![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Lanjutan Flashback sebelumnya.
"Ha .. ha .. ha .. My baby tumbuh yang subur terus berbuah yang manis. Oke oke my baby. Ha .. ha .. ha..." Menirukan ucapannya disela sela tawaku yang ngakak.
"Lo bener bener ya Ber, iseng banget jadi orang." Ucapnya padaku, membuat otomatis tawaku mereda seketika.
"Sorry sorry, gue nggak maksud ngeledekin kok, cuma tadi itu terlalu lucu. Tadinya gue mau pamit pulang ke lo. Ehh lo nya masih sibuk nyiram tanaman." Aku berusaha menjelaskan sebaik mungkin, agar ia tak marah. Bukannya menjawabku, gadis itu malah pergi.
"Eh jangan marah dong Ta ..." Ucapku dengan hati sedikit panik. Bagaimana kalau gadis dasi marah padaku, karena keisenganku barusan.
"Siapa yang marah. Nih ..." Ia kembali mendekat dan menyerahkan sebuah paper bag, berisi buah strawberry segar yang tertata rapi dalam box plastik bening.
"Maaf tadi bikin lo makan sampe kekenyangan. Gue ngerasa tadi udah keterlaluan. Maaf ya Ber." Diluar dugaan, Uta malah sempat sempatnya meminta maaf karena mengisengiku tadi. Ia mengatakan permintaan maaf itu dengan tulus, yang seketika membuatku merasa bersalah. Padahal kalau mau jujur, hari ini sebenarnya akulah yang terlalu banyak menjahilinya.
"Gue juga minta maaf ya Ta, barusan lo sampe kaget gara gara gue." Ucapku, mengakui perbuatan jahilku padanya.
"Iya gak apa apa Ber. Gue juga salah, nggak denger gara gara asik pakai earphone. Udah sore nih, katanya tadi mau pulang. Buruan sebelum gelap." Ucapnya menatap langit yang mulai diliputi warna oranye. Sunset sudah perlahan datang.
"Iya gue pamit pulang dulu Ta, makasih buat hari ini. Makasih juga strawberry nya." Jawabku dibalas anggukan kecil oleh gadis dasi.
"Tante, Alber pamit pulang dulu Tante. Makasih makanannya Tan, semuanya enak banget. Best banget lah pokoknya." Kusalim tangan perempuan berhati hangat itu.
"Iya hati hati. Sering sering main ke sini Ber, entar Tante masakin makanan yang lebih enak." Ucapnya lembut dengan aura keibuannya yang terpancar. Tak lupa senyum ramah, selalu tak pernah pudar dari wajah cantiknya.
"Beneran ya Tante, entar Alber bakal sering main kesini." Ujarku menanggapi ucapan tante Celine sungguh-sungguh.
"Iya beneran dong, masa Tante bohong." Balas beliau lagi. Tak tampak ekspresi keberatan di wajah beliau mengenai ucapanku barusan.
"Ber buruan balik Ber, entar keburu magrib." Obrolanku dipotong oleh perkataan Uta yang mengingatkan hari hampir magrib.
__ADS_1
"Mah Uta anterin Alber sampe ke mobil ya Mah" Izinnya pada Mamahnya, ingin mengantarku ke si hitam yang terparkir di seberang rumahnya. Tanpa ku sangka gadis itu menarik lengan seragamku. Dia membawa ku berjalan ke arah mobil di seberang rumahnya. Ku ikuti kemauan gadis dasi tanpa ada niat melakukan pemberontakan sedikitpun.
"Ber lo tau kan nyokap gue barusan cuma basa basi. Lo gak mesti main kerumah gue lagi." Ucapnya pelan, saat kami sudah tepat di samping si hitam. Gadis itu nampaknya berusaha agar aku tak salah salah tentang basa-basi kali ini.
"Tau gue." Jawabku cepat.
"Nah cerdas, kali ini lo udah paham." Ujarnya memujiku, karena aku mengatakan aku tahu. Wajahnya pun tampak lega. Tak tampak lagi kekhawatiran seperti ekspresinya tadi.
"Tapi ..." Ucapku sedikit menggantung.
"Tapi. Tapi apaan???" Wajah yang lega itu seketika mode waspada.
"Tapi gue udah terlanjur janji buat sering main kesini. Gue takut dosa ngebohongin orang tua. Mau enggak mau, gue harus tepatin janji buat sering main ke rumah lo. Oke!!!" Urai ku pada gadis dasi, yang mana jelas bertentangan dengan kata-kataku yang pertama tadi.
"ALBERRRRRR!!!!!" Teriaknya tertahan benar benar kesal padaku.
Flashback ends
Untuk sekarang tentu tidak bisa, perutku bisa-bisa meledak kekenyangan, kalo dipaksakan. Biarlah tongseng kambing, mi goreng seafood dan brownies yang beradu di dalam sana. Strawberry segar ini menyusul besok saja.
"Baik Tuan, ada yang bisa dibantu lagi tuan?" Tanya Bi Darmi sambil menerima kotak strawberry itu.
"Udah Bi, itu aja. Terima kasih, saya ke atas dulu Bi." Ku langkahkan kakiku ke lantai atas. Rasanya hanya ingin cepat mandi, karena badan sudah gerah seharian beraktifitas di luar.
"Kok pulangnya sore Ber?" Tanya Annem padaku.
"Iya An, tadi Alber kerja kelompok. Jadi pulangnya lambat." Ucapku mencium tangan Annem.
"Ya udah kalau gitu, kamu udah makan belum Ber? Kalau belum makan dulu sana." Ucap Annem lagi.
"Sudah An, kenyang banget malah. Alber mau ke kamar dulu, mau mandi. Gerah." Kucium pipi wanita yang bertaruh nyawa saat melahirkanku itu. Beliau seperti biasa, hanya geleng geleng melihat kelakuan putra satu-satunya ini.
__ADS_1
Annem adalah panggilanku untuk Ibu kandungku, sementara Ayahku kupanggil dengan sebutan Babam. Sebenarnya panggilan untuk orang tua dalam bahasa Turki ada dua. Panggilan untuk Ibu adalah Anne, sementara Ayah akan dipanggil Baba. Berbeda sedikit dengan panggilanku pada kedua orang tuaku. Meski jika didengar sebenarnya hampir sama. Ada cerita kenapa hal itu bisa terjadi.
Aku anak bungsu yang memiliki seorang kakak perempuan. Aku biasanya memanggilnya Abla, yang dalam bahasa Turki, Abla berarti kakak perempuan. Saat Abla kecil dan baru awal awal belajar bicara, kedua orang tuaku sangat antusias mengajarkan Abla untuk memanggil mereka dengan sebutan Anne dan Baba. Dengan sabarnya berkali kali beliau mengajari Abla, setiap kali Abla ingin bicara.
Awalnya, Abla hanya menyebut kata kata secara acak, entah apa artinya. Namun karena pengulangan kata Anne Baba setiap hari, pelan pelan Abla mulai mengucap ke arah yang orang tuaku maksud. Hanya saja saat Abla sudah bisa menyebutkan kata Anne Baba, ia selalu saja kelebihan huruf 'm'. Abla selalu saja menyebut Anne menjadi Annem dan menyebut Baba dengan Babam.
Awalnya orang tuaku membiarkan saja Abla memanggil mereka seperti itu. Nanti kalau sudah lebih lancar barulah pelan pelan dibimbing penyebutan yang benar, pikir mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, abla sudah terbiasa memanggil orang tua kami Annem dan Babam. Di sisi lain, Annem dan Babam juga sudah terbiasa mendengar suara imut Abla memanggil mereka, dengan sebutan yang berbeda dari panggilan khas Turki pada umumnya itu
Akhirnya, mereka tak lagi berniat mengubah panggilan tersebut. Biar saja anak anaknya kelak, memanggil mereka dengan panggilan khas Turki dengan sedikit lebih unik. Dan jadilah saat ini, akupun terbiasa memanggil ibu dan ayahku dengan sebutan Annem dan Babam. Kadang kalau dipikir, lucu juga cerita dibalik terciptanya panggilan itu. Tapi disisi lain, panggilan itu terasa unik, karena punya sedikit perbedaan dengan yang biasanya orang orang Turki gunakan.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND