Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
108. Minta Tolong


__ADS_3

Alber POV


Aku baru selesai mandi, membersihkan diri dari badan yang terasa lengket, efek seharian jalan keluar. Setelah merasa segar, aku memilih bersiap untuk tidur. Ku baringkan badanku di atas tempat tidur, sembari ku tatap langit-langit kamarku yang cahayanya sudah redup.


Lampu kamarku memang sudah ku padamkan, aku hanya menghidupkan sebuah lampu tidur yang minim cahaya. Sekilas kulihat 2 toples cookies, yang ku letakkan di meja kecil samping tempat tidur. Cookies yang memperbaiki mood jelekku dua hari ini.


Ku kirimkan pesan terima kasih, atas kado spesial ini pada gadis dasi. Ia membalas dengan sebuah emoticon senyum. Senyum yang otomatis menular ke padaku. Magic.


Teringat kembali pesan di sticky notes yang Uta tulis untukku. Jujur timbul perasaan bersalah, karena telah bersikap cuek kepadanya. Semua itu bukan sesuatu yang ingin ku sengaja, melainkan sesuatu yang tak bisa ku kontrol timbul karena terpengaruh gejolak perasaan.


Flashback starts


Hari ini agenda Z1 perayaan wisuda kelas 3. Acara wisuda itu baru akan dimulai sekitar pukul sebelas siang, karena pukul delapan baru akan dilakukan geladi bersih, untuk siswa yang akan diwisuda. Tepat sekali, sebab Babam memerintahkan ku untuk terlebih dahulu, menghadiri meeting pagi di perusahaan. Aku dikirim Babam untuk melakukan pembahasan proyek lanjutan.


Untuk itu, pagi ini aku sudah rapi dalam balutan jas formal. Pembahasan meeting berjalan lancar, namun rupanya memakan waktu lebih lama dari yang ku prediksikan. Untungnya, waktu baru menunjukkan pukul 10:15, masih ada waktu untuk tiba tepat waktu di gedung serbaguna Z1.


Kulajukan si hitam menuju ke salah satu pom bensin, nampaknya si hitam mulai haus dan harus segera diberi minum dengan jenis Pertamax Turbo. Setelah si hitam full terisi, kutepikan sesaat si hitam, untuk menuju toilet di pom bensin.


Kuganti setelan jas formal yang ku kenakan, dengan baju seragam batik Z1. Hal itu kulakukan sebab, siswa kalas 1 dan 2, menghadiri wisuda diwajibkan menggunakan seragam batik, sementara wisudawan laki-laki lah yang menggunakannya setelan jas formal.


Mau tak mau, aku harus menggantinya di pom bensin saja. Aku menghindari memakai seragam sekolah di area perusahaan Babam, untuk menjaga wibawa. Selain itu aku tak mau dianggap anak ingusan oleh para karyawan disana, mengingat aku sudah dilibatkan oleh Babam menangani beberapa proyek.

__ADS_1


Orang-orang di perusahaan, sudah tak lagi memandang sebelah mata hanya karena usiaku masih sangat muda. Mereka sudah mengakui bahwa aku punya kualitas, untuk menangani proyek-proyek yang Babam percayakan. Maka tak lucu, jika aku berseliweran memakai seragam Z1 di sana.


Dan sebaliknya, aku tak mau datang ke acara wisuda dengan masih memakai setelan jas formal. Aku tak ingin orang-orang mengira aku salah kostum, jika menggantinya di area Z1. Maka mengganti di toilet pombensin adalah opsi paling tepat.


Setelah berganti kostum, aku melanjutkan perjalanan menuju tempat acara. Ku parkirkan si hitam di parkiran yang sudah sangat ramai orang-orang di sana. Mataku mencari keberadaan seseorang yang menjadi alasan, aku bersemangat menghadiri wisuda ini.


"Kapan datang? Aku cariin kamu dari tadi." Sapa ku pada Uta yang sedang bersama Reta. Ya, dialah alasanku datang menghadiri wisuda.


Hari ini Uta diliburkan Annem karena acara tahunan sekolah, yang aku sebenarnya malas hadir meski diwajibkan hadir, dengan ancaman nanti diabsen. Tapi karena Uta tak datang ke rumah dan pasti menghadiri wisuda, membuatku akhirnya memilih menghadiri acara itu.


Dengan lucunya dia memberikan kode diam padaku. Sesaat setelahnya Reta meninggalkan kami, karena ingin ke toilet. Di luar prediksiku Uta menarik lenganku, agar kami menepi dari kerumunan. Disitulah ia menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi. Rupanya kisah cinta rumit Edgar, Elma dan Reta. Kasus berat yang ruwet, wajar gadis dasi sampai pusing.


Dia dilema karena harus netral diantara dua sahabatnya, Reta dan Edgar. Satu sisi aku kasian padanya, tapi di sisi lain dia terlihat lucu saat bingung begini. Uta kemudian memilih pergi menyusul Reta, membuatku memutuskan langsung masuk ke ruangan acara wisuda.


Saat baru memasuki ruangan serbaguna, tampak tempat itu sudah di sulap dengan begitu indah. Pas untuk acara penting seperti saat ini. Tempat duduk sudah disusun sedemikian rupa, dan dibagi menjadi 4 kategori berdasarkan letak.


Kepala sekolah dan staf guru berada paling depan, disusul orang tua siswa kelas 3. Tepat dibelakangnya adalah tempat duduk calon wisudawan. Terakhir barulah spot untuk siswa kelas 1 dan 2.


Tampak setengah ruangan sudah terisi. masing-masing memilih bebas, kursi mana yang ingin diduduki. Aku juga mengamankan beberapa tempat duduk, setidaknya untuk aku, Uta dan Reta. Tak lama suara yang beberapa waktu ini sering berinteraksi denganku terdengar.


"Ber!" Seto dengan suara kerasnya memanggilku, tak peduli orang-orang jadi melihat ke arahnya. Mereka berjalan mendekat ke arahku.

__ADS_1


"Eh Set, San. Gabung bro." Kuajak mereka bergabung, kebetulan ada 2 kursi lebih dan belum ada yang punya.


"Pas bener." Ujar Seto menepuk bahuku. Ia dan Sandi, kemudian duduk mengisi dua bangku kosong tak bertuan. Tak lama seseorang menghampiri kami.


"Alber." Bu Melati, guru kesenian rupanya yang memanggilku.


"Iya Bu." Jawabku, bangkit dari kursi karena beliau tak duduk.


"Eh ada Bu Melati cantik, yang selalu indah mewangi." Kata Seto khas seperti biasa.


"Kebiasaan kamu Set, gombal mode template. Alber, bisa Ibu minta tolong!!" Ucapnya protes ke Seto, disusul beliau bertanya kembali padaku. Sementara Seto sudah senyam-senyum cengengesan gak jelas.


"Apa yang bisa saya bantu?" Jawabku akhirnya.


"Pianis pengiring musik wisuda tadi pingsan di depan, terus sama staf kantor dibawa ke RS. Karena kejadiannya dadakan, Ibu bingung cari penggantinya. Makanya, Ibu minta tolong kamu yang gantiin hari ini, jadi pianis dadakan." Terucaplah tujuan yang beliau inginkan.


Bersambung .............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2