![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
30 menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan badan lebih segar. Kupilih memakai baju rumahan yang simpel dan nyaman dipakai tidur. Aku memutuskan tak turun ke bawah untuk makan malam, sebab perutku masih sangat amat kenyang.
Ku baringkan diriku diatas kasur yang entah kenapa, hari ini terlihat sangat empuk. Kuluruskan tulang belakang, yang seharian sudah beraktivitas dengan maksimal. Sambil menatap langit-langit kamar, pikiranku melayang tentang apa saja yang terjadi hari ini.
Mulai dari menyabotase Uta dari abang ojol, pergi ke toko cetak mug, makan tongseng di warung pinggir jalan, sampai dengan mampir ke rumah Uta dan berakhir pulang dengan perut kekenyangan.
Jujur, awalnya aku hanya ingin mengantar Uta sampai kedepan rumah, tak ada niat sama sekali untuk mampir ke rumahnya. Keisenganku tiba-tiba muncul, saat mendengar ia bilang padaku, untuk kapan-kapan mampir ke rumahnya. Meskipun aku tahu itu hanya basa-basi, sekedar ramah tamah karena sudah mengantarnya ke rumah. Entah keberanian yang datang dari arah mana, tiba-tiba aku sudah turun dari mobil dan menyapa ibunya.
Tapi kalau dipikir-pikir, keisenganku malah berbuah manis. Aku bisa mengenal Uta dan keluarganya, yang ternyata sangat ramah dan menyenangkan. Di sisi lain, hubunganku dan Uta perlahan mencair dan menjadi lebih akrab. Bahkan kita hari ini lumayan banyak ngobrol dan saling menjahili satu sama lain. Satu sisi yang tak pernah kupikir ada dalam dirinya.
Tapi anehnya, mengetahui sisi lain darinya memunculkan pertanyaan dalam relung hatiku tentang Uta. Apa yang membuat gadis menyenangkan itu menjadi sosok yang sangat menutup diri. Kejadian apa yang terjadi padanya, hingga pribadi yang hangat itu ia tutup rapat rapat, sehingga tak banyak orang yang tahu.
Sekiranya memang benar terjadi sesuatu, siapa?? Siapa orang yang menyisakan luka hingga gadis itu tanpa sadar, membangun benteng kokoh agar orang lain tidak bisa mendekat padanya? Pertanyaan pertanyaan yang terus berputar putar di kepalaku, perlahan membawaku masuk ke alam mimpi.
..._____________ Z _____________...
Author POV
Keesokan harinya, rutinitas kembali seperti biasa. Uta, Alber dan siswa lainnya berkutat dalam pelajaran kurang lebih 4 jam. Saat bel berbunyi yang menandakan istirahat, sontak membuat seluruh siswa yang sudah mumet belajar selama 4 jam, berhamburan menerjang kantin kantin Z1. Dari kursinya, Uta melihat Edgar juga salah satu dari siswa yang secepat kilat keluar dari kelas. Uta juga melihat, seseorang juga secepat kilat mengikuti langkah Edgar, siapa lagi kalau bukan the one and only, Reta Natadipura. Uta menghela nafasnya, sebab menyadari hari ini tak ada teman makan untuk santap bekal yang ia bawa.
"Lo Mau kemana Ta? Kantin??" Tanya Alber ketika melihat teman sebangkunya itu, bangkit dari kursi dan hendak pergi.
__ADS_1
"Iya Ber, botol minum gue ketinggalan." Ucap Uta menjelaskan kondisi botol minumnya yang memang tadi pagi tertinggal, karena berangkat terburu-buru. Tak mungkin kan mengeksekusi bekal Ibu Ratu tanpa setetespun air mengaliri tenggorokan, bisa bisa terbatuk karena super seret.
"Ya udah bareng aja Ta." Laki-laki itu sudah berjalan sejajar dengan Uta, sebelum gadis itu sempat menolak karena tak ingin berada di sebelah pusat perhatian siswa Z1. Tapi Uta berusaha menetralkan ke khawatirannya. Gadis itu berpikir toh hanya sekedar membeli minum sebentar, lalu segera kembali ke kelas. Bekal dari Ibu Ratu sudah menanti untuk dihabiskan.
Seperti yang sudah Uta prediksi sebelumnya, bahwa Alber akan menyita perhatian sekelilingnya. Di sepanjang koridor sekolah siswa siswi Z1 melempar pandangan ke arah mereka berdua, yang membuat Uta otomatis menundukkan arah pandang. Seperti pepatah 'ada gula ada semut'. Di mana ada Alber, di situ ada tatapan memuja dari kaum hawa. Dalam sekejap runtuh sudah kehawatiran, yang coba ia netralkan tadi.
Rasa insecure dalam diri Uta, mulai menggema. Ia berusaha menanggulangi keadaan, dengan berjalan lebih cepat dan sedikit demi sedikit menjauh dari Alber. Namun apesnya, Alber selalu saja kembali menghapus jarak itu. Laki-laki yang saat ini menjadi pusat perhatian itu, mengikuti kemana arah Uta berjalan. Uta ke kiri, maka ia ikut ke kiri. Uta melambat, maka ia pun juga melambat. Uta ke kanan, dia juga ke kanan.
ALBERRRRRRRRR!!!!! *Uta
Gadis itu hanya bisa puas berteriak protes dalam hati ke Alber. Sudah tentu teman sebangkunya itu, tak akan bisa mendengar suara jeritan hati si super insecure ini. Setelah melewati jalan yang panjang menurut Uta khususnya, mereka akhirnya sampai di area kantin yang kental akan nuansa luxury. Kantin yang di design untuk siswa siswi dari orang orang kaya, dikarenakan harganya bikin geleng-geleng kepala.
Uta sebenarnya masih punya kupon makan harian di kantin, yang bisa dia pergunakan untuk mengambil jatah air mineral dan yogurt yang kadang-kadang tersedia. Tapi melihat antrian yang sudah sepanjang gerbong kereta, membuat Uta mengurungkan niatnya.
Gadis itu memilih berbelok ke sisi kanan kantin yang menjual snack, berupa makanan dan minuman ringan berbayar. Bahkan tempat menjual jajanan ini pun sudah setara layaknya di mall- mall besar, hanya saja ini versi mininya.
"Ada yang lain?" Tanya petugas kasir pada Uta. Gadis itu mengeluarkan uang sebesar lima belas ribu rupiah, dari dalam sakunya hanya untuk membayar sebotol air mineral. Harga yang berkali-kali lipat lebih mahal, jika dibandingkan dengan air mineral yang dijual di pinggir jalan.
"Itu aja Mbak, terima kasih." Menyerahkan uang yang sudah ia pegang kepada petugas kasir. Diraihnya botol mineral yang sudah berpindah hak milik itu, kemudian keluar meninggalkan minimarket kantin Z1. Tepat saat melewati pintu keluar minimarket, rupanya Alber sedang bersandar di dinding samping pintu.
"Udah belinya? Yok lo mau makan apa Ta?" Rupa-rupanya Alber sengaja menunggunya di sana. Sesaat Uta sempat kaget, karena tak menyangka Alber menunggunya, tapi raut kaget itu sudah pastilah tak terlihat oleh siapapun.
"Ehm lo makan sendiri aja ya Ber, gue mau balik ke kelas deluan." Ucap Uta lempeng pada Alber. Dirinya sudah mulai tak nyaman, oleh pandangan siswa yang ada di kantin yang tadi tertuju pada Alber, mulai berpindah kearahnya. Bahkan ada beberapa spot dimana, beberapa siswi mulai berbisik bisik entah apa sembari melirik tajam ke arah Uta, membuat yang di lirik benar benar ingin menghilang saja.
__ADS_1
"Lo enggak makan Ta? Emang air aja cukup?" Tanya Alber dengan wajah sedikit meragukan keputusan teman sebangkunya itu. Keraguan itu tentulah masuk akal, sebab sebotol air sudah tentu tak akan mampu menyumpal perut yang lapar.
"Gue bawa bekal Ber. Deluan yah Ber." Jawab Uta sekaligus pamit, sebelum sempat Alber tanggapi. Gadis itu langsung cabut ke kelas meninggalkan Alber di kantin. Alber yang ditinggalkan Uta, hanya terdiam di tempat. Ia masih belum tau kebiasaan gadis itu. Alber yang baru pindah, masih beradaptasi dengan segalanya.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND