![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Hoaammmhhh ..." Uta yang baru bangun puas menguap panjang.
"Nikmatnya bangun siang." Ucapnya sambil meregangkan tubuhnya yang masih menempel, di atas kasur kesayangannya.
"Udah jam sebelas. W .. O .. W .. WOW!!!" Ia memang tidur sepuasnya sejak semalam, sampe dengan pukul 10:00 hari ini.
Hal itu bisa ia lakukan karena ia diberikan libur oleh Annem, sang ibu peri. Ditambah lagi ternyata kemarin malam ia baru tahu dirinya ternyata haid. Ini mungkin menjadi salah satu penyebab, ia begitu sensitif kemarin sore sampai memulai pertikaian receh segala.
Hormon kadang-kadang memang bisa jadi musuh dalam selimut, berubah tanpa bilang-bilang dulu. Orang otomatis jadi emosian tanpa sadar, karena terpengaruh perubahan hormon.
30 menit kemudian, ia sudah segar sehabis mandi. Memakai baju rumahan berbahan katun, sedingin daster. Rambut yang sudah rapi habis di keringkan, siap dikuncir.
Ia lalu turun ke bawah dan langsung menuju pada tudung saji. Perutnya sedari tadi sudah meronta-ronta demo, minta diisi. Saat tudung ajaib itu dibuka, dan JENG JENG. Harta karun kesukaan penghuni dunia sejagat raya, terhidang di sana.
Gadis itu bergegas mengambil piring dan nasi dari dalam rice cooker. Diambilnya sepotong ikan goreng bumbu kuning, tumis kangkung balacan, sambal goreng kentang hati, sambal bawang yang di ulek manual, oleh tangan dewa Ibu Ratu. Diraihnya toples kerupuk, sayangnya kerupuk tersisa tinggal satu-satunya.
"Eh, udah seger kesayangan Mamah satu ini. Nih, Mamah bawain peyek rebon kesukaan kamu. Baru digoreng sama Mbak Mela, jadi super crispy." Mamah Celine datang membawa harta karun lainnya. Tak lupa beliau mencium pucuk kepala, putri semata wayangnya yang sudah wangi sehabis mandi.
"Emang the best Ibu Ratu satu ini. Baru aja Uta tadi loyo kerupuk sisa satu, patah pula Mah, eh Mamah datang bawa peyek. Rejeki anak solehah emang." Ujar Uta dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Binar kebahagiaan terpancar, melihat peyek super crispy yang Mamahnya bawa.
"Kerupuk disikat Tama sarapan pagi tadi. Tau aja kan adekmu itu, ada kerupuk, sambel, kecap, ya jadi sudah. Setoples besar pun dia hantam." Oceh Ibu Ratu merepet.
"He .. he .. he .. Persis seperti Ibu yang ngomong ini." Jawab Uta malah sebaliknya.
"Gak yah, Mamah gak separah Tama." Tolak Mamah Celine, tak rela disamakan dengan Tama.
"Iya .. iya .. Tama yang paling parah emang." Jawab Uta, mengiyakan sambil terkekeh geli.
"Nah betul itu." Jawab Mamah Celine mantap.
__ADS_1
Selesai makan, Uta memilih membantu Ibu Ratu dan karyawan packing bolu gulung, dalam rangka menunggu isi perut turun. Salah seorang customer langganan Mamah, memesan dalam jumlah banyak, sekitar 150 kotak. Tergolong sultan memang, sebab ini sovenir untuk aqiqah.
Yang biasa di pilih kebanyakan orang antara mug, mangkok, handuk atau sekedar kipas tangan. Tapi ini beliau persiapkan bolu gulung aneka rasa dalam satu box, yang perkotaknya harganya lumayan. Tapi apapun itu, Uta dan Ibu Ratu bersyukur karena ada rezeki untuk mereka sekeluarga.
Kurang lebih 1 jam Uta kembali ke kamar, niatnya sih untuk belajar. Tapi saat melihat kasur niat itu berubah, dalam hitungan detik tubuh berisinya sudah mendarat di kasur yang empuk.
Putar musik enak nih.*Uta
Dirabanya permukaan tempat tidur, mencari-cari handphone. Memang benda itu sedari tadi malam tak ia sentuh. Uta benar-benar ingin menikmati hari liburnya. Leyeh-leyeh style.
Selama ini, dia merasa hari libur hanya bermakna tak ada aktivitas sekolah. Namun pandangan itu berubah, setelah ia mencicipi dunia kerja. Bekerja menjaga Putri setiap weekend, membuatnya tahu makna hari libur. Nikmat. Hanya itu kata yang bisa medeskripsikan, indahnya libur kerja.
Saat benda pipih persegi panjang sudah ditangannya, dilihatnya ada 4 panggilan tak terjawab dan puluhan pesan AppWhats.
Alber?Ngapain dia telp? *Uta
Uta tak menelpon balik, ia hanya berpindah ke bagian cek chat yang masuk.
[Kenapa kamu gak cerita?]*Alber
[Kenapa kamu gak kasih tau aku?]*Alber
[Kenapa gak dibalas?]*Alber
[Alber.]*Uta
[Maaf baru balas.]*Uta
[Aku baru lihat HP.]*Uta
[Baru lihat kamu ada telp aku.]*Uta
__ADS_1
[Kenapa?]*Uta
[Ada apa?]*Uta
Tak ada balasan dari Alber selama beberapa saat. Namun layar handphone Uta, tiba-tiba berubah. Alber menelponnya. Uta sempat ragu sesaat, namun akhirnya memilih untuk menekan tombol dial.
"Assalamualaikum. Halo?" Ucap Uta memberikan salam, saat panggilan tersambung.
"Walaikumsalam." Jawab Alber.
"Alber kenapa telpon?" Tanya Uta to the point.
"Kenapa kamu gak bilang, kalau hari ini gak ke rumah?" Tanya Alber juga tanpa basa basi. Terdengar nada suara tak bersemangat, seperti seorang Alber biasanya. Tapi Uta buru-buru menepis pikiran itu, mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.
"Aku libur jagain bocil, juga taunya baru tadi malam Ber. Annem nelpon, bolehin aku libur karena minggu besok ujian semester. Kenapa emang? Putri aman aja kan?" Jawab Uta mencoba menjelaskan, ia kemudian bertanya tentang bocil ke Alber, karena memang ada rasa sedikit khawatir perihal Putri. Takut bocah itu sepi tak ada teman.
"Putri aman." Jawab Alber singkat.
"Huhh ... Syukur deh kalo dia gak rewel." Ucap Uta, mengekspresikan kelegaan yang ia rasa.
"Kenapa cuman Putri yang kamu tanya?" Tiba tiba saja Alber berucap seperti itu. Uta yang mendengarnya seketika bingung.
"Hahh?? Maksudnya gimana? Emangnya aku mesti tanya apa lagi?" Ujarnya memastikan apa yang harus ia lakukan.
"Gak ada yang pengen kamu tanya tentang aku?"
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND