![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Sama seperti kemarin, Uta dan Putri juga berkeliling pantry Annem, untuk mengumpulkan bahan-bahan baking. Sementara Alber, ditugaskan untuk menyiapkan alat-alat seperti celemek, timbangan kue, loyang panggang dan kawan kawan. Alber juga dilarang dibantu staff dapur oleh Uta. Staff dapur hanya boleh memberi tahu lokasi alat alat itu disimpan, tapi tidak boleh mengambilkan untuk Alber. Uta dan Putri keluar dari pantry dan berjalan mendekat ke arah Alber.
"Gimana udah lengkap kan?" Ucap Alber yang bangga karena berhasil mengumpulkan alat-alat baking, sesuai dengan misi yang Uta berikan. Mellihat itu, Uta menatap Alber dengan tatapan curiga.
"Ini semua bener gak ada yang diambilin kan?" Tanya Uta memastikan ini benar-benar Alber yang mengerjakan.
"Seratus persen by Alber Syargan Farabaks." Ucap Alber pede. Benar benar terbalik, yang satunya pede dan yang satunya lagi curiga.
"Yabel hebat banget deh." Puji Putri setinggi langit. Bahkan bocah kecil itu memberikan kedua jempolnya, pertanda Alber sungguh benar-benar hebat.
"Yaber gitu loh." Ucap Alber dengan tingkat kepedean semakin menjadi-jadi. Uta akhirnya terdiam seribu bahasa dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tadi berantem, sekarang satu tim. Mau heran tapi Alber Putri. Sabar Ta, calm down.*Uta
"Let's go ... Semua pakai celemeknya dulu. Putri sini Tuta pakein celemeknya." Ucap Uta memberikan sebuah celemek kepada Alber untuk ia pakai sendiri, kemudian meraih celemek terkecil yang memang khusus anak anak untuk dipakaikan ke Putri. Bocah kecil itu menurut saja, masih dengan senyum lebarnya yang tak pernah hilang, tanda hatinya memang senang.
"Ta ini pakainya gimana? Aku gak pernah pakai ini." Tanya Alber yang bingung bagaimana cara memakai celemek.
"Pertama masukin dulu bagian tali untuk leher, nah baru sini bagian belakangnya aku ikatin." Ujar Uta memandu Alber memakai celemek. Gadis itu juga dengan cekatan memposisikan diri di belakang Alber, untuk membantu mengikatkan tali belakang celemek Alber.
Selesai urusan celemek Alber, Uta kemudian meraih celemek terakhir untuk dipakainya sendiri. Namun baru Uta memasukkan tali celemek di bagian leher, tiba-tiba ia dikagetkan oleh tindakan Alber. Bagaimana Uta tidak kaget, Alber membantu mengingatkan tali celemek Uta tapi dengan cara memeluknya dari depan.
__ADS_1
"Jangan bergerak dulu, aku belum selesai ngikat tali celemeknya." Ucap Alber mengikat tali celemek Uta masih tetap dengan memeluknya.
"A ... aku bisa ikat sendiri Ber." Protes Uta berusaha menjauhkan tubuhnya dari dada bidang Alber, namun sia-sia. Lengan-lengan kokoh Alber menahan tubuh mereka tetap rapat, sementara jari-jarinya mengikat tali celemek Uta.
"Ingat, kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Tadi kamu bantu pasangin celemek aku, sekarang gantian aku yang pasangin celemek kamu. Bukan begitu Putri?" Ucap Alber santai, bahkan ia sempat-sempatnya mencari dukungan pada bocah cilik di antara mereka.
"Benal, Yabel benal." Bocah kecil yang tak tahu apa-apa itu, dengan polosnya membenarkan apa yang Alber bilang.
"Tuh anak kecil aja tau." Ucap Alber senang, karena merasa perkataannya didukung oleh Putri.
"Iya tapi kalau mau bantuin ngikatin tali celemek dari belakang aja, kenapa mesti dari depan!" Protes Uta lagi. Masih tak terima, gara-gara pasang celemek, jadi aksi berpelukan.
"Ku pikir-pikir, ini cara yang paling efisien. Masangin, ngikatin sama ngerapihin, gak mesti bolak-balik kayak kamu tadi." Jawab Alber memberikan alasan yang paling masuk akal, agar gadis dalam pelukannya tak bisa membantah perkataannya.
"Tuta sabal. Tuta sabal Tuta." Kata Putri mencoba menengahi.
"Dah. Yok mulai bikin cookies nya." Ucap Alber sembari melepas Uta dari pelukannya. Ia bahkan tersenyum lebar saat Uta menatapnya kesal.
"Go .. go .." Teriak Putri antusias membuyarkan kekesalan Uta ke Alber.
Sabar Uta sabar.*Uta
Mereka mulai mengerjakan pembuatan cookies yang dikomandai oleh Uta. Pertama-tama, Uta memutuskan mengeksekusi palm cheese cookies terlebih dahulu. Alber dan Putri ditugaskan Uta, untuk menimbang bahan-bahan palm cheese cookies, sementara Uta dengan cekatan mencampur semua bahan hasil timbangan menggunakan mixer.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Uta kemudian mematikan mixer dan menggeser wadah berisi adonan itu ke tengah-tengah mereka, untuk segera di bulat bulatin. Putri yang sudah tau step selanjutnya, langsung mulai membulat bulati adonan sambil mengajari Alber bagaimana caranya.
"Yabel calanya gini, telus gini, telus taloh di sini. Okey Yabel?" Ucap Putri dengan cekatan menunjukkan step by step untuk ditiru oleh Alber. Bocah itu tak menjelaskan dengan rangkaian kata, melainkan langsung praktek mencontohkan dengan tangan mungilnya.
"Oke." Jawab Alber kemudian segera mengikuti step yang Putri contohkan.
"He .. he .. he." Uta tak bisa menyembunyikan tawanya. Menurutnya apa yang Alber dan Putri lakukan saat ini, terlihat menggemaskan. Mereka bertiga akhirnya larut dalam menyelesaikan adonan palm cheese cookies.
Ajaibnya tak butuh waktu lama, adonan palm cheese cookies yang menggunung itu, sudah di eksekusi semua. Hasil kreasi mereka bahkan sudah duduk cantik di dalam oven untuk proses pematangan. Uta kemudian memutuskan mangeksekusi cookies kedua, yaitu lidah kucing cookies.
"Nah kita bikin cookies yang baru. Namanya cookies nya itu lidah kucing cookies." Ucap Uta seolah olah bertindak sebagai ibu guru yang memandu dua muridnya.
"Lidah kucing? Tuta kenapa namanya lidah kucing, kenapa gak lidah ayam?" Ujar Putri.
GUBRAKKKK
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
__ADS_1
ZEROIND