![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta sudah memakai piyama kesayangannya dan berbaring di atas tempat tidur. Sayangnya, gadis itu bukan tidur-tidur cantik, melainkan berbaring gelisah menatap kosong langit-langit kamar. Bukan tanpa alasan ia bertingkah seperti itu, dirinya merasa malu dengan kejadian tadi sore.
Uta Arabella Lavanya!! Kenapa kamu mesti marah-marah segala sih tadi?!! Kan jadi malu!! *Uta
"Arrgggghhhh!!!" Teriaknya tertahan atas ke frustasian, yang ia rasakan. Ia bahkan mengacak-ngacak rambutnya yang tadi di keramas dan sudah rapi dikeringkan, sangking pusingnya. Matanya kembali kosong menatap langit-langit kamar.
Gimana aku minta maaf ke Alber besok? Gimana kalo dia marah dan sakit hati aku gituin. *Uta
Derrrttt ... Derrrttt ... Derrrttt ... Derrrttt ...
Entah sudah berapa kali notif pesan AppWhats masuk ke dalam handphonenya. Pengirimnya tidak lain dan tidak bukan adalah Alber Syargan Farabaks.
"Ah tau ah ... Pusing aku!!" Makin pusing lah dia, pengirim pesan itu adalah orang yang saat ini, rasa bersalahnya tertuju. Dengan setengah hati diraihnya benda berbentuk segi empat yang sedari tadi berbunyi.
[Ta? Sibuk?] *Alber
[Boleh chat?] *Alber
[Aku minta maaf, udah kelewatan ngusilin kamu.] *Alber
Jujur terbersit rasa bersalah sekali lagi untuk Alber, terlebih dengan lapang hati, laki-laki itu meminta maaf terlebih dahulu seperti ini. Padahal jelas-jelas peristiwa tadi, ia lah yang kekanak-kanakan menanggapi tindakan receh Alber.
[Gak ada maksud aku untuk gak ngehargai pendapat kamu.] *Alber
[Bukan juga gak percaya kalo kamu bisa jaga diri sendiri.] *Alber
[Aku cuman khawatir kamu pulang sendirian.] *Alber
Uta sedikit tersentuh dengan kebaikan hati teman sebangkunya itu. Ya, Alber memang orang yang baik. Siapa pun yang mengenalnya pasti tahu orang ini memiliki hati yang baik. Bagaimana tidak, Alber tumbuh di lingkungan keluarga yang berhati baik dan rendah hati meski memiliki segalanya.
[Cuman itu.] *Alber
[Gak lebih.] *Alber
Ya aku tau, tentu aja kamu gak ada maksud lebih.*Uta
__ADS_1
[Ta, mau ya maafin aku.] *Alber
Uta sesaat tercenung membaca pesan itu. Bingung mau membalas apa? Ada rasa malu untuk mengakui kalau ia juga punya salah. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin berbohong. Terlebih Alber sudah dengan rendah hati, meminta maaf deluan. Gadis itu menguatkan hati dan mulai mengetik sesuatu.
[Alber gak usah minta maaf.] *Uta
[Setelah kupikir pikir, aku yang keterlaluan.] *Uta
[Aku kekanak-kanakan banget.]
[Entah kenapa aku emosi hari ini, terus meledaknya malah ke kamu.] *Uta
[Maaf ya Ber.] *Uta
[Aku jadi gak enak hati.] *Uta
[Apalagi tadi, ada Babam Annem.] *Uta
[Takutnya Babam Annem, mikir kamu jahatin aku.] *Uta
[Padahal sebenarnya gak begitu.] *Uta
[π] *Uta
[Jangan marah] *Uta
[π«π ] *Uta
Uta memilih untuk jujur apa adanya. Menjelaskan letak kesalahannya dan tulus meminta maaf atas itu. Mau semalu apapun, biarlah. Jauh lebih baik, mengakui kesalahan ketimbang sok paling benar.
[Aku gak mungkin marah sama kamu.] *Alber
[Aku kan sabar orangnya.] *Alber
[He .. he .. he ..] *Alber
[ππ€£π€£] *Alber
__ADS_1
[Babam Annem, gak sama sekali mikir yang enggak enggak.] *Alber
[Jangan khawatir.] *Alber
Ada perasaan lega di hati Uta setelah membaca balasan Alber. Untungnya Alber tidak marah padanya. Gadis itu lebih bersyukur lagi orang tua Alber, juga tak menanggapi berlebihan.
Babam Annem emang the best.*Uta
[Iya kamu orang paling sabar sejagat raya.] *Uta
[Seisi langit dan bumi pun gak bisa ngalahin kesabaranmu.] *Uta
[πππ] *Uta
[Syukurlah Babam sama Annem, gak mikir aneh aneh.] *Uta
[Lega jadinya.] *Uta
[Udah dulu ya Ber.] *Uta
[Karena udah plong, aku tiba-tiba ngantuk.] *Uta
[π΄π΄] *Uta
[Yah ... Kok udah ngantuk?] *Alber
[Ya udah, tidur yang nyenyak ya.] *Alber
[Good night Ta.] *Alber
Sebenarnya Uta belum terlalu mengantuk, alasan mengantuk hanya dipakainya untuk sengaja mengakhiri chat dengan Alber. Entah mengapa hatinya mengatakan, untuk tak terlalu semakin dekat mulai sekarang dengan teman sebangkunya itu. Ia tak ingin jatuh untuk seseorang yang mustahil diraih dalam hidup ini.
Cukup ia salah menjatuhkan hati pada Felix. Jangan pernah lagi. Felix saja, yang kesempurnaannya tergeser oleh Alber, malu berpacaran dengannya. Lalu apa kabar Alber? Orang yang menggeser posisi Felix sebagai idola Z1, sudah pasti ia jatuhnya jadi aib untuk laki-laki itu. Tidak jatuh cinta pada seorang Alber adalah keputusan paling tepat, pikir Uta.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
β€
ZEROIND