Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
91. Jackpot


__ADS_3

Author POV


Mamah Celine super senang, mendengar hasil rapor Uta semalam. Tama juga menyelamati kakaknya itu. Mamah Celine sebenarnya tak pernah mempermasalahkan rangking yang Uta raih. Beliau lebih mengutamakan niat dan usaha anak-anaknya dalam menimba ilmu.


Menurut beliau sistem pendidikan semua sama, sementara kemampuan anak beda-beda. Ada yang kuat rumus dan hitungan, tapi lemah di teori. Ada yang kuat di teori, tapi lemah di hitungan. Ada yang lemah di teori dan hitungan, tapi bersinar di bidang olahraga. Ada juga yang cuman bisa di bidang seni. Dan masih banyak lagi tipe-tipe anak.


Intinya, tak ada anak yang bodoh, hanya saja memang sistem pendidikan yang ada, masih belum menjurus sesuai talenta si anak. Kejuruan yang sfesifik baru ada di tingkat SMK dan universitas. Itulah sebabnya, Mamah Celine tak pernah menuntut Uta dan Tama harus jadi yang terbaik. Anaknya semangat sekolah dan selalu berusaha, udah lebih dari cukup.


Uta saat ini menemani Putri, memberi makan si Lele dari lubang-lubang kandang di taman belakang. Si lele tidak dikeluarkan dari kandang, karena Uta takut. Sesayang-sayangnya Putri ke Lele, tetap ia lebih sayang sama Tutanya. Jujur, ada sesuatu yang Uta sedang pikirkan sejak kemarin. Ia ingin melakukan sesuatu tapi masih bingung.


"Hayoo ngapain bengong?" Kaget seseorang menepuk pundak Uta.


"Annem. Uta gak ngelamun An, cuman lagi mikir sesuatu aja." Ujar Uta sedikit salting karena kaget. Rupanya Annem lah yang menepuk pundaknya dari belakang. Beliau kemudian duduk di kursi, tepat di depan Uta.


Tak lama salah seorang staff dapur datang mengantar cemilan, berupa beberapa slice cake, cemilan unik, susu dan coffee.


"Jam segini tuh enaknya nyemil. Sekalian Annem lagi pengen ngopi dikit. Mumpung Babam sama Alber lagi cek proyek. Kalo ada mereka, udah pasti Annem di ceramahi masalah perkopian." Ujar beliau.


"Uta pernah lihat makanan ini?" Tanya Annem, menunjuk cemilan unik.


"Belum deh An, seinget Uta ini pertama kalinya." Jawab Uta jujur.


"Ini salah satu makanan khas dari Turki. Namanya baklava. Baklava ini terbuat dari lapisan adonan yufka, yang ditumpuk hingga beberapa-lapis. Di antara setiap lapisannya, ditaburi kacang bubuk sebagai isian. Mayoritas kacang yang dipakai dalam baklava, adalah pistachio dan hazelnut.


Sebelum dipanggang, baklava akan dipotong sesuai dengan keinginan. Lalu setelah keluar dari panggangan, baklava akan disiram dengan sirup yang bisa saja terdiri dari campuran madu, air mawar dan air bunga jeruk, hingga membanjiri bagian bawah baklava. Untuk mempercantik penampilannya, baklava akan ditaburi dengan kacang bubuk lagi, sebelum disajikan ke pelanggan.

__ADS_1


"Mikirin apasih? Coba cerita, Annem dengerin sambil ngopi." Tanya Annem peka.


"Bukan apa apa sih An, Uta cuman lagi bingung bagusnya kasih sesuatu apa ke Alber." Cerita Uta pada Annem.


"Emang kenapa Uta mau kasih hadiah segala? Emangnya Alber ngapain." Gali beliau lebih dalam.


"Untuk pertama kalinya, Uta masuk 5 besar An, gara-garanya Alber sering mentorin Uta. Alber ngajarin Uta matematika, fisika, kimia An. Pokoknya yang hitung-menghitung. Uta sulit ngerti yang berbau eksak soalnya." Cerita Uta.


"Kok bisa Uta diajarin sama Alber? Gimana ceritanya?" Kepo beliau.


"Uta gak minta An, Alber sendiri yang nawarin. Awalnya Uta pikir Alber cuman pengen ngisengin Uta aja. Uta gak jago rumus dan hitung-menghitung, jadi lucu kalo di isengin, eh ternyata bener-bener diajarin. Padahal Uta awal-awal gak ngerti-ngerti, terus selalu nyerah tiap kali buntu, tapi Alber masih sabar nyari analogi lain, dan ngulang penjelasan berkali-kali sampe Uta ngeh. Uta jadi pengen kasih sesuatu, sebagai rasa terima kasih. Tapi kira-kira kasih apa ya An?" Curhat Uta panjang lebar, ke Ibunda dari sang mentor.


"Cookies. Kasih cookies buatan kamu kemarin itu." Beliau tersenyum, lalu menjawab Annem dengan yakin. Jawaban yang Uta tak expect sama sekali.


"Cookies? Tapi kan udah pernah dulu An." Jawab Uta, mencoba mengingatkan Annem sekiranya beliau lupa.


Uta lalu mencoba mengingat tingkah dan perilaku Alber. Memang betul kata Annem, sejauh ini tak pernah sekalipun Uta mendengar Alber mengeluh perihal makanan. Catering Mamah Celine selalu dia makan dengan lahap, tanpa pernah komplain. Makanan di kantin atau yang dibeli pun, gak pernah di komplain sama Alber. Berarti ada kemungkinan, saran yang Annem berikan akan berhasil.


"Annem makasih sarannya. 1000 persen akurat ini mah." Ucap Uta tersenyum lebar. Kegundahan yang mengganggu pikirannya, sudah menemukan solusi. Solusi dari Annem pula, apa gak jackpot ini namanya.


"Ha .. ha .. ha .. Annem gitu loh." Tawa Uta menular ke Annem. Beliau rupanya ikut senang, bisa memberikan solusi untuk Uta.


"Ya ampun bener-bener itu anak, si Lele aja dari tadi yang diurus. Halanya di cuekin mulu semenjak Lele datang. Rasanya pengen Annem balikin Lele ke tokonya." Omel Annem melihat Putri, asik aja dengan si Lele.


"Ha .. ha .. ha .. Sabar An. Keliatannya aja dia nempel sama si Lele. Tapi di hati mah, Hala tetap nomor 1." Uta terlebih dulu tertawa, kemudian menghibur Annem, yang lagi cemburu dengan si Lele.

__ADS_1


"Harus itu, kalo sampe si Lele nomor 1, Annem jual online si Lele." Ucap beliau, sudah punya tekad penjualan berencana si Lele, di online shop karena cemburu.


"Wkwkwkwkwkwkk." Uta tak bisa lagi menyembunyikan tawa ngakaknya.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2