuatu. Matanya terbuka saat merasakan ada tangan yang membelai kepalanya.


"Alber??"


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2