![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Boleh gak gue catering bekal ke nyokap lo?" Tanya Alber to the point.
"Uhuk ... uhuk." Uta terbatuk mendengar pertanyaan Alber. Ia tidak menduga sama sekali, itu yang Alber inginkan. Uta meraih botol air mineral miliknya, lalu meneguk beberapa kali. Berharap batuk dan pedasnya hilang.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Apesnya, batuk dan pedes yang ia rasa, malah semakin menjadi. Alber dengan sigap membukakan botol minuman kemasan, berisi jus jeruk. Menyerahkannya ke Uta, untuk segera diminum agar pedasnya mereda. Uta menerima jus jeruk yang Alber sodorkan. Segera diteguknya untuk menghentikan rasa pedas yang menyiksa.
"Thank you." Ujarnya berterima kasih, karena memberikan minuman penyelamat itu. Untung saja batuknya tak terlalu parah. Tak bisa Uta bayangkan, kalau ia batuk yang sampai air keluar dari hidung, akibat makanan dan air bingung mau lewat jalan nafas atau jalan pencernaan. Untunglah ia belum masuk kategori berat itu.
"Gue yang sorry bikin lo sampe batuk." Ujar Alber merasa sedikit bersalah. Ia jadi merasa tak enak hati melihat Uta sampai terbatuk seperti itu.
"Lo serius beneran mau catering?? Kan lo bisa makan di kantin." Tanya Uta pada laki laki disampingnya. Wajar ia bertanya seperti itu, Alber bisa saja makan di kantin atau memilih opsi lain jika memang malas mengantri makan di kantin. Kenapa ia malah berpikir untuk catering masakan Ibu Ratu? Menu yang Ibunya masak merupakan menu masakan rumahan, dan bukanlah menu mewah layaknya di kantin Z1.
"Makanan di kantin menunya terlalu Western. Dirumah menunya, kalau gak Turki ya Western. Ngebosenin. Gue lebih seneng masakan nyokap lo. Menu Indonesia kaya rempah jadi gak bosen. Gue serius pengen catering Ta, tapi itu juga kalau lo sama Tante Celine gak keberatan." Ujar Alber sungguh-sungguh menyampaikan keinginannya. Ia memberikan alasan yang masuk akal bagi Uta. Sejatinya semua masakan dari berbagai negara itu lezat lezat saja, hanya saja terkadang masakan itu cocok cocokan.
"Hemh ... Gue enggak bisa janji, tapi minimal gue tanyain ke Mamah." Jujur awalnya Uta ingin menolak permintaan Alber. Tapi entah karena terpengaruh alasan yang Alber berikan atau mungkin karena tak enak hati menolak, akhirnya hanya itu solusi terbaik yang bisa Uta tawarkan. Minimal ia akan jadi jembatan, dari niat Alber ke Mamahnya.
"Thank you Ta." Senyum bertengger lebar di wajah tampan Alber. Mereka melanjutkan santap siang mereka, sebelum bel tanda masuk berbunyi. Uta hanya geleng-geleng melihat kotak bekal makanannya benar-benar bersih. Alber benar benar memakannya sampai habis. Seperti yang dia bilang, ia memang benar-benar suka dan bukan sekedar pencitraan semata.
..._____________ Z _____________...
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Uta sudah selesai belajar dan menyelesaikan PR hari ini. Tama masih sibuk berkutat dengan print mengeprint tugas sekolah di kamarnya. Teringat pembicaraan dirinya dan Alber tadi, perihal keinginannya catering bekal dari Mamah Celine.
__ADS_1
Uta memutuskan untuk turun ke lantai bawah, biasanya Ibu Ratu sedang asik merekap pesanan atau pengeluaran belanja. Dan benar saja, beliau baru selesai dengan kertas-kertas dan kalkulator andalan sepanjang masa.
"Ngapain Mah?" Tanya Uta melihat Mamahnya sedang mengurutkan kertas pesanan catering berdasarkan tanggal.
"Ini Mamah masih ngerekap pesanan. Alhamdulillah tiap hari ada aja yang pesen." Ujar Ibu Ratu tersenyum lembut memberitahu progres usaha beliau, yang semakin berkembang. Memang Tuhan maha kaya, meski diluar sana ada jutaan penjual makanan, tetap saja rejeki tak akan kemana. Selama ada usaha dan kerja keras, ada saja rejeki yang datang menghampiri.
"Alhamdulillah Mah, pegawai mesti ditambah gak Mah?" Tanya Uta pada Ibu Ratu, semata-mata khawatir beliau kelelahan karena mengerjakan pesanan catering. Sejauh ini beliau hanya punya 4 orang karyawan yang membantu untuk menyelesaikan pesanan orang orang, itupun terbagi dalam 2 shift. 2 karyawan shift pagi dan 2 laninnya shift siang.
"Untuk sekarang enggak dulu, lagi pula nggak mudah mencari pegawai rajin dan jujur. Mamah juga cuman ambil pesanan yang sekiranya bisa dikerjain. Mamah nggak ambil semuanya Ta. Ngomong ngomong kamu turun ke bawah belajarnya udah selesai?" Ibu Ratu berusaha menjelaskan ke putri semata wayangnya itu. Lagian menurut beliau merekrut karyawan bukan perkara gaji saja, yang paling penting adalah chemistry alias kecocokan.
"Udah Mah, PR nya juga udah selesai dikerjain. Mah, Uta boleh nanya sesuatu nggak?" Ucap Uta mulai masuk ke inti dari perbincangan ini.
"Apakah itu?" Seperti biasa Ibu Ratu adalah Mamah paling gokil. Beliau selalu bisa tenang plus santai merespon anak anaknya. Uta sempat tersenyum, karena jawaban santai Mamahnya.
"Siapa Ta? Reta? Edgar?" Tanya Ibu Ratu penasaran, tumben tumbenan anaknya itu bertanya begitu. Ditatapnya putrinya itu dengan tatapan lebih condong ke kepo alias ingin tahu.
"Bukan Mah. Bukan Reta atau Edgar, tapi ... tapi Alber." Ucap Uta jujur ke Mamahnya. Mamah Celine terdiam sesaat, mencoba mengingat satu persatu teman teman anaknya.
"Alber teman kamu yang kemarin kesini?" Ibu Ratu mencoba mengonfirmasi langsung. Uta mengangguk pertanda iya.
"Kenapa Alber mau catering segala Ta? Catering kita kan makanan rumahan yang lauk lauknya sederhana. Mamah lihat lihat Alber itu dari keluarga berada. Apa Alber gak apa apa kalau menunya sederhana?" Ucap Ibu Ratu memberitahu Uta tentang ke khawatirannya. Uta sudah memprediksi pertanyaan ini akan terlontar. Itulah sebabnya ia bertanya hal yang sama pada Alber tadi.
"Uta juga nanya ke Alber sama persis seperti Mamah. Tapi Alber bilang, dia bosan hari hari selalu makan menu Turki atau Western. Masalahnya di kantin juga emang selalu nyediain menu barat. Cuman hari Rabu yang ada menu Indonesianya. Masakan Mamah kan menu Indonesia seringnya, jadi Alber pengen catering bekal ke Mamah." Jelas Uta alasan Alber ingin catering ke Mamahnya.
__ADS_1
"Ya udah Uta tanyain aja dulu ke Alber, apa gak apa-apa kalau bekalnya sederhana. Kalau dia enggak keberatan, ya Mamah oke aja. Toh cuman nambah masak 1 porsi tiap harinya, ya gak akan berat. Itungannya sekalian lah." Jawab Mamah Celine memberikan jalan tengah terbaik. Uta mengiyakan saran Ibunya tersebut. Setidaknya dia sudah menjalankan fungsi jembatan yang ia tekadkan tadi, dan sekarang ia sudah mengantongi jawaban Mamah Celine. Tinggal memastikan jawaban Alber untuk hasil akhir.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND