![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Tawar-menawar agar Alber batal menjadi tutor les Uta, gagal total. Segala alasan dan cara Uta lakukan agar ia tak perlu les dengan laki-laki itu, rasanya mental semua. Ia terpaksa harus menerima Alber menjadi tutor fisikanya, sebab laki-laki itu mengatakan akan ke rumah Uta setiap hari sepulang sekolah, untuk mengajari gadis itu fisika, jika ia menolak reward darinya di sekolah.
Mendengar itu, mau tak mau Uta akhirnya menyetujui untuk belajar dipandu Alber, sang tutor handal setiap jam istirahat. Dan disinilah Uta sekarang, gadis itu harus berhadapan dengan kumpulan soal dan kertas coretan. Setelah tadi Alber memerintahkan Uta untuk makan siang dengan cepat, karena sisa waktu istirahat akan dipergunakan untuk belajar.
Bagaikan komandan dan prajurit, apapun yang komandan instruksikan, prajurit tak bisa membantah. Alber membahas soal ulangan yang kemarin, karena kemungkinan remedial nanti juga seputar soal begini.
"Sebelum masuk hitung menghitung dengan rumus, kita mesti tau dulu konsep inti yang kita bahas. Oke?" Ucap Alber sebagai kata pengantar les mereka.
"Oke." Jawab Uta pasrah.
"Pertama-tama kita bahas tentang momentum dulu. Momentum dalam konsep fisika di definisikan, setiap benda yang memiliki massa (m) bergerak dengan kecepatan (v), makan benda itu dikatakan memiliki momentum (P \= m.v)." Ujar Alber, memilih definisi momentum yang kiranya paling mudah dimengerti.
Diliriknya Uta yang totally blank, seolah-olah Alber berucap pakai bahasa alien, sehingga tak ada satupun yang dimengerti Uta dari perkataan itu. Alber menarik nafas dalam, sebelum mencoba menjelaskan sekali lagi.
"Misalnya, bola yang bergelinding, bola kan punya massa atau berat, saat si bola bergerak dia punya kecepatan. Maka, si bola yang bergelinding tadi, dikatakan punya momentum. Sampai sini paham?" Alber mencoba menjelaskan, menggunakan analogi yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
"Paham." Gadis itu menjawab dengan yakin, lengkap dengan ekspresi sumringah yang nampak di wajahnya. Ia tampak mengerti dan dapat menangkap analogi sederhana yang Alber sampaikan. Hilang sudah ekspresi kosong yang tadi Alber lihat.
Rupanya dia tipe si analogi.*Alber
"Good. Sekarang kita lanjut ke impuls." Puji Alber pada gadis itu dengan sedikit terkekeh. Setidaknya step satu sudah berhasil ia lalui, lanjut ke step berikutnya.
"Impuls itu sederhananya adalah, penyebab dari momentum. Untuk membuat bola bergerak menggelinding, harus diberikan gaya terlebih dahulu. Ada dua cara untuk mencari impuls. Kita ke cara yang pertama dulu, siap?" Jelas Alber pelan-pelan, dengan tetap memakai teori plus analogi sederhana, agar gadis itu tak bingung.
"Siap." Ucap Uta, menandakan ia masih on the track.
"Sekarang bayangin dulu, ada awal dan ada akhir. Kita ambil contoh bola. Awalnya bola itu diam, lalu setelah ditendang, bola akhirnya bergerak. Bisa bayangin awal dan akhir si bola? Udah kebayang gak??" Ucap Alber menuntun Uta masuk ke fase hayal-hayal, untuk dapat memahami inti teori sesungguhnya.
"Iya udah kebayang." Jawab Uta dengan mimik muka, sedang membayangkan analogi yang Alber berikan. Alber mencoba untuk tetap fokus meskipun ia ingin sekali tertawa, melihat ekspresi Uta yang menurutnya sangat lucu saat ini.
__ADS_1
"Nah awal bola itu V1, sementara akhir bola itu V2. Mesti ingat itu, oke!!" Kembali menjelaskan teori dan analogi berjalan beriringan.
"V1 V2. Oke." Seperti yang Alber duga, cara ini seratus persen ampuh masuk ke otak Uta.
"Nah cara cari impuls yang pertama, kondisi awal bola diam, atau V1 nya bernilai nol (0). Jadi rumus yang dipakai, impuls sama dengan gaya dikali delta t (I \= F . ∆t). Yang mana delta t adalah, waktu yang diperlukan saat gaya tepat mengenai benda." Jelas Alber pelan-pelan. Dilihatnya Uta yang mengerutkan kening sedang mencerna perkataan Alber.
"Apa seperti pemain sepak bola yang mau ngelakuin tendangan penalti?" Tanpa Alber duga, Uta bicara memberikan analogi hasil pemikirannya.
"Yes cerdas. Tepat sekali. Pemain bola yang mau ngelakuin tendangan penalti itu kan, nendang bola yang kondisi bolanya diam. Nah delta waktu (∆t) adalah, waktu yang diperlukan saat pemain bola itu mulai menendang bola, sampai dengan kakinya beneran mengenai bola yang diam tadi. Very smart" Alber sangat sangat senang, ternyata Uta tipe yang cepat menangkap pelajaran, asalkan metode penyampaiannya tepat.
"He .. he .. he." Gantian gadis itu terkekeh mendengar Alber memuji dirinya.
"Lanjut cara kedua?" Tanya Alber kemudian. Uta mengangguk mengiyakan.
"Untuk cara kedua, Impuls sama dengan perubahan momentum (I\=∆P). Delta p (∆P) bisa didapat dari, kondisi kecepatan akhir bola, dikurangi kondisi kecepatan awal bola (mV2 - mV1). Seringkali dipergunakan untuk kondisi bola yang memang sudah bergerak." Kondisi les itu sudah sangat kondusif. Alber menyadari Uta sudah sangat berkonsentrasi, setiap kali ia menjelaskan tahap demi tahap.
"Seperti pemain bola yang lagi oper operan menendang bola?" Ucap gadis itu lagi menyampaikan analoginya, membuat Alber senang seolah mendapat jackpot.
"Binggo. Tepat sekali, bola yang dioper kan seringkali awalnya sudah menggelinding, jadi bisa pakai rumus ini. Oke?" Ucap Alber dengan senyum lebarnya.
"Nah, momentum maupun impuls itu, termasuk dalam besaran vektor, jadi keduanya memiliki nilai dan arah, yang mana ini sangat berpengaruh." Jelas Alber lebih lanjut tentang momentum dan impuls.
"Nilai, arah maksudnya?" Kembali alisnya berkerut mempertanyakan maksud penjelasan Alber.
"Arah disini maksudnya nilai negatif positif, yang fungsinya menentukan arah. Kalau nilainya positif maka, arah benda ke kanan. Sebaliknya kalau nilainya negatif maka, arah benda ke kiri." Uta masih loading, mencerna perkataan Alber.
"Analoginya gini. Biasanya hal baik dilambangkan kanan, sementara kiri dilambangkan sebaliknya. Nah sekarang bayangin aja, kalau kita berbuat baik ke orang berarti sama aja kita mengerjakan hal yang sifatnya positif. Positif artinya kanan. Sebaliknya kalau kita ngejahatin orang, itu sama aja kita memperbuat hal negatif ke orang atau arah kiri, iya kan??" Ucap Alber bangga menemukan analogi yang mudah untuk dicerna.
"Iya kita harus baik sama orang." Kembali ekspresi paham itu muncul.
"He .. he .. he. Good girl ..." Alber tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Uta.
__ADS_1
"Oke sekarang kita masuk ke contoh soal aja. Fokus Ta!!! Sebuah mobil yang bermassa 1200 kg, melaju dengan kecepatan 60 m/s, lalu menabrak sebuah tiang, sehingga berhenti dalam waktu 0,1 sekon. Berapakah gaya yang berlangsung pada mobil tersebut?" Alber membacakan salah satu soal, pada soal ulangan fisika yang kemarin.
"Astagfirullah!!! Kok bisa bisanya sih nggak lihat ada tiang?? Penumpang lain mestinya kasih tahu nyetirnya hati-hati. Syukur-syukur tiang yang ditabrak, coba kalau nabrak orang lain, bisa bisa masuk penjara. Ini sih fix, jawabannya kebanyakan gaya." Ucap Uta.
GUBRAK..!!!!
Alber sampai kehilangan kata-kata, dengan pola pikir amazing Uta barusan.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
BTW buat penjelasan fisikanya, jujur Author juga gak jago sama sekali, tergolong lemah malahan. Penjelasan di atas itu Author rangkum dari beberapa referensi, baik dari Om Gugel maupun dari Yutub. Author coba rangkumin dengan penjelasan sesimpel yang Author bisa.
Mudah mudahan rangkuman Author gak keliru, salah dan sesat ya. Kalaupun ada yang kurang tepat, teman-teman bisa banget tulis koreksi di comment. Author dengan senang hati mengucapkan terima kasih.😊
Oh iya, Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND