Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
193. Kabar Bahagia


__ADS_3

Author POV


Dihari merdeka ini, rumah Uta dan Alber tampak semarak. Hawa-hawa kemerdekaan terasa sekali dipenjuru rumah. Terlebih saat mereka sekeluarga menonton siaran langsung upacara pengibaran bendera di Istana Negara. Semua langsung hening menyaksikan pasukan pengibar bendera pusaka atau disingkat Paskibraka Nasional beraksi.


Pasukan khusus yang selalu dinantikan setiap tahun ini memiliki formasi 17-8-45. Angka 8 menggambarkan jumlah pasukan inti pembawa bendera. Lalu pasukan pengiring terdiri dari 17 orang, dan pasukan pengawal terdiri dari 45 orang. Jumlah ini merupakan simbol tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni 17-8-45 atau 17 Agustus 1945.


Meski bukan mereka yang mengibarkan, tapi rasa deg-degan itu menular kesemua yang menyaksikan. Bahkan ketegangan itu sampai dengan titik terakhir tim Paskibraka berhasil menyelesaikan tugas berat yang diemban.


"Wow keren-keren. Bangga banget aku lihatnya." Ucap Uta bertepuk tangan.


"Parah, gak ada obat ini sih." Timpal Syiba yang juga takjub.


"Keren banget." Ucap Annem bahkan sampai terharu melihatnya.


"Mereka selalu keren dari tahun ke tahun." Ucap Babam bangga melihat kekompakan tim hebat itu.


"Nah gimana sekarang kita ke acara selanjutnya." Ujar Uta berinisiatif.


"Maksudnya?" Tanya Syiba.


"Lomba timeeeeeeeeeee.". Ucap Uta semangat.


..._____________ Z _____________...


"Ayok ... Ayok ... Uta ... Uta ... Uta." Teriak Annem dan Syiba mendukung Uta melawan Alber dalam lomba memasukkan pensil kedalam botol.


Keluarga besar yang harmonis itu hari ini benar-benar kompak menjalani lomba-lomba yang sudah Uta dan beberapa ART siapkan dari kemarin. Mulai dari lomba makan kerupuk, lomba balap kelereng, lomba memasukkan benang ke dalam jarum, lomba tebak gerakan, lomba balap bakiak, dan masih banyak lagi.


"Yeeeyyyy!!!" Teriak Uta saat pensilnya berhasil masuk deluan ketimbang Alber.


"Best, mantu Annem memang best." Annem paling sumringah saat Uta berhasil menang.


"Alber Syargan Farabaks huuuuuu." Ledek Syiba yang senang adiknya kalah.


"Wah parah. Baru juga kalah satu game yah" Ujar Alber membela diri, membuat semuanya tertawa geli. Sedari tadi memang Alber tak pernah kalah.


"Wkwkwkwkw..." Semua tertawa tanpa terkecuali."


"Sudah-sudah, sekarang kita makan tumpeng, gimana?" Tanya Babam sudah tidak sabar. Semua lantas setuju dan masuk kedalam.


Dimeja makan sudah tertata rapi nasi tumpeng dengan lauk beragam yang menggugah selera. Dengan ramah Uta mengambilkan nasi tumpeng buatannya kepiring Babam, Annem, Tibar, Syiba dan Alber suaminya. Barulah dirinya yang terakhir ia siapkan.


Uta langsung duduk, karena sudah ngiler melihat lauk-pauk yang ada dipiringnya. Namun entah mengapa baru sesuap yang masuk, Uta mendadak mual. Ia buru-buru meninggalkan tempat duduknya dan berlari ke toilet, sambil menutup mulut rapat-rapat dengan tangan.


"Sayang?" Alber yang kaget, langsung menyusul Uta ke toilet.


"Sayang kenapa?"


"Hueeekk ... Hueekkkkk ... Sayang please jauh dulu. Akunya lagi muntah, jorok." Pinta Uta menyuruh Alber agar kembali saja ke meja makan.


"Sayang apa yang sakit? Jangan-jangan kamu kecapean, dari kemarin kamu sibuk banget." Bukannya pergi meninggalkan Uta, Alber malah mendekat dan memijat pelan punggung atas Uta, tanpa ada perasaan jijik sedikitpun.


"Gak tau juga, kayaknya aku masuk angin."


"Uta are you okey?" Tanya Syiba yang juga khawatir.


"It,s okey kak, cuman mual dikit." Jawab Uta.


"Alber coba kamu ambilin air hangat sekarang." Perintah Annem yang juga ikut menyusul menantunya.

__ADS_1


"Iya An." Alber menurut dan langsung menuju dapur.


"Gimana perut kamu Ta? Apa sakit?"


"Enggak An, cuman mual aja sedikit."


"Sayang Annem mau tanya. Kapan terakhir kali kamu mens?" Tanya Annem tiba-tiba.


"Terakhir ... ehm ... Kapan ya? Uta gak ingat An."


"Uta tunggu disini sebentar." Annem pergi meninggalkan Uta dan Syiba. Beliau memanggil asistennya dan membisikkan sebuah perintah untuk dilakukan.


"Sayang ini minumnya." Alber datang membawakan segelas air hangat yang langsung diminum Uta pelan-pelan.


"Terima kasih."


"Gimana? Udah enakan belum? Aku telponin dokter ya." Ucap Alber.


"Gak usah, nanti aja." Uta menggeleng. Menurutnya ini hanya hal sepele, tidak perlu sampai menelpon dokter segala.


"Tapi sayang ..."


"Alber, perut Uta lagi gak enak, tolong kamu beliin nasi putih dirumah makan terdekat. Dirumah gak ada nasi putih yang dimasak. Nasi tumpeng di meja makan itu mengandung santan, bisa bikin tambah mual. Tolong ya." Titah Annem usai kembali ke dalam kamar mandi.


"Tapi An, Alber mau temanin Uta. Gimana suruh bibi aja yang beli." Tolak Alber yang tak rela disuruh pergi.


"Enggak. Harus kamu yang beliin. Ayok buruan. Kasian Uta perutnya kosong."


"Udah ah, ayok abla temenin beli. Buruan ayok." Syiba menarik lengan Alber.


"Sayang aku pergi bentar ya." Ucap Alber mencium kening Uta sebelum pergi.


"Hati-hati." Jawab Uta sedikit lemas. Selepas Alber pergi, langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi.


"Maksudnya An?"


"Udah Uta ikutin ucapan Annem. Annem mau pastiin sesuatu nanti." Ucap Annem tak bisa dibantah. Uta lantas berjalan masuk ke toilet dalam, terdengar suara percikan air dari balik bilik toilet.


"Udah?" Tanya Annem saat Uta muncul membawa botol berisi urine.


"Tapi buat apa An?"


"Siniin botolnya, kita test pack dulu." Jawab Annem tanpa keraguan.


"Annem?" Uta tertegun saat tau ia akan di testpack. Seketika timbul kekhawatiran dalam benaknya. Bagaimana kalau hasilnya tak sesuai harapan? Ia khawatir suami dan mertuanya akan kecewa.


"Gak usah khawatir gitu sayang. Kita cuman mastiin aja. Kalau positif, syukur. Kalau negatif juga gak apa-apa, berarti belum rezeki. Lagian Alber barusan Annem suruh pergi. Jadi tenang aja." Ucap Annnem menenangkan Uta yang terlihat jelas sedang cemas.


Annem lantas menyuruh Uta untuk duduk dulu, sementara dirinya langsung yang akan mengecek urine Uta dengan testpack. Uta benar-benar merasa lemas karena khawatir sekarang. Dirinya hanya menunduk dan tak berani melihat Annem sedang apa.


"Sayang..." Panggil Annem ditengah kegundahan Uta.


"Peluk Annem." Annem merentangkan kedua tangannya. Perlahan Uta mendekat dan memeluk mertuanya.


"Annem Uta takut." Ucapnya jujur apa adanya.


"Selamat sayangku."


"Maksudnya An?"

__ADS_1


"Selamat, Alber junior ada disini." Ucap Annem mengelus lembut perut Uta.


"Annem??" Mata Uta membulat penuh tanda tanya?


"Look." [Lihat.] Annem memperlihatkan testpack yang barusan ia uji.


"Annem ..."


"Selamat sayang."


"Annem ..." Uta kembali memeluk mertuanya erat-erat.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Annem... ? Kenapa pintunya dikunci segala sih?" Suara Alber memecah pelukan mertua dan menantu.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Sayang kamu gak apa-apa kan? Annem buka pintunya An." Ucap Alber menuntut pintu segera dibuka. Ia langsung terdiam ketika pintu dibuka dan Uta berdiri di hadapannya.


"Alber ..." Panggil Uta lirih.


"Sayang kenapa nangis? Mana yang sakit? Kita panggil dokter sekarang ya." Tanya Alber panik. Diraihnya wajah Uta memastikan istrinya tak kenapa-napa. Uta menggeleng, mengatakan ia baik-baik saja.


"Sayang, ini ..." Uta menyerahkan testpack miliknya kepada Alber. Alber meraih benda kecil itu dengan ekspresi bingung. Ditatapnya dengan teliti benda apa yang Uta berikan.


"Ini ... Garis dua ini ..." Matanya membulat melihat Uta dan alat testpack bergantian. Dirinya masih berusaha mencerna apa yang terjadi.


"Kamu ... Di..disini a..ada bayi kita?" Tanyanya dengan penuh harap. Uta yang ditanya, akhirnya menjawab Alber dengan mengangguk ditengah air matanya yang semakin deras.


"Really?" Tanya Alber yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Ya." Jawab Uta menatap Alber dalam.


"Uta, sayang ..." Alber langsung memeluk Uta seerat-eratnya. Air matanya tumpah seiring rasa bahagia yang menyelimuti perasaannya.


"Alhamdulillah ya Allah. Oh my God, terima kasih sayangku." Diciumnya Uta berkali-kali. Wanita yang sangat ia cintai sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya.


Annem, Babam, Syiba dan Tibar yang berdiri tak jauh dari sana juga bisa ikut merasakan kebahagian Uta dan Alber. Mereka ikut terharu dan meneteskan air mata.


"I love you. I love you with all of my heart. You and our baby." [Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Kamu dan bayi kita.]


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman. Banyak kabar bahagia yang kami bawa di hari kemerdekaan ini. Selain kabar bahagia tentang Alber Junior, kami juga membawa kabar bahagia lainnya.


Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.






Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.

__ADS_1


Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa


❤ ZEROIND


__ADS_2