![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Iya, lucu banget Lele. AAWWWHH ...!!!" Ayleen yang sedari tadi memuji dan mengelus Lele, mendadak tangannya digigit oleh Lele.
"Aunty, are you oke?" Tanya Putri khawatir, karena ini pertama kalinya Lele menggigit.
Marmut sial*n!!! Kalo bukan karna sepupunya Alber, udah aku tendang kamu. *Ayleen
"Luka gak Ay?" Tanya Annem khawatir.
"Auntie gak apa-apa sayang. Ayleen gak apa-apa Aunty. Ayleen cuman kaget aja." Ujarnya dengan senyum, agar Annem dan Putri tak khawatir.
"Syukurlah." Ucap Annem lega.
Kata 'sebentar' dari Alber, rupanya menjelma dalam 20 menit kemudian. Laki-laki itu baru turun dari kamarnya, setelah hampir setengah jam berlalu.
"Hai Ber." Sapa Ayleen dengan melempar senyum semanis mungkin.
"Hai. Sorry banget, aku tadi banyak kerjaan, ada beberapa proyek yang harus segera di evaluasi." Jawab Alber sekedar menyapa ala kadarnya.
"Gak papa Ber. Maaf ya, kalo aku ganggu kamu." Ujar Ayleen dengan wajah dibuat seolah tak enak, karena sudah mengganggu Alber bekerja.
"Gak ganggu sama sekali. Lagian aku mau keluar sekarang." Ujar Alber, membuat Ayleen sedikit kaget.
"Alber pergi dulu An, mau antar Lele ke dokter hewan." Ucap Alber meraih tangan Annem, untuk meminta izin keluar.
"Emang harus sekarang? Baru juga turun." Ujar Annem, karena merasa sedikit tak enak dengan Ayleen.
"Udah jadwalnya An." Jawab Alber tetap pada keinginannya.
__ADS_1
"Ya udah, hati-hati. Ayleen mau ikut Alber sama Putri?" Ujar Annem mencoba menawarkan. kali-kali saja Ayleen ingin ikut, semata-mata mengurangi rasa ketidak nyamanan di sini.
"Ehm ... Enggak deh Aunty. Ayleen disini aja." Ujar Ayleen menolak tawaran itu. Ia tentu akan langsung bersedia ikut, jika pergi hanya dengan Alber. Tetapi sekarang kondisinya berbeda. Ada Putri dan lebih khususnya ada Lele. Ayleen yang memang tak suka dan benci hewan, tentu tak akan mau bersama-sama dengan mereka dalam satu mobil.
"Yok Put, kita anter Lele ke dokter hewan. Udah jadwalnya hari ini." Ujar Alber pada Putri. Ia memasang wajah poker face, meski dalam hati ia tersenyum lebar. Alber tahu Ayleen pasti akan menolak, sebab ia tahu pasti, bahwa Ayleen yang tak menyukai hewan.
"Yabel, Yabel benal. Lele ayok, kamu halus cek-cek ke doktel. Oke Lele." Ujar Putri bangkit dari sofa. Ia menggendong Lele, lalu salim ke Annem dan Ayleen, baru kemudian menyusul Alber menuju si hitam di depan rumah.
..._____________ Z _____________...
Si hitam melaju menuju klinik dokter hewan Lele biasanya. Alber memutarkan lagu anak-anak agar Putri enjoy, selama di perjalanan yang padat merayap ini.
"Yabel, you know what?" Ucap Putri yang sedari tadi asik melihat jalan dan sekitar.
"About?" Tanya Alber balik. Sekilas dilihatnya bocah kecil di sampingnya, yang ternyata juga melihat ke arahnya.
"Putli senang, auntie Ayleen gak ikut kita antel Lele ke doktel." Ucap Putri membuat Alber sedikit kaget, karena pernyataannya barusan.
"Soalnya, auntie Ayleen gak suka sama Lele." Jawab Putri sembari menatap Lele yang sedang ia pangku. Dielusnya Lele lembut, menggambarkan sesayang itu ia pada Lele.
"Kenapa Putri bisa mikir begitu? Bukannya tadi auntie Ayleen sempet mengelus-elus Lele?" Tanya Alber spontan, sebab tadi ia sempat melihat Ayleen mengelus Lele, saat di pangkuan Putri.
"Benal, tapi Putli tau auntie Ayleen gak suka sama Lele." Ucap Putri lagi, benar-benar merasakan perasaan Ayleen yang sesungguhnya terhadap Lele.
"Kok bisa tau? Perasaan Yaber, Tuta juga gak pernah pegang Lele loh." Tanya Alber pura-pura tak mengerti. Ia juga menarik Uta sebagai contoh sebaliknya.
"Tuta gak pelnah pegang Lele, soalnya Tuta takut. Tapi Putli tau, Tuta sayang Lele. Auntie Ayleen tadi elus-elus Lele, tapi Putli tau, Auntie Ayleen gak sayang Lele." Ucap Putri yakin. Membuat Alber yang mendengarnya tersenyum. Anak kecil saja tau mana orang yang tulus, pikirnya.
..._____________ Z _____________...
__ADS_1
Author POV
Tampaknya Ayleen pantang menyerah untuk mendekati Alber. Ia kembali datang hari-hari berikutnya, dengan alasan ingin bermain dengan Putri sekaligus bertemu Alber. Alber yang semakin hari semakin cuek padanya, membuat Ayleen mencari cara yang beragam, untuk mengambil perhatian Alber.
Mulai dari membawakan berbagai macam makanan kesukaan Alber. Membelikan baju yang sekiranya cocok, dan Alber akan terlihat tampan jika memakainya. Hingga dari hari ke hari, pakaian yang ia kenakan semakin lama semakin minim saja. Bahkan Annem saja yang demokratis, terlihat sedikit agak risih.
Alber, jangan ditanya. Ia benar-benar merasa risih, melihat Ayleen seperti itu. Bahkan dirinya mulai ilfeel, dengan wanita yang dulu ia kagumi. Alber merasa Ayleen tak cukup pintar menempatkan diri saat ini. Mungkin gadis itu berpikir, kota ini sama seperti Bali, pikir Alber. Kalau di Bali sih, pakaian begitu orang masih maklum. Tapi disini, tentu tidak. Memangnya situ lagi di pantai, pikir Alber.
Alber melakukan berbagai cara, agar tak terlalu sering berinteraksi dengan gadis itu. Dan bocil lah penyelamat dirinya. Ada saja alasan yang bisa ia lontarkan, mulai dari sibuk, ia harus ke proyek, sampai ia mengajak bocil bersama Lele berkeliling naik si hitam. Semua itu semata-mata untuk menjaga jarak dengan Ayleen.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND