Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
28. Reward


__ADS_3

Author POV


Ulangan fisika benar-benar dimulai, sesuai jadwal oleh Ibu Tuti. Sebelum ulangan dimulai, Bu Tuti memerintahkan untuk memasukkan segala hal masuk ke dalam tas, terkecuali sebuah pulpen dan tip-ex. Tas itu dikumpulkan ke depan kelas. Beliau juga memerintahkan semua anak mematikan ponsel dan menaruhnya di atas meja guru.


Kemudian Bu Tuti memperhatikan dari belakang setiap laci semua siswa. Memastikan bahwa tidak ada satupun buku yang disimpan di dalam laci, sebagai bahan contekan saat ulangan nanti. Setelah semua dipastikan steril, barulah anak-anak dipersilahkan duduk kursinya masing-masing.


Bu Tuti mengeluarkan sebuah map coklat dari dalam tas beliau. Dikeluarkannya lembaran kertas putih dari dalam map tersebut. Rupanya di dalam map itu berisikan soal-soal ulangan fisika, beserta lembar kertas kosong untuk menghitung, yang akan dibagikan pada seluruh siswa.


Selesai membagikan soal, Bu Tuti mulai jalan berpatroli untuk memastikan, tidak ada satupun transaksi contek menyontek. Hingga sampailah soal itu kepada Uta, rupanya soalnya berbentuk pilihan ganda saja tanpa soal essay.


Gadis itu mulai membaca soal demi soal. tiga soal pertama bisa ia jawab, habis itu soal soal berikutnya, ia bagai sedang terkena hipnotis. Matanya memang menatap soal, tangannya memegang pulpen mencoret-coret kertas coretan, tapi pikirannya kosong entah kemana.


Uta memperhatikan teman-teman sekelas yang lain. Meskipun sebagian besar mereka fokus mengerjakan soal ulangan, tapi tak bisa dipungkiri ada juga beberapa anak yang mungkin sepertinya. Ada yang garuk-garuk kepala, ada yang coret-coret kertas coretan gak jelas, ada yang bengong menatap langit-langit kelas, ada yang putar-putar pulpen malah mainan, bahkan ada yang cap cip cup opsi pilihan ganda dan langsung mencontreng jawaban tanpa menghitungnya.


Diliriknya pula teman sebangkunya yang mengerjakan ulangan dengan sangat tenang. Alber begitu teratur membaca soal. Sesekali ia berpindah ke kertas corat-coret untuk menghitung, baru kemudian memilih opsi jawaban sesuai dengan hasil yang ia dapat.


Rasanya benar-benar mampu membuat Uta iri dengan kejeniusan laki-laki itu. Tapi ia sadar, iri hati tak akan menyelesaikan soal-soal itu. Uta bertekad mencoba menghitung sekali lagi, soal-soal yang membuatnya stress itu.


10 menit sebelum waktu habis, Uta sudah pasrah. Seperti biasa remedial sudah menantinya. Berapa kali pun ia coba menghitung dengan membolak-balik kemungkinan yang terlintas di pikirannya, tetap saja hasil yang ia dapat tak ada dalam opsi jawaban sama sekali.


Di tengah keputusasaan, Alber tiba-tiba mencolek lengannya. Laki-laki itu kemudian menggeser kertas jawabannya ke arah Uta, agar bisa dilihat oleh gadis itu. Uta menoleh menatap Alber, ingin memastikan apa maksud laki-laki di sebelahnya itu.


Dan benar saja, Alber memberikan kode dengan matanya untuk Uta segera menyalin jawaban miliknya. Namun diluar yang Alber sangka, gadis itu menggeleng dengan pasti. Uta menolak menerima bantuan Alber. Ia bahkan menggeser kembali kertas jawaban Alber ke tengah meja laki-laki itu.

