![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Adegan sandiwara marah ini belum berakhir. Tak lama, makanan yang Uta inginkan datang. Ia tadi ingin makan pecel, hanya saja tadi masih lumayan banyak antriannya. Jadilah soto ayam pesenanku dan bakso milik bocil yang datang terlebih dahulu.
Ku putuskan untuk pergi ke toilet sebentar agar Uta lebih leluasa makan, tanpa ada perasaan bersalah. Saat ingin kembali dari toilet, sebuah chat dari Abla tampil di layar handphoneku. Ku arahkan jari ini ke layar handphone untuk membuka pesan tersebut.
[Kapan pulang? Si Ayleen dari tadi nungguin kamu nih. Hampir karatan dia nungguin kamu pulang.] *Syiba
Tepat dibawah chat Abla, terdapat chat Ayleen yang membombardir ku dengan banyak pertanyaan. Intinya sama, dirinya memberi tahu sedang ada dirumah dan menanyakan kapan aku kembali.
Rupanya Ayleen datang ke rumah, selisih 10 menit pasca kami berangkat ke Ragunan Zoo. Ia kemudian memutuskan menunggu sampai saat ini. Untuk apa dia pakai menunggu segala? Suka-suka aku mau pulang kapan. Chat yang tak terlalu penting ternyata. Justru dengan tau begini, aku semakin tak ingin cepat pulang.
Aku kembali ke tempat duduk kami. Uta sudah memakan pecel itu setengah dari porsinya. Sementara bocil kini asik makan kerupuk milik Uta. Kucium pipi geyol si jealous tadi. Kali ini ia tak terpengaruh, apa lagi kesal. Kerupuk mengalihkan dunianya.
Aku kembali duduk di kursiku semula. Kutatap gadis dasi yang sedang asyik mengunyah pecel pesanannya. Meski perutku sudah kenyang oleh seporsi soto ayam, tapi saat melihat Uta makan, entah kenapa itu terlihat teramat lezat. Liurku bahkan hampir menetes jika tak kutahan.
__ADS_1
"Mau?" Tanyanya yang ternyata melihat wajah inginku. Kuputuskan membuka mulut, persis seperti tadi agar ia menyuapiku. Tanpa protes, Uta menyuapkan sesendok pecel miliknya. Kukunyah makanan yang membuatku ngiler beberapa detik yang lalu. Namun ...
"Ahhh .... Sesssttttt ..." Racauku tak jelas.
"Kenapa?" Tanya Uta padaku. Ia menghentikan makan dan meletakkan sendoknya.
"Pedes Ta. Sesssttttt ... Ahhh ...." Pecel tersebut rasanya membakar lidahku sangking pedasnya. Aku yang memang tak terlalu kuat pedas, bahkan sampai merasa terbakar hingga di area wajah.
"Minum minum Ber. Aduh sorry sorry. Aku lupa bilang kalo ini pedes banget." Ujarnya langsung menyerahkan es teh manis, agar pedas ini menghilang. Langsung kuteguk minuman manis itu agar lidahku kembali aman.
"Ehm ... lima belas Ber." Jawabnya lempeng.
"What?? Lima belas? Gak kebanyakan Ta? Kamu gak takut sakit perut?" Ocehku beruntun. Baru kali ini aku tau ada orang makan satu porsi dengan cabe sebanyak itu.
"Aman Ber. Lagian cabenya kecil-kecil. Jadi ini gak terlalu pedes kok." Jawabnya enteng tanpa ada ekspresi kepedesan. Luar biasa. Aku sampai terdiam olehnya.
__ADS_1
"Wkwkwk ... Yabel be caleful you know." Ucap Putri di sela-sela mengunyah kerupuk. Benar-benar wujud sepupu yang saling menyayangi. Wonderful.
"Duh Ta, keringatan aku jadinya." Akibat si pecel pedas, bulir keringat sudah langsung datang melanda. Uta tersenyum sesaat kemudian mengambil tissu yang memang disediakan disana, kemudian dengan baiknya ia mengelap bulir keringat di wajahku, tanpa ada rasa jijik sedikit pun. Hatiku jadi leleh karenanya. Rasanya tak apa lidah terbakar, kalau pada akhirnya diperlakukan semanis ini.
Ia bahkan mengipasi wajahku menggunakan kertas menu kantin yang ada di pinggir meja. Hal itu ia lakukan, agar rasa terbakar itu berkurang dan keringat ini lenyap total. Aku jadi tak tega padanya.
"Gimana? Udah mendingan kan?" Tanyanya memastikan. Kujawab langsung dengan anggukan. Ku ambil alih kertas menu tersebut, kemudian lanjut mengipasi diriku sendiri.
"Lanjutin makannya Ta. Makasi kipasnya." Ucapku padanya. Gadis dasi akhirnya lanjut memakan santapannya.
Bersambung ..............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
__ADS_1
ZEROIND