Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
39. Resmi Berpacaran


__ADS_3

Lanjutan Flashback


Felix POV


Setelah ku cari tahu, akhirnya aku mengetahui jawabannya. Rupanya gadis itu merasa minder jika kami dekat di sekolah. Ia merasa tak percaya diri dan khawatir sekali, bagaimana anggapan orang jika tau kedekatan kami. Sedari awal aku tahu, Uta termasuk gadis insecure. Karena rasa insecure itu jugalah, ia sangat tertutup dan tak mudah di dekati. Kenapa poin itu tak terpikir olehku??


Memang tak di pungkiri, kemana pun aku pergi, siswi perempuan selalu menaruh perhatian lebih padaku. Tak peduli apakah itu di area kelasku, di kantin, lapangan basket atau di area parkiran sekalipun. Mereka selalu saja menatapku hingga ke detail sekecil apapun. Jadi sedikit banyak, aku bisa mengerti apa yang Uta khawatirkan.


Tapi aku mencoba meyakinkan dirinya, bahwa tidak perlu peduli anggapan orang. Apapun yang orang lakukan, mau baik ataupun buruk, orang akan selalu kepo dan ingin ikut campur. Nampaknya perkataanku pelan-pelan masuk ke dalam pikirannya. Ia mulai sedikit demi sedikit mengubah mindsetnya untuk tak lagi merisaukan hal itu.


Pelan tapi pasti, Uta mulai membuka diri kepadaku jika di sekolah. Dari situlah aku mengatur strategi baru untuk meluluhkan hatinya. Mulai dari kita berangkat dan pulang bareng ke sekolah. Menghabiskan waktu istirahat bersama. Sampai dengan menemaniku latihan basket.


Tak jarang aku juga memintanya untuk menonton pertandinganku dan duduk di bangku terdepan, bersama teman-temanku untuk mensupport ku. Beberapa kali aku juga mengundangnya saat aku dan anak-anak, sedang mengadakan acara atau sekedar nongkrong biasa.


Akhirnya kami resmi berpacaran, setelah total 3 bulan aku menjalankan misi PDKT. Di luar ekspektasi memang, kupikir mendekatinya cukup waktu 1 sampai 2 minggu. Kenyataannya, aku butuh waktu 3 bulan untuk dapat menaklukkannya sebagai kekasih.


Tapi apapun itu, setengah dari misiku sudah berhasil. Uta sudah resmi menjadi pacarku. Kini aku tinggal harus menjaga hubungan ini untuk 1 bulan ke depan atau sampai dengan Devina memintaku mengakhiri hubungan ini. Apapun itu, intinya Uta yang menjadi tiketku untuk mendapatkan Devina, telah ku kantongi.


Tak terasa sudah hampir satu setengah bulan kami berpacaran. Jujur aku selalu merasa nyaman dengan Uta. Perhatian dan kelucuannya mengisi hari-hariku. Gadis itu sangat pengertian, tidak pernah ribet apalagi merepotkanku. Kepribadiannya juga sangat sederhana, simple dan apa adanya.

__ADS_1


Dia tak pernah memandangku berdasarkan tampang, kepopuleran, maupun harta yang kupunya. Aku selalu bisa merasakan ketulusan jika berada di dekatnya. Semakin aku mengenalnya, semakin aku terpesona dengan semua yang ada pada dirinya. Tanpa kusadari, perlahan sandiwara berubah menjadi realita.


Beberapa kali anak-anak bertanya padaku, kapan aku akan mengakhiri hubungan ini, mengingat aku telah berhasil sesuai misi yang ditentukan, yaitu satu bulan berpacaran dengan Uta. Aku berusaha mengelak dengan mengatakan, masih mencari alasan yang pas untuk putus dengannya dan sampai saat ini alasan itu belum kutemukan.


Tak sampai disitu, Devina yang sebelum-sebelumnya bersikap seolah acuh tak acuh, beberapa waktu lalu juga mengatakan kepadaku, bahwa aku sudah bisa mengakhiri hubunganku dan Uta, karena ia menganggap misiku sudah berhasil. Ia merasa tak perlu memperpanjang misi ini lebih lama lagi.


Ia telah mengakui pembuktianku sungguh-sungguh, dengan berhasilnya aku menjalani misi yang diberikan. Dia juga mengatakan bahwa, kita berdua bisa menjalani proses pendekatan sebelum akhirnya nanti berpacaran.


Kuberikan alasan yang sama kepada Devina persis seperti alasan yang ku berikan kepada anak-anak sebelumnya, bahwa aku masih dalam proses untuk memutuskan Uta. Aku memintanya memberikanku sedikit waktu untuk mengakhiri ini dengan baik. Meski terlihat tak suka, Devina masih mengiyakan permintaanku.


Tak ada orang yang tahu, aku mengalami kegamangan yang luar biasa. Di satu sisi aku tak ingin putus dengan Uta. Tapi jika ingin hubungan ini berlanjut, maka jujur adalah opsi wajib, sebab tak mungkin menjalankan hubungan diatas kebohongan terus-menerus.


Kemungkinan untuk ia meminta putus bahkan jauh lebih besar. Aargghh... entahlah!! Apa yang harus kulakukan? Pergolakan hati dari hari ke hari kian kuat, seiring dengan rasa takut yang kian hari kian membesar.


Dan mimpi buruk itu datang. Saat itu aku berkumpul dengan teman-temanku di ruang OSIS. Seperti biasa, Ken yang sibuk meminta kita berkumpul di sana saja, sebab biasanya ruangan OSIS tak ramai jika hari Jumat, dikarenakan besok Z1 sudah libur.


Sejujurnya, aku sudah bertekad ingin bicara agar penyelesaian taruhan bisa ditunda atau kalau bisa, dibatalkan saja. Jadi aku tak perlu putus dengan Uta. Saat aku masih berbicara tentang niatku itu, tiba-tiba Edgar masuk menerjang dan mengajarku habis-habisan. Edgar menghajarku sangat berapi api, bagaikan seekor macan yang sedang mengkoyak koyak mangsanya.


Belum habis kekagetanku akan terjangan Edgar, mataku berpapasan dengan gadis yang belakangan ini mengisi hari-hariku. Derasnya air mata yang mengalir, ditambah kekecewaan yang terpancar jelas dari sorot matanya, sudah menjelaskan bahwa gadis itu sudah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Mukaku penuh lebam karena pukulan membabi buta Edgar. Wajah yang jadi kebanggaanku babak belur tak karuan. Tapi rasa sakit ini, tak sebanding saat aku melihat gadis itu terluka.


Sekujur tubuhku rasanya mati rasa, saat melihat buliran bening yang membasahi kedua pipinya. Bahkan saat begini pun, dia masih berusaha menyelamatkanku dari amukan sahabatnya, membuat hatiku rasanya tertusuk busur panah.


Aku hendak menjelaskan tentang kesalahpahaman itu, namun gadis itu menolak mendengar penjelasan apapun dariku. Tidak, lebih tepatnya ia tak ingin lagi bicara denganku. Satu hal yang tak pernah kubayangkan. Hal yang belakangan ini sangat kutakutkan terjadi. Mimpi buruk itu datang, disaat aku belum siap.


Melihatnya pergi dengan Edgar, membuat hatiku rasanya dihantam palu gada. Aku tak rela Edgar membawanya pergi, tapi apa daya, aku tak dapat berlaku apa-apa, terlebih bila sampai nekat menahannya tetap disini.


Aku sadar betul bahwa akulah yang bersalah padanya. Akulah yang sudah membuatnya menangis. Aku menyakitinya teramat sangat dalam. Gadis itu hanya korban dari keegoisan dan keserakahanku.


Saat aku ingin mengejarnya, teman-temanku menahanku dan membawaku ke rumah sakit. Kondisiku yang memang sudah babak belur, membuatku sempat kehilangan kesadaran. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi di perjalanan menuju rumah sakit. Yang ku tahu aku tersadar di atas bed rumah sakit, dengan jarum infus di tangan kananku.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2