![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Alhamdulillah Tuta udah datang." Ujar Syiba sumringah melihat kedatangan Uta. Ekspresi lega terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Tuta. Tuta Ciba kasih tau ya, ada yang lagi berantem loh, tau gak Tuta." Ujar Syiba terkesan seolah mengadu, saat melihat Uta memasuki ruang nonton keluarga. Sengaja suara ia keraskan, agar Tom and Jerry yang sedang berseteru mendengar pengaduannya.
Syiba juga memberikan kode dengan wajahnya, agar Uta berkomunikasi dengannya dalam dunia anak-anak. Akhirnya Uta mengerti, kenapa Syiba menggunakan kata 'Ciba' barusan.
Ciba adalah panggilan Putri kepada Syiba, sama halnya seperti Putri memanggil Alber dengan sebutan Yaber, semua itu semata-mata karena Putri masih belum lancar bicara sepenuhnya.
"Kenapa berantem Ciba?" Jawab Uta mulai masuk dalam skenario dunia anak-anak. Putri yang sedang ngambek tengkurap di atas sofa, sementara Alber yang membujuknya duduk di karpet tepat di samping sofa di mana Putri tengkurap. Nampaknya, Alber masih belum berhasil meluluhkan hati Putri.
"Gak tau Tuta, dua duanya gak ada yang mau cerita. Ciba bingung, coba deh Tuta yang tanya." Ucap Syiba lagi, yang duduk manis di sofa sampingnya lengkap dengan ekspresi bingung putus asa, benar-benar menghayati skenario yang berjalan. Uta mulai menjalankan misinya. Ia berjalan mendekati Putri dan duduk di sofa tempat Putri tengkurap, yang mana artinya, dia duduk sedikit berhadap-hadapan dengan Alber yang duduk di karpet.
"Kenapa sih? Tumben banget anak gemas ini cemberut Tutanya datang. Anak kesayangannya Tuta biasanya tuh, senyum kalau Tutanya datang. Kenapa sih?" Ucap Uta menepuk-nepuk pelan kaki Putri. Bocah itu tengkurap menyembunyikan wajahnya, karena sedang mengambek.
"Tuta ... Putli senang Tuta datang, tapi Putli lagi malah." Ucap Putri masih dalam posisi tengkurap dan menyembunyikan wajahnya.
"Marah sama Tuta?" Tanya Uta pura-pura tak tahu, sekaligus mencoba mengulik pada siapa sebenarnya Putri marah dan apa penyebabnya.
"Bukan sama Tuta, tapi sama Yabel." Ucap Putri lagi, kali ini ia mengangkat sedikit kepalanya, hingga wajah yang ia sembunyikan sedari tadi sedikit terlihat. Namun seusai memberitahu kepada siapa dirinya marah, ia kembali ke dalam posisi tengkurap dengan wajah disembunyikan.
"Nah kan udah pasti Yaber, gak mungkin Ciba." Ucap Syiba lagi mendukung statement Putri. Alber yang sudah tersudut, hanya bisa menarik nafas panjang.
"Memangnya Yabel ngapain Putri sayang? Coba cerita sama Tuta, Tuta pengen dengar kenapa." Ucap Uta pelan, membujuk Putri agar bocah kecil itu mau cerita.
Perkataan Uta rupanya berhasil menyentuh perasaan Putri. Perlahan lahan bocah kecil itu bangkit dari posisi tengkurap dan duduk menghadap Uta. Tampak sedikit bekas air mata yang mengering, di area mata dan pipi gembulnya.
__ADS_1
Uta senang karena Putri merespon permintaannya dengan bangkit dan duduk menghadap dirinya, dielusnya kepala dan pipi gemas bocah kesayangannya itu. Tak lupa, dilapnya jejak jejak air mata yang tersisa.
"Yabel usil, Yabel ngabisin cookies Putli." Ucap bocah kecil itu, mengadu ke Uta dengan suara yang begitu polos. Uta menahan rasa gemasnya dan benar-benar menyimak apa yang bocah lucu itu katakan.
"Masa sih habis sayang? Yabel cuman nyicip dikit kali." Ucap Uta menanggapi aduan dari Putri barusan. Uta tetap berusaha menghargai perkataan Putri, namun mencoba memberikan perspektif lain.
"Tuta no .. no .. Yabel habisin semua cookies punya Putli. Waktu Putli mau makan cookies pagi pagi, toples cookies Putli kosong Tuta. Putli malah Putli." Ucapnya sambil menggeleng, pertanda apa yang terjadi bukan seperti apa yang Uta katakan barusan.
"Yaber ...! Bener Yaber habisin cookies Putri?" Tanya Uta kepada terduga pelaku, lengkap dengan sorot mata tajam mengintrogasi.
"Benar. Tapi ..." Jawab Alber membenarkan, tetapi sekaligus ingin menyanggah. Namun sanggahan itu terpotong lebih dulu.
"Tuta benal kan kata Putli." Mendengar jawaban Alber, Putri langsung menegaskan kembali bahwa pernyataannya tadi adalah benar.
"Tapi ini salah paham. Yaber punya alasan." Ucap Alber, melanjutkan omongannya yang terpotong tadi.
"Sabar sabar ... Tuta kan tadi udah dengar cerita dari Putri, sekarang boleh gak Tuta dengar dulu penjelasan dari Yaber. Biar adil, boleh?" Uta sebijak mungkin membujuk Putri, untuk mendengar terlebih dahulu penjelasan dari sisi Alber.
Menurut Uta, Putri harus dibiasakan sejak kecil untuk mendengar dari dua sisi, karena bagaimanapun mendengar dari dua sisi jauh lebih baik ketimbang hanya dari sebelah pihak saja. Putri yang memang pada dasarnya hatinya baik pun, mengangguk mengiyakan bujukan Tutanya tersebut.
"Nah sekarang Yaber jawab jujur, kenapa Yaber habisin cookiesnya Putri? Kan kemarin Tuta sudah bagi, masing-masing 2 toples." Ucap Uta mengintrogasi Alber dengan masih menggunakan konsep dunia anak-anak. Kini semua mata tertuju pada Alber si tertuduh.
"Yaber ngaku, emang Yaber yang ngabisin cookies nya Putri tadi pagi. Tapi ini semua ada sebabnya. Hala kemarin kan pulang kerumah sama temen Hala rame-rame. Terus Hala sama teman-teman Hala cemilin cookies punya Yaber sama punya Putri. Pas besoknya pagi-pagi Yaber lapar, cookies yaber udah habis. Akhirnya Yaber comot cookies Putri, tapi memang udah tinggal dikit. Beneran deh, Yaber gak bohong." Ucap Alber memberi penjelasan dan pembelaan dirinya sebagai terlapor.
"Nah berarti Hala salah, tapi tetep Yaber juga salah." Ujar Syiba menyimpulkan hasil dari cerita Alber. Uta melirik ke arah Putri, bocah kecil itu nampaknya mulai luluh, seusai mendengar penjelasan dari Yabernya.
"Ya udah kalo gitu maafan dulu." Ucap Uta yang merasa ini timing yang pas, mengajukan bendera damai.
__ADS_1
"Yabel, Putli minta maaf ya sudah tuduh Yabel." Diluar dugaan Putri yang terlebih dahulu meminta maaf.
"Yaber juga minta maaf sama Putri ya. Please Putri jangan marah lagi sama Yaber, oke?" Alber juga langsung meminta maaf secara tulus pada Putri.
"Oke ... Yabel oke." Jawab Putri sudah dengan sebuah senyum lebar. Sirna sudah segala kemarahan pada diri bocah kecil itu. Alber merentangkan tangannya agar Putri memeluknya. Dan benar saja, bocah kecil itu langsung turun memeluk Yaber kesayangannya. Alber yang gemas mencium pipi gembul Putri berkali-kali, sampai sampai Putri tertawa karena geli. Uta dan Syiba yang melihat Tom and Jerry sudah berdamai, ikut tertawa senang.
"Good girl. Nah karena udah maafan, Tuta bakal bikinin lagi palm cheese cookies yang baru buat Putri, plus cookies lidah kucing kesukaan adiknya Tuta, mau?" Ucap Uta berinisiatif untuk membuat ulang palm cheese cookies yang tadi menjadi sengketa.
"Tuta mau Tuta. Horeee!!!." Ucap Putri kegirangan. Bocah kecil itu bahkan sampai malompat-lompat senang.
"Tapi ada syaratnya. Putri sama Yaber juga harus bantuin Tuta bikin cookies nya. Deal?" Ucap Uta mengajukan syarat penawaran.
"Deal." Bocah gemas itu melepas pelukan Alber dan berlari memeluk Uta. Putri bahkan gantian gemas pada Uta, ia mencuim pipi chubby Uta. Dua orang dengan pipi chubby itu menatap Alber, karena menunggu jawaban dari Alber sebagai syarat gotong royong membuat cookies.
"Deal." Jawab Alber yang memang tak punya pilihan selain setuju.
"Ciba yang paling deal, karena Ciba tinggal nyicip kalau udah mateng. Ah senengnya dibikinin cookies enak. Wkwkwkw." Syiba puas tertawa karena di sini dialah pihak yang paling di untungkan.
GUBRAK!!!
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
__ADS_1
ZEROIND