Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
35. Dengerin Mamah


__ADS_3

Lanjutan flashback


Author POV


Sepulangnya Edgar, Mamah Celine naik ke lantai atas membawa beberapa makanan di atas nampan. Bertepatan dengan itu, Uta yang baru selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama tidurnya.


Walau matanya masih bengkak akibat kebanyakan menangis, tetapi ia sudah jauh lebih segar ketimbang saat pulang tadi. Uta berjalan menuju pintu kamarnya, sebab Mamah Celine mengetok pintu kamarnya.


"Ta, boleh Mamah masuk??" Ucap wanita cantik paruh baya itu lembut.


"Masuk aja Mah." Uta membukakan pintu dan mempersilahkan sang Mamah masuk.


"Tadi Mamah masakin makanan kesukaan kamu Ta." Mamah Celine mencoba mencairkan suasana dengan memamerkan mahakarya, masakan super lezat kesukaan putrinya itu.


"Makasih Mah. Edgar gimana Mah? Udah pulang?" Tanya Uta kepada Mamah Celine yang sedang meletakkan nampan makanan diatas meja belajarnya Uta.


"Mamah udah obatin tangannya Edgar yang luka, barusan Edgar udah pulang ke rumahnya." Ucap beliau sembari berjalan menuju tempat tidur, dimana Uta duduk di sana. Ia duduk berhadap hadapan dengan Putri semata wayangnya itu. Di belainya surai hitam lurus milik Uta yang tergerai bebas.


"Makasih ya Mah." Ucap Uta memegang lengan sang Mamah yang sedang membelai lembut rambutnya. Mamah Celine membalas menggenggam tangan anaknya, seolah sedang mentransfer kekuatan untuk Uta.


"Sekarang boleh Mamah tahu kenapa anak Mamah pulang-pulang, matanya sembab gini?? Hemh ... boleh??" Ucap Mamah Celine lembut. Intonasi khas seorang Ibu, seketika menembus tepat ke relung hati Uta. Air mata yang tak ingin dia keluarkan, mendadak mulai meleleh deras.

__ADS_1


"Kenapa ta?? Kenapa sayang?? Kenapa nangis, hemh ...?" Ucap Mamah Celine merengkuh wajah si putri sulung, dengan kedua tangannya. Ditatapnya Uta dengan penuh aura keibuan, kemudian diusapnya lelehan air mata dipipi putrinya itu. Mamah Celine masih dengan sabar menunggu Uta bercerita kepadanya. Ia sangat mengerti bahwa Uta mungkin memerlukan waktu sejenak, sebelum siap bercerita.


"Uta ... Uta putus sama Kak Felix Mah." Ucap Uta jujur ke Ibu Ratu. Mamah Celine masih diam tak berkomentar dulu, membiarkan Uta jikalau ia belum selesai bicara. Beliau hanya terus menggenggam salah satu tangan anaknya, untuk menyalurkan support pada Uta.


"Ternyata anak Mamah cengeng banget ya. He .. he.. he .. Duh jadi malu." Ucap Uta, merasa dirinya jadi cengeng di depan Mamah Celine. Mamah Celine yang mendengar itu sama sekali tak menertawakan Uta, sebab ia tahu, itu hanya ungkapan menghibur diri semata.


Disaat Uta sudah mulai tenang, mulailah ia bercerita. Mamah Celine sebagai pendengar setia tak sedikit pun memotong ucapan Uta. Beliau hanya menggenggam dan menepuk-nepuk pelan telapak tangan putrinya sambil terus menyimak.


"Apa kalian ada masalah? Sudah coba diselesaikan?" Tanya Mama Celine lembut.


"Nggak ada Mah. Hanya aja, ternyata Kak Felix nggak serius pacaran dengan Uta. Kak Felix bingung dan baru sadar dia nggak punya perasaan apa apa ke Uta. Jadi Uta mikir lebih baik kita udahan dan balik jadi teman aja. Jadi Uta dan Kak Felix udah putus Mah." Jawab Uta yang masih berusaha menyampaikan inti masalah, tanpa menceritakan bagian terpahit dari rangkaian peristiwa.


"Kalau memang seperti itu, lalu kenapa Edgar harus berantem sampai tangannya luka-luka gitu?" Ucap Mamah Celine tanpa ada sedikitpun tendensi menyudutkan atau tak percaya pada putrinya. Mamah Celine hanya spontan bertanya mengikuti intuisi dari apa yang beliau lihat, namun hal itu mampu membuat Uta terdiam.


"Kak Felix jadiin Uta taruhan dengan teman-temannya. Taruhan itu dibuat sebagai syarat Kak Devina, perempuan yang Kak Felix taksir sebenarnya, mau berpacaran dengan Kak Felix. Kak Felix dikatakan menang taruhan kalau berhasil jadiin Uta sebagai pacarnya. Dia sama sekali nggak cinta sama Uta. Dia baik selama ini semata-mata hanya untuk menangin taruhan itu. Semuanya bohong Mah. Uta cuman jadi tiket buat Kak Felix bisa berpacaran dengan Kak Devina." Cerita Uta dengan berderai air mata. Pada akhirnya ia memutuskan untuk jujur semuanya pada Mamah Celine.


"Astagfirullah sayang ... Ya Allah, sayangnya Mamah ..." Ucap Mamah Celine terlihat berkaca kaca dan hampir menetes kan air mata. Dipeluknya Uta, anak remaja yang akan selalu menjadi gadis kecil di matanya. Dibelainya lembut rambut hitam lurus yang persis seperti miliknya.


"It's okay kalau Uta mau nangis. Nangis aja, keluarin biar lega. Tapi Uta dengerin Mamah! Putus memang menyakitkan, tetapi kehilangan seseorang yang tidak menghargai kamu, apalagi hanya memanfaatkan kamu, sebenarnya adalah keuntungan. Bukan kerugian." Ucap Mamah Celine bijak. Ditepuk tepuknya lembut punggung perempuan yang sedang menangis dipelukannya.


"Tuhan memisahkan kamu darinya itu, karena kamu ditakdirkan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Mesti percaya itu." Lanjut beliau lagi.

__ADS_1


"Suatu hari nanti dia akan menyesal sudah jahat begitu. Hidup ini sejatinya tabur tuai. Anggap aja sekarang dia bagian dari masa lalu. Masa lalu itu buat di lewati aja, maksimal dijadiin pajangan dan nggak lebih dari itu." Ujarnya lagi memberi secercah pencerahan hidup.


"Lupakan dia. Lupakan rasa sakitnya. Selama dia nggak ngerusak kamu, maafkan dia. Itu cara terbaik agar bisa berdamai dengan hati. Hanya hati yang sudah berdamai yang bisa melangkah ke depan." Ucap beliau mencoba memberikan solusi terbaik untuk masalah puterinya. Pelukan ibu dan anak itu terurai, mencipta jarak yang tadinya menyatu.


"Apa Uta bisa Mah? Rasanya sakit banget." Ucap Uta di sela sela tangisnya. Gadis itu juga menyentuh area letak jantung hatinya, yang dari sana menguar rasa sakit.


"Yakin bisa. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Biar hati kamunya tentram dan damai." Ucap Mamah Celine penuh keyakinan. Uta yang tau dan menjadi saksi hidup dari sang Mamah, yang mana sudah melewati pahit getir kehidupan dengan segala cobaan, perlahan mulai percaya. Rasa yakin tersebut entah mengapa menular ke dirinya.


"Kak Uta, ada Kak Reta nih." Teriak Tama yang baru saja pulang dari kerja kelompok dirumah temannya.


"Tuh pasukan kamu udah datang. Udah ah, nggak usah ditangisin lagi. Sayang air matanya. Yang bikin bahagia itu bukan cuma dia doang. Ada Mamah, Tama, Edgar, Reta dan percaya deh masih banyak orang yang sayang sama Uta." Ucap Mamah Celine mengusap air mata anak sulung kebanggaannya, dibumbui dengan sedikit ledekan agar Putrinya itu tersenyum lagi.


"Uta ... Mamah ..." Teriak Reta dari tangga.


"Buruan hapus air matanya, sebelum itu negara api menyerang." Uta tertawa mendengar ucapan Ibu Ratu.


Flashcack ends


Bersambung ............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2