![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Sudah lama nunggu aku?" Tanya Alber pada seseorang yang berdiri dekat si hitam.
"Alber ..." Jawab Uta kaget, saat Alber sudah berada di belakangnya.
"Yok masuk, aku anter kamu pulang." Ucap Alber, membukakan pintu mobil untuk Uta.
"Ta ... Tapi Ber ..." Melihat itu, Uta ingin melontarkan protes pada Alber.
"Gak pake tapi Ta. Ingat, kamu udah janji sama aku tadi." Ujar Alber, mengingatkan janji Uta sebelumnya.
"Heahhhhh ...... Oke." Mendengar Alber menagih janjinya, Uta hanya bisa menarik nafas panjang. Gadis itu akhirnya menurut dan masuk ke dalam kursi penumpang si hitam. Hal itu membuat, sebuah senyum timbul di wajah pemilik mobil.
Flashback starts
Usai sengketa perkara tempat duduk mencapai fase final. Alber dan Reta kemudian duduk terlebih dahulu, di bangku yang sudah mereka tentukan. Baris ketiga dekat jendela. Meninggalkan Ayleen yang masih berdiri, mengeker bangku kosong di area Alber duduk. Entahlah, Alber tak ingin ikut campur urusan Ayleen.
Saat dirinya baru saja duduk, dan baru mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas, handphonenya bergetar guna memberi tanda pada si pemilik. Diambilnya benda pipih segi empat, dari dalam saku celana. Tampak sebuah notif pada aplikasi AppWhats, menandakan seseorang telah mengirimkan pesan padanya.
Alber kemudian membuka aplikasi tersebut. Sebuah senyum melengkung menghiasi wajah tampannya, yang sedari tadi lebih banyak ditekuk, di karenakan sedang bete mode ON.
[Alber.] *Uta [Sudah mulai pelajaran?] *Uta [Aku ganggu gak?] *Uta [Boleh chat ?] *Uta [Aku pengen ngejelasin sesuatu sama kamu.] *Uta [Soalnya, aku pikir kamu tadi kayaknya ada salah paham, menangkap omongan aku.] *Uta [Boleh?] *Uta
[Iya, aku salah paham banget ini.] *Alber [😠] *Alber [Butuh penjelasan sejelas jelasnya!] *Alber [Kamu boleh jelasin, tapi ...] *Alber
[Tuh kan bener.] *Uta [Tapi apa?] *Uta
[Boleh jelasin, tapi gak boleh lewat chat.] *Alber [Ribet.] *Alber [Terus bisa bikin salah pahamnya makin kemana-mana.] *Alber [Gak mau chat chet chat chet.] *Alber
__ADS_1
[Terus gimana dong?] *Uta [Aku kan gak bisa telepati?] *Uta
[Pulang sekolah nanti, jelasin selagi di mobil.] *Alber [Aku anter kamu pulang.] *Alber [Gak pake telepati-telepatian.] *Alber [Titik.] *Alber [No debat.] *Alber
[Heahhhhhh .....] *Uta [Oke mister Alber.] *Uta [Ya udah kalo gitu, aku off dulu. Ada guru mau masuk. Bye Alber.] *Uta
Yes!! *Alber
Flashback ends
Dan di sinilah mereka berada, menduduki tunggangan si hitam yang sedang melaju menuju rumah Uta.
"By the way, Ayleen mana Ber? Kalian gak pulang bareng?" Tanya Uta membuka obrolan.
"Ayleen ada supir yang urus. Lagian Ta, ngapain bahas Ayleen sih? Skip." Jawab Alber yang tak suka dengan topik pembahasan itu.
Di urus supir? Hubungan orang kaya memang beda. Lagian bukan aku pengen bahas-bahas Ayleen. Hanya aja aku khawatir Ayleen salah paham, aku pulang bareng kamu Ber. *Uta
"Hmm ... Tadi itu kayaknya kamu salah nangkap omongan aku. Aku bukannya gak sedih, kita udah gak sekelas." Ucap Uta mulai menjelaskan.
"Jadi kamu sedih kita pisah kelas?" Potong Alber, kembali mengkonfirmasi perasaan Uta sekali lagi.
"Tentu aja aku sedih, sedih banget malah." Jawab Uta sungguh dari hati. Ia pun melanjutkan penjelasannya lagi.
"Gimana gak sedih coba? Aku kehilangan teman sebangku yang asik, baik, iseng, jahil, ngeselin, raja dunia tipu-tipu, ngadain les rodi sepihak, terus diktator pas jadi mentor. Rasanya tuh kayak ada yang hilang gitu." Ucap Uta terus terang.
"Kok kedengarannya, lebih banyak yang buruknya ya, daripada yang baiknya?" Ujar Alber dalam rangka hendak protes.
"Wkwkwkwkwkwkw ...." Tawa Uta pecah mendengar kata-kata Alber, membuat Alber juga terkekeh, meski ia yang jadi objek tawa sekarang. Tawa renyah Uta selalu berhasil, membuat perasaannya ikut senang.
__ADS_1
"Tapi ..." Ucap Uta menggantung, di sela-sela tawanya yang mulai mereda.
"Tapi apa?" Tanya Alber melirik Uta sesaat, di tengah-tengah mengemudikan setir mobil.
"Tapi ... Meski begitu, teman sebangku aku itu suuaabbbaaaarrrrrr banget." Jawab Uta, memuji Alber setinggi langit.
"Wah ... Ini nih, definisi taktik tingkat dewa. Mana aku bisa marah, kalau barusan dibilang aku 'sabar banget'." Ucap Alber, memasang wajah seolah-olah protes.
"Wkwkwwkwkw ... Namanya juga mentor aku, raja dunia tipu-tipu. Tentulah sebagai murid, aku harus menyerap baik-baik pelajaran itu. Not bad bukan? Wkwkwkwk." Ujarnya lagi, kemudian lanjut tertawa. Menuntaskan tawanya yang belum selesai.
"Heahhhhhhhhhh ....." Alber menarik nafas panjang pada akhirnya. Perkataan Uta tidak bisa ia bantah dari sisi manapun.
"Wkwkwkwkwkk ... Aduh sampe sakit perut ketawa terus." Uta benar-benar puas tertawa, karena berhasil membuat Alber speechless pasrah.
"Kayaknya kamu gak terlalu menyesal ya?" Goda Alber lagi, perkara salah paham tadi pada Uta.
"Alber bukan begitu, tapi ... tapi tadi itu terlalu lucu. Wkwkwkwkw .... Tuh kan jadi ketawa lagi." Gadis itu tak bisa menghentikan tawa.
Yang terlalu lucu itu kamu. Aku gemas jadinya. *Alber
"Lagian ya Ber, kita kan tetep ketemu kalo aku ngejagain Putri tiap weekend. So, kita tetap silaturahmi you know." Ujar Uta menenangkan, dengan memberikan perspektif lain. Mendengar itu Alber, menganggukkan kepala beberapa kali. Apa yang Uta katakan, memang ada benarnya.
"Ya kamu benar. Terus sekarang kamu duduk bareng siapa? Sendiri?" Tanya Alber kepo.
"No, aku sebangku sama Seto." Jawab Uta santai.
Seto iiiisssshhhhh ....!!!! 😠 *Alber
Bersambung ............
__ADS_1
..._____________ Z _____________...
❤ ZEROIND