![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Alber, aku mau jujur tapi kamu jangan marah ya." Ucap Uta dengan intonasi pelan namun serius.
"Jujur apa?" Jawab Alber, benar benar memasang baik baik alat pendengarannya, kalau kalau Uta ingin cerita.
"Di baju kamu, ada ingus aku." Ucap Uta sungguh sungguh, sambil menunjuk baju yang Alber pakai. Alber yang sudah mempersiapkan diri, mendengar hal serius apa yang Uta ingin ceritakan. Mendadak blank seketika mendengar perkataan Uta barusan yang jauh dari cerita serius.
"Mana baju yang kamu pakai merek mahal lagi, gimana dong Ber? Jadi pengen nangis lagi rasanya." Ungkapnya sambil menarik sekali lagi ingusnya dangan tissu, tanpa ragu ragu di depan Alber, laki laki tertampan di Z1. Alber bahkan sampe tersenyum kecil, dia merasa ketampanannya tak terlalu berarti di depan seorang Uta.
"Aku juga mau jujur, kebetulan aku pakai baju KW ini." Ucap Alber dengan mimik muka sangat meyakinkan.
"Masa?? Sungguh?? Gak mungkin!!" Tanya Uta tak percaya. Matanya yang sayu habis menangis bahkan sampai membulat, sangkin mustahilnya ucapan Alber di radar akal sehatnya. Bagaimana ceritanya, seorang Alber memakai barang KW? Rumahnya saja sebesar istana, masa perkara baju, Alber memakai yang KW?
"Ini hadiah dari teman SMP aku dulu, dia bilang ini KW super. Katanya jangan lihat dari harganya, tapi dari niat tulusnya. Ya udah aku pake sampe sekarang." Ucap Alber, benar-benar mengarang bebas.
"Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa!! Ini secret oke!!" Ucap Alber berbisik di telinga Uta, seolah mengirimkan sinyal, bahwa ini adalah fakta yang harus disembunyikan dari orang-orang.
"Okey." Jawab Uta. Kecurigaannya menguap entah ke mana. Melihat Alber bahkan sampai harus berbisik, padahal mereka hanya berdua dimobil, membuat Uta jadi percaya. Mungkin memang benar ini KW, pikirnya. Hal itulah yang membuat Alber tersenyum dalam hati.
_____________ Z _____________
Alber POV
__ADS_1
Aku baru saja sampai di rumah, setelah mengantar gadis dasi pulang dengan aman ke rumahnya. Ku putuskan untuk berenang sesaat meski jam menunjukkan jam 9 malam. Rasanya, dingin dari air kolam renang bisa sedikit mengademkan pikiran dan perasaan yang lagi kalut. Tak butuh waktu lama, tubuhku sudah menyatu dengan air.
Byyurr..
"Hahh ... hahh ..." Aku menarik nafas panjang dan menyeka wajahku dari sisa sisa air kolam renang. Pikiranku kembali melayang pada gadis dasi yang kuantar pulang tadi.
Flashback starts
Aku masih menunggu dua antrian lagi di mini store dekat taman, untuk membayar beberapa barang yang ingin ku beli, khususnya 2 botol minuman kaleng dingin request gadis dasi.
Saat antrian hanya sisa satu di depanku, sebuah bunyi notif pertanda ada pesan masuk ke handphone ku berbunyi. Rupanya dari tante Celine yang mengabarkan, aku bisa mengantar Uta pulang kembali sekarang.
Nampaknya suasana sudah kondusif untuk Uta kembali ke rumah. Segera ku bayar barang belanjaan ku dan berjalan keluar dari mini store, menuju kembali ke mobil. Saat aku masuk ke dalam mobil, kulihat Uta yang duduk tenang menyandar pada kursi sambil mendengarkan musik yang cenderung menenangkan.
"Anytime." Jawabku tulus padanya. Dia kemudian mengambil dua minuman kaleng dingin. Aku refleks menawarkan bantuan untuk membukakan kaleng minuman itu, namun Uta menolak dan malah melakukan sesuatu dengan kaleng kaleng dingin itu.
"Wahh ... Jadi itu fungsinya si kaleng dingin." Ujarku takjub dengan yang ia lakukan. Bagaimana tidak, Uta bukan meminumnya, melainkan menempelkan kaleng kaleng dingin itu ke kedua matanya yang menutup.
"Ini ampuh menyamarkan mata abis nangis." Jawabnya lucu masih menempelkan kaleng kaleng itu. Tapi jujur aku senang mendengar jawabannya barusan. Paling tidak, Uta sudah tak sesedih tadi. Kubiarkan Uta dengan ritualnya itu. Agar Uta lebih rileks sengaja ku nyalakan musik yang membuat tenang, kemudian baru mengambil sebuah roti dari dalam paper bag dan memakannya dalam tiga kali suap. Sekitar lima belas menit barulah Uta menyudahi ritual tersebut.
"Kenapa?" Tanyaku karena ia menyudahi ritualnya.
"Kalengnya udah gak dingin. Lagian, mata kayaknya udah mendingan banget." Jawabnya sembari menjelaskkan alasan menyudahi aksi. Aku mengangguk mengerti akan penjelasannya.
__ADS_1
"Ta, kita pulang sekarang?" Tanyaku pada Uta, tarlebih Tante Celine tadi mengirimkan chat, bahwa Uta sudah bisa ku antar pulang.
"Ya, itu keputusan yang paling baik. Apa Mamahku chat?" Jawabnya langsung.
"Ya tadi. Tapi Ta ... are you oke?" Tanyaku sekali lagi padanya. Aku ingin memastikan bagaimana kondisi perasaannya terlebih dahulu, sebelum mengantarnya pulang.
"Tenang aja, gundahnya udah ilang kebawa air mata tadi. I'm okay now. Tapi Ber boleh aku minta tolong satu hal?" Ku cermati wajahnya sesaat, namun wajah chubby itu, tak menunjukkan kepura-puraan sedikitpun.
"Tolong tentang?" Penasaran apa yang ingin Uta minta.
"Jangan kasi tau Mamah atau siapapun kalo tadi aku nangis. Mamah pasti khawatir." Pintanya sungguh cemas kalau Tante Celine tau kesedihannya. Untuk sesaat aku terdiam dan tidak bisa menjawab permintaannya, bingung bagaimana jika Tante Celine bertanya nanti.
"Janji?" Tanyanya sekali lagi dengan muka penuh harap.
"Janji. Ya udah, aku antar kamu pulang sekarang." Kulajukan si hitam menuju kediaman Uta. Sepanjang perjalanan, sebenarnya masih tersisa rasa cemas kalau kalau kejadian itu terjadi lagi. Tapi semoga saja apa yang Tante Celine bilang, suasana di rumah Uta sudah kondusif.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1