__ADS_1


Waktu ujian pun berakhir. Semua kertas ujian anak-anak, dikumpulkan ke depan kelas. Bu Tuti mengacak lembar jawaban, kemudian membagikannya lagi ke siswa, tujuannya agar segera diperiksa silang. Setelah nilai sudah berada pada Bu Tuti, barulah lembar jawaban dikembalikan kepada pemilik masing-masing.


Bel pulang sekolah berbunyi, guru killer itu menutup jam pelajarannya dan keluar dari kelas. Semua siswa berhamburan keluar kelas, mereka ingin segera pulang, melepaskan stress yang baru saja dirasakan karena ulangan fisika.


Edgar bergegas keluar kelas karena ingin berkumpul dengan anak-anak klub basket. Sementara Reta segera pulang karena Papanya sudah menunggu di gerbang sekolah dan harus buru-buru karena beliau mendadak ada meeting.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Uta memasukkan perlengkapan sekolah ke dalam tasnya. Tak lupa dimasukkannya juga selembar kertas hasil ulangan yang tertera nilai 50 di lembar itu.


"Kenapa?" Ucap teman sebangku gadis itu tiba-tiba. Uta yang sedang merapikan tasnya, menatap ke arah suara. Tampak Alber melihatnya dengan sorot mata sedikit kecewa.


"Kenapa lo gak nyalin jawaban gue? Kenapa lo geser balik itu kertas?" Ujar Alber mempertanyakan, kenapa Uta tadi malah menggeser balik lembar jawaban ke mejanya.


"Thank you, tapi gue gak mau, gue pengen apa adanya aja Ber." Jawabnya sekaligus berterima kasih pada Alber dengan tulus. Uta bahkan sempat senyum, meski tetap saja tak memiliki energi untuk happy happy.


"Pengen. Gue pengen banget nyalin jawaban lo, biar gue dapat nilai yang bagus dan gak perlu ikut remedial. Tapi apakah dengan begitu, bisa bikin gue bangga? Kalau nyata-nyata itu bukan hasil usaha gue sendiri??" Perkataan gadis itu membuat Alber terdiam. Ia tak bisa menjawab balik pertanyaan Uta tersebut.


"Setiap orang punya sudut pandang dan kebanggaan masing-masing. Buat orang lain nilai bagus adalah suatu kebanggaan. Buat gue kejujuran adalah suatu kebanggaan. Gue bangga kalau gue bisa jujur. Meskipun nilai gue seada adanya dan mesti ikut remedial, tapi gue bangga ngerjain sendiri dan enggak nyontek siapapun." Lanjut Uta lagi, disaat Alber masih terdiam seribu bahasa.


"Dan please Ber, lain kali lo jangan kasih gue contekan lagi, apalagi pelajaran Bu Tuti. Untung aja lo tadi nggak ketangkap basah pas kasih contekan ke gue. Kalau sampai Bu Tuti tahu, udah pasti lembar jawaban lo dirobek saat itu juga. Bu Tuti orang yang gak segan ngerobek lembar jawaban dan kasih siswa-siswi nilai nol, kalau ketahuan ada transaksi contek menyontek. Lo beruntung Bu Tuti nggak ngeliat lo tadi." Pinta Uta tulus, semata-mata karena gadis itu khawatir, Alber akan bermasalah jika kedapatan memberikan contekan padanya.


Ia tak ingin siapapun mendapat masalah karena dirinya. Jika itu sampai terjadi, sudah pasti Uta sangat sedih. Biar resiko di tanggung masing masing, termasuk dengannya. Lagian dunia tak langsung berakhir, hanya karena tak lulus ujian Fisika.


"Hmm ... Iya juga ya. Gue jadi pengen kasih reward ke lo, karena lo sudah menyelamatkan plus menyadarkan gue. Gue udah mutusin gue bakal jadi tutor fisika lo, dan lo wajib les sama gue. Nggak pakai tapi dan nggak pakai debat. Titik." Alber yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, dengan tiba-tiba ingin memberikan reward kepada Uta.

__ADS_1


"WHAT??? Reward macam apa ini? Alberrrrrrr!!!!" Teriak Uta dalam hati.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2