Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
132. Trauma di Ingatan


__ADS_3

Lanjutan Flashback


Alber POV


Kami berpindah dari area satwa burung ke depan kandang harimau. Pandangan Uta dan Putri begitu tersita dengan si harimau. Berbeda dengan pandanganku, yang begitu tersita oleh gadis dasi.


Ya, diam-diam aku memperhatikannya. Sisi baru dirinya yang lagi-lagi kulihat. Benar kata Putri, Uta memang takut akan hewan, tapi ia tidak sampai di level membenci hewan-hewan itu. Kalau mau ditilik lebih dalam lagi, masihlah ada secercah rasa sayang pada ciptaan Tuhan itu.


Saat asik memandangi gadis dasi, samar-samar kudengar Putri mengatakan bahwa, aku strong dan mampu melawan harimau. Segera kuluruskan hal itu dengan mengatakan, aku pun akan lari jika harimau datang menerjang. Mereka sontak tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Kami bertiga tertawa di depan kandang harimau. Satu kenangan manis yang akan selalu kusimpan rapih.


Perjalanan beralih menuju kawasan pusat primata di Ragunan Zoo. Kami berjalan di sebuah jembatan yang suasananya mirip seperti di hutan nyata. Putri kembali heboh saat melihat gorilla sedang ada di bawah sana.


Melihatnya heboh sendiri, membuat mode jahilku kambuh. Kucium pipinya hingga ia tertawa kegelian. Kuhentikan mode jahilku itu, ketika aku sudah puas mendengar tawa renyahnya. Satu hal yang membuatku kaget, ia mengatakan bahwa gorilla lebih handsome daripada diriku. Uta tertawa terbahak-bahak, sementara aku terbengong diam.


Saat kami menyudahi petualangan di dunia primata, hidupku kembali di uji. Seorang ibu hamil dengan fashion dan dandanan yang luar biasa meriah menghampiriku. Ibu hamil itu menggandeng seorang anak, yang umurnya kemungkinan sama dengan Putri.

__ADS_1


Tapi bukan itu yang membuatku kaget. Keinginannya untuk menciumku sebagai bentuk rasa ngidam karena hamil itulah, yang membuatku terkejut bukan main. Tentu saja aku tidak mau. Terlebih saat ku melihat bibirnya yang merah-merah gonjreng, basah-basah gimana gitu. Membuatku semakin dan makin tidak mau.


Kuputar otak mencari cara untuk menolaknya. Melihat gadis dasi membuat sebuah ide tercetus di kepalaku. Kurengkuh pinggang gadis dasi agar menempel erat dengan tubuhku, selayaknya sepasang kekasih. Kukatakan pada si Ibu bahwa pacarku ini akan cemburu jika si Ibu menciumku.


Aku tahu ia sangat kaget dengan tindakanku yang tiba-tiba ini. Terbukti dengan kedua matanya yang benar-benar melotot menatapku. Kurasakan pergolakan badannya yang ingin mundur untuk mengurai jarak. Namun otot-otot lenganku, saat ini sangat pintar diajak bekerja sama. Gadis dasi tak sedikitpun dapat menghindar dari rengkuhan tangan ini.


Rupanya si bumil tak juga menyerah. Beliau yang percaya gadis dasi adalah pasanganku, kemudian mendatangi Uta guna meminta izin agar boleh menciumku. Ku berikan kode-kode kepada Uta, agar gadis itu menolak keinginan si Ibu.


Namun di luar dugaan, Uta malah mempersilahkan si Ibu menciumku. Si bumil yang pada awalnya meminta izin mencium hanya pipi kiriku, malah dipersilakan Uta untuk mencium pipi kiri dan kananku. Cobaan apa lagi ini??


Merasa mendapat persetujuan dari Uta, si Ibu lantas berpaling memandangku dengan tatapan buasnya. Melihat itu, tubuhku otomatis mundur guna menghindari si Ibu. Namun apa daya, kecepatan emak-emak tak bisa terkalahkan. Dalam sekejap kedua tangannya sudah memegang wajahku.


Muaacchhhhhh ..... Muaacchhhhhh .....


Bibir merah menyala yang basah itu, mendarat sempurna di pipi kiri dan kananku. Sensasi basahnya bahkan membuatku blank karena terlalu syok. Ciuman yang meninggalkan bekas merah di kedua pipiku, nampaknya juga berpotensi meninggalkan trauma di ingatanku.

__ADS_1


Pendengaranku jelas menangkap suara Uta yang terkekeh. Mungkin ia tak sampai hati menertawakanku kencang-kencang. Namun itu tidak berlaku pada Putri. Bocah itu puas tertawa ngakak sambil melihat ke arahku. Benar-benar si bocil.


Usai mendapatkan yang ia mau, si Ibu bukannya berterima kasih kepadaku melainkan beliau berterima kasih kepada Uta. Luar biasa. Ia bahkan mengajak anaknya untuk langsung pulang. Lelah berkeliling katanya.


"Seneng ya numbalin aku ...!" Ucapku pada gadis dasi yang masih asik melambaikan tangan, mengiringi kepergian si Ibu hamil dan anaknya. Sengaja ku ucapkan itu dengan intonasi rendah agar ia mengira aku sedang marah. Tak lupa kusetel wajah ini dengan ekspresi serius, sembari menyilangkan tangan di depan dada.


Dan benar saja. Seketika senyum yang sedari tadi terukir di wajah Uta pudar, berganti dengan ekspresi panik dan serba salah.


Flashback ends


Bersambung ..............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2