Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
144. Mereka Cocok Sekali


__ADS_3

Uta POV


Hari demi hari kulewati tanpa Alber, hingga wisuda kelulusan Z1 angkatanku digelar. Hari-hari kemarin Alber yang selalu mengisi keseharianku, kini hilang tanpa jejak. Aku hampir tak pernah lagi berpapasan dengannya. Satu-satunya momen aku bisa melihatnya, hanya ketika upacara bendera dan wisuda hari ini.


Alber begitu tampan dengan balutan jas formal warna navy. Ia dikelilingi keluarga yang begitu kompak dan saling support satu sama lain, mengingatkanku kembali masa-masa aku masih bekerja disana. Mereka keluarga yang sangatlah hangat dan saling mengisi.


Aku sempat menyapa keluarga Alber saat laki-laki itu tak disana. Tak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin menghormati keluarga yang pernah membantuku dengan menerimaku bekerja disana. Cukup hubungan baik ini terputus pada seorang Alber, jangan melebar ke yang lain.


Tanpa tau apa yang kulakukan pada putranya, Annem Babam serta Kak Syiba dengan ramahnya menyapa Mamah dan Tama, membuatku tersentuh dengan keluarga humble ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga baik ini.


Di wisuda kali ini, Alber kembali menorehkan prestasi dengan menyabet gelar siswa lulusan terbaik Z1. Ia juga mendapat penghargaan, siswa dengan nilai tertinggi ujian nasional. Beragam prestasi saat mewakili Z1 dalam perlombaan juga melengkapi torehan prestasi yang ia punya. Pencapaian luar biasa dari seorang Alber Syargan Farabaks.Dan karena itu, aku ikut bangga padanya.


Aku tak kalah bangga dengan Reta yang menyusul ketat perolehan akademik yang Alber punya. Reta menyabet nilai terbaik di urutan kedua. Prestasi yang ia punya pun tak kalah mentereng. Berbagai perlombaan mewakili Z1, juga sudah ia catat dalam sejarah sekolah ini.

__ADS_1


Edgar juga begitu. Meski bukan di bidang akademik, Edgar berhasil mengukir sejarah dalam bidang basket. Dalam rentang Edgar bergabung di tim basket sekolah, Z1 berhasil juara di 3 tahun beruntun dalam skala nasional. Edgar juga menyabet penghargaan Most Valuable Player (MVP) di 3 musim berturut-turut, melewati raihan seorang Felix Dwinson. Penghargaan yang paling diidam-idamkan setiap pemain basket. Edgar benar-benar menunjukkan prestasi di bidang yang ia cita-citakan sedari kecil.


Aku juga tak kalah bangga dengan Seto. Di tahun ini, ia berhasil mewujudkan ucapannya tahun lalu. Seto yang tahun lalu mengatakan akan menggantikan Alber tampil bermain piano, hari ini berhasil mewujudkannya. Ia bahkan sengaja memanggil guru les piano dan berlatih sungguh-sungguh selama 2 bulan. Meski sorak-sorai penonton lebih kepada penyanyi atau pengisi acara yang ia iringi, Seto tetap pede sorak-sorai itu tertuju pada dirinya seorang. Dan aku bangga dengan tingkat kepedean itu. Luar biasa. Bravo Seto. Teruskan!


Tibalah di sesi foto bebas. Aku berfoto bersama keluarga besar Reta, Edgar, Seto dan Sandi. Puas dengan hasil foto itu, aku berinisiatif mengajak Mamah dan Tama pulang, karena tampaknya Mamah dan Tama sudah lelah duduk berjam-jam. Namun niat itu mendadak lenyap, karena Annem memanggilku untuk berfoto bersama.


Kutatap Alber sesaat, namun pandangan itu segera ia putus. Meski tak ada sorot penolakan di sana, namun entah mengapa hatiku terasa nyilu. Annem yang melihatku masih berdiri diam, buru-buru menarikku mendekat. Annem menata setiap orang berdiri dimana, agar cantik saat difoto lensa kamera. Namun naasnya, Annem menyuruhku berdiri disamping Alber.


"Ayo mas foto, udah rapih ini. Senyum semua." Ucap Annem mengkomando grup dadakan bentukan sore ini.


"Cheese." Ucap Kak Syiba agar kami semua kompak tersenyum ceria. Ku paksakan bibir ini menampilkan sesuai instruksi yang ada. Rasa tak enak hati pada Alber dan keluarganya, terlalu hebat menguasai perasaanku. Tapi untunglah, kedua belah pihak keluarga tak menangkap kecanggungan yang terjadi.


Saat aku ingin mengucapkan selamat wisuda pada Alber, keluarga Ayleen datang. Formasi keluarga juga berganti untuk spot berfoto. Ayleen yang tampil super cantik bak supermodel dunia, dengan alaminya melingkarkan tangannya dilengan kokoh Alber. Alber yang digandeng seorang Ayleen, tampak tak ada penolakan. Mereka benar-benar sangat serasi.

__ADS_1


Karena tak ingin mengganggu acara dua keluarga itu, aku kemudian pamit pulang pada Annem dan keluarga. Annem sempat menawari kami untuk diantar supir saja, namun mati-matian kutolak sehalus mungkin. Aku, Mamah dan Tama turun dari panggung dan berjalan pulang.


"Itu pacarnya Bang Alber ya Kak? Cantik banget yah, cocok euy." Ujar Tama sambil cengengesan.


Ya mereka cocok sekali. Selamat Ayleen Alber. *Uta


Bersambung .............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